JAKARTA — Suasana hangat, inklusif, dan penuh perenungan menyelimuti galeri Dia. Lo. Gue Artspace pada Sabtu (22/8/2026) ketika gelaran pameran seni dan refleksi publik bertajuk Bermuara 2026 resmi dibuka.
Acara yang diinisiasi oleh organisasi nonprofit Ruang Damai ini diselenggarakan khusus untuk merayakan lima tahun perjalanan pergerakan mereka dalam mengadvokasi isu-isu kemanusiaan, pemulihan psikososial, serta upaya countering violent extremism (CVE).
Mengusung tema “Menjaga Harapan, Menenun Perubahan, 5 Tahun Memahami Tanpa Menghakimi”, eksibisi ini dihadirkan bukan sekadar sebagai ajang pertunjukan karya seni visual statis, melainkan wadah dialog interaktif yang mengajak masyarakat, khususnya generasi muda untuk menyelami arti mendalam dari sebuah perjumpaan di tengah keberagaman tanpa stigma.
Sejak kali pertama melangkah masuk ke area pameran, para pengunjung langsung disambut oleh rangkaian instalasi visual bertajuk Gallery Walk – Time Capsule 5th Ruang Damai. Di lorong pameran ini, perjalanan lima tahun pergerakan Ruang Damai dirangkum secara artistik dan kronologis melalui arsip foto dokumentasi, karya lukis, hingga instalasi simbolis yang memandu audiens memahami dinamika pembentukan ruang aman di tengah masyarakat.
Melalui kacamata seni tersebut, karya-karya yang dipamerkan mampu menyampaikan pesan emosional tentang betapa krusialnya kesadaran untuk saling mendengarkan dan merawat perdamaian guna mencegah potensi timbulnya konflik horizontal.
Pengalaman menyusuri pameran menjadi semakin imersif saat pengunjung memasuki area River of Life – Creative Reflection, sebuah ruang refleksi interaktif yang menjadi salah satu sajian utama dalam eksibisi ini. Mengusung konsep aliran sungai kehidupan, para pengunjung tidak hanya diposisikan sebagai penonton pasif, melainkan diajak untuk berinteraksi langsung melalui media notebook khusus yang telah disediakan. Di ruang ini, audiens dapat mengalir bersama perjalanan naratif Ruang Damai sembari menuliskan perenungan pribadi mereka serta merespons berbagai pesan perdamaian yang terpapar indah di dinding galeri.
Suasana pameran kian hidup dan dinamis berkat hadirnya rangkaian diskusi publik di tengah ruang eksibisi yang menghadirkan tokoh-tokoh dari beragam latar belakang. Pada sesi dialog pertama bertajuk “Jadi Diri Sendiri Arungi Ragam Hidup”, tokoh spiritual Bhikkhu Sangha Antadhiro Thera membagikan pandangannya mengenai pentingnya menjalani hidup dengan ketenangan hati dan pengontrolan diri yang bagus bagaikan air yang menyatukan, seraya menekankan bahwa keberadaan seorang guru sangat dibutuhkan untuk menyadarkan manusia kapan harus berhenti dan kapan harus maju.
Dalam sesi yang sama, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling terhubung sehingga keragaman diciptakan bukan untuk direndahkan melainkan untuk saling melengkapi karena tanpa keragaman tidak akan ada kehidupan.
Diskusi kemudian berlanjut pada sesi kedua bertajuk “Semua Bisa Berdampak Bersama” yang menghadirkan Rio Zakarias, Handika Surbakti, dan Fathimah Azzahra. Dalam sesi ini, para narasumber menggarisbawahi bahwa kepedulian sosial tidak harus terhalang oleh kesibukan pekerjaan tetap, karena aksi peduli yang terbilang kecil sekalipun tetap mampu memberikan dampak nyata dan bermakna bagi mereka yang menerima manfaatnya ketika hati dan jiwa merasa terpanggil untuk bergerak.
Di tengah maraknya interaksi dan dialog, pameran Bermuara 2026 juga menjadi momentum penting diluncurkannya Annual Report Ruang Damai sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas atas capaian serta kontribusi lembaga selama satu tahun terakhir. (bar/eko)











Tinggalkan Balasan