Belajar Mengolah Sampah dari Bangku Sekolah

JEMBER – Ember-ember berisi kulit buah dan sayuran menjadi pusat perhatian siswa SDN Kaliwining 02 Rambipuji, Jumat (24/7/2026). Di halaman sekolah yang teduh, mereka mengikuti praktik mengolah limbah dapur menjadi ecoenzyme, sebuah cairan hasil fermentasi yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, pembersih alami, hingga penjernih air.

Kegiatan yang difasilitasi HPAI Jember itu menjadi bagian dari penguatan program sekolah adiwiyata. Melalui praktik sederhana tersebut, para siswa diperkenalkan pada cara mengelola sampah organik agar memiliki nilai guna sekaligus mengurangi limbah rumah tangga.

Suasana belajar berlangsung santai namun interaktif. Para siswa bergantian mengamati bahan-bahan yang telah disiapkan, sementara guru mendampingi dari dekat dan tim HPAI Jember menjelaskan setiap tahapan pembuatan ecoenzyme. Kulit buah, sayuran segar, ember fermentasi, serta wadah pencampur menjadi media belajar yang menghubungkan teori dengan praktik secara langsung.

Narasumber HPAI Jember, Valleria Grossitudinis Castistas, S.Sos., mengatakan sebagian besar limbah dapur sebenarnya masih dapat dimanfaatkan apabila dikelola dengan benar.

“Jadi sekitar 80 persen itu merupakan sampah dapur yang masih bisa diolah kembali,” ujarnya.

Menurut Valleria, ecoenzyme dibuat menggunakan perbandingan 1:3:10, yakni satu bagian gula, tiga bagian limbah buah dan sayuran segar, serta sepuluh bagian air. Seluruh bahan kemudian difermentasi selama sekitar tiga bulan hingga menghasilkan cairan yang memiliki berbagai fungsi bagi kebutuhan rumah tangga maupun lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, siswa bersama pendamping membuat tiga wadah ecoenzyme berkapasitas masing-masing 10 liter. Sebelum proses pencampuran dilakukan, mereka terlebih dahulu belajar memilah limbah organik yang masih layak dimanfaatkan.

Pendampingan, kata Valleria, tidak berhenti pada praktik membuat ecoenzyme. HPAI Jember juga mendorong sekolah membangun sistem pengelolaan sampah melalui pembentukan bank sampah hingga penyusunan administrasinya.

“Kami mulai dari pemilahan sampah, pembentukan bank sampah, sampai memfasilitasi pembukuannya. Pendampingan ini akan terus kami lakukan,” katanya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal memperkuat budaya pengelolaan sampah di lingkungan sekolah, terutama karena SDN Kaliwining 02 tengah mengembangkan program adiwiyata.

“Harapan kami, anak-anak belajar bersama dengan suasana yang menyenangkan sehingga sejak dini memiliki kesadaran menjaga kelestarian alam,” ujarnya.

Kepala SDN Kaliwining 02, Siti Nurhakimi, S.Pd., menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurutnya, sekolah terus membuka ruang kerja sama dengan berbagai pegiat lingkungan sebagai bagian dari upaya memperkuat implementasi program adiwiyata.

Ia mengatakan SDN Kaliwining 02 menargetkan diri menjadi sekolah percontohan bagi pengembangan inovasi adiwiyata di tingkat sekolah dasar se-Kecamatan Rambipuji.

“Harapan kami sebagai sekolah adiwiyata ke depan mampu merangkul seluruh pegiat Adiwiyata. Kami ingin memulai pilot project ini dari SDN Kaliwining 02 sehingga nantinya setiap sekolah di kecamatan memiliki satu inovasi unggulan,” katanya.

Selain memperkuat budaya peduli lingkungan, sekolah menyiapkan berbagai inovasi pembelajaran berbasis STEAM yang akan dipublikasikan melalui majalah literasi digital. Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong kreativitas peserta didik sekaligus memperkuat pendidikan lingkungan di sekolah.

Seusai kegiatan, wadah-wadah ecoenzyme yang dibuat bersama para siswa disimpan untuk menjalani proses fermentasi selama sekitar tiga bulan. Cairan yang dihasilkan nantinya akan dimanfaatkan sebagai bagian dari pembelajaran pengelolaan lingkungan sekaligus menjadi salah satu bentuk implementasi Program Adiwiyata di SDN Kaliwining 02. (sn)