Membangun Citra tanpa Drama

JUDUL: Guru Juga Perlu Personal Branding

PENULIS: Lyra Praningtyas Tuti

PENERBIT: Pustaka MediaGuru

CETAKAN: Pertama, Juni 2026

TEBAL: 150 Halaman

 

Ada sebuah pelajaran menarik yang selalu saya ingat hingga kini. Hal itu adalah momen ketika Steve Jobs memperkenalkan iPhone untuk kali pertama ke hadapan publik pada 9 Januari 2017. Produk ini baru resmi dijual di pasar Amerika pada Juni 2017. Namun,

Steve Jobs, dengan presentasinya yang luar biasa, membetot perhatian khalayak luas saat itu karena iPhone diyakinkan sebagai produk revolusioner.

Faktanya, hingga saat ini, iPhone masih menjadi ponsel pintar yang dominan di tengah gempuran android kelas flagship. Sejarah mencatat bahwa presentasi Steve Jobs pada awal rilisnya iPhone merupakan salah satu presentasi terbaik di dunia. Ia berhasil membangun personal branding dengan kuat.

Buku yang berjudul Guru Juga Perlu Personal Branding ini mengajak para pembaca untuk mampu membangun citra positif dengan penuh integritas. Artinya, sang penulis, Lyra Praningtyas, telah menegaskan di buku ini bahwa personal branding bukanlah citra diri yang dipoles melalui trik pemasaran, melainkan hasil dari kompetensi nyata dan integritas yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Di era digital seperti sekarang, berjejaring sosial menjadi sebuah keniscayaan yang tidak terhindarkan. Namun, ibarat pisau bermata dua, media sosial sebagai salah satu alat berjejaring tersebut acap menyuguhkan drama-drama pencitraan yang membuai serta cenderung menipu.

Lihat saja bagaimana kasus penipuan puluhan jemaah umrah di Bekasi oleh biro travel umrah setempat yang menelan kerugian miliaran rupiah. Para korbannya terjerat janji manis biaya murah serta gaya hidup si pemilik biro yang kerap berpenampilan mewah demi meyakinkan para calon korbannya.

Dalam kasus lainnya, yang paling mudah kita jumpai tentu saja wajah-wajah pejabat dan politisi yang acap memoles citranya agar terlihat positif di masyarakat. Sayangnya, sekali lagi, ini hanya citra yang dipoles dengan trik pemasaran. Bukan sesuatu yang benar-benar dibangun dengan komitmen dan integritas.

Di sinilah sebenarnya bagaimana fondasi personal branding perlu dibangun di dunia pendidikan, terutama oleh kaum pendidik. Bagi saya, edukasi tentang keteladanan itu jauh lebih penting dan inilah sejatinya personal branding yang kuat. Maka, saya setuju jika di buku ini juga dijelaskan bagaimana personal branding itu ibarat kartu nama yang tak terlihat namun punya magis yang begitu kuat.

Maka, saya sepakat sebuah kalimat bijak bahwa personal branding itu bukan semata-mata tentang menjadi terkenal, tetapi bagaimana kita menjadi terkenal melalui cara yang selektif dengan prestasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Bukan melulu drama seperti CEO yang menyamar ala cerita-cerita dalam drama Cina.

Buku ini menjadi bacaan yang sangat penting bagi para pendidik dan pemerhati pendidikan. Tahniah. (Eko Prasetyo)