Rinduku Membiru di Tawangmangu

Rinduku Membiru di Tawangmangu
Sejoli Memadu Janji (Ilustrasi by Gemini)

Rinduku Membiru di Tawangmangu. Hingar-bingar pentas seni dalam acara jambore milad malam itu tak sepenuhnya bisa kunikmati. Mungkin, karena perubahan suhu yang drastis sejak dari rumah. Aku merasa sesuatu terjadi di tubuh, sehingga membuat kurang nyaman. Atau, bisa jadi karena nyaris seharian aku kehilangan nafsu makan hingga perutku bermasalah.

“Aku mau istirahat di tenda sebentar, ah, sebelum renungan malam dimulai,” pikirku.

Udara dingin di luar gedung tempat pentas seni digelar, terasa semakin menusuk ketika gerimis mulai turun. Jalan menuju tenda begitu sepi. Nyaris tak ada seorang pun yang berpapasan denganku.

Sembari bersedekap, aku berjalan setengah berlari. Kabut tebal bercampur angin menghalangi pandangan.
Sejauh mata memandang, hanya tampak lapangan rumput kosong. Tak satu pun tenda terlihat.

Belum hilang kebingunganku, sesosok lelaki berjaket cokelat tampak berdiri di gerbang wonderpark. Ia mendekatiku sembari mengulurkan payung yang dipakainya.

“Hai,” suara bariton keluar dari bibirnya.

Mendadak ia menyapaku.

Suara itu, meski berat terasa begitu akrab di telinga. Kemudian, aku menghentikan langkah. Meski, wajahnya belum tampak jelas karena sebagian tertutup rambut gondrong, namun suara itu sangat kukenali.

Aku menoleh ke kiri dan kanan, ternyata tak seorangpun selain dia.

Tubuhku mulai menggigil. Jaket yang menutup seragamku hanya sedikit membantu menghalau dingin. Tas kutaruh di dada dan kupeluk erat, berharap bisa mengurangi dingin yang semakin mendera.

“Kamu… kamukah itu?” tanyaku gemetar.

Kulihat lagi sekelilingku. Sepi. Hanya kami berdua dan desau angin pegunungan yang menggigit. Aku tak mampu berkata-kata ketika tubuh kekarnya mendekat. Jarak kami hanya beberapa inci.

“Ya. Aku menunggumu di sini sejak semalam,” katanya lirih, seakan hanya aku yang boleh mendengar.

Kutatap dia dari rambut hingga ujung kaki. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

“Bukankah kau pernah bilang akan menungguku di Tawangmangu saat aku pergi merantau?”

Dia menatapku tajam, seolah memaksaku untuk mengingat dan mengakui apa yang pernah kukatakan. Aku hanya mengangguk pelan. Wajahku basah oleh gerimis.

“Demi ketulusanku, aku mengalah,” katanya. “Aku yang menunggumu di sini karena aku tahu kau terlalu sibuk.”
Ia lalu menyeka air hujan yang menempel di sebagian jaketnya.

Aku diam. Masih kucoba mencerna kata-katanya. Bibirku kelu.

Ketika gerimis mulai mereda, seperti ada yang menggerakkan, kami pun berjalan pelan menuju sebuah gubuk kecil. Payung yang masih berada di tangannya membuat pundak kiriku sesekali bersentuhan dengan pundak kanannya.

Gubuk itu bersih. Letaknya di samping kebun stroberi dan memang sengaja disediakan pemilik kebun bagi pengunjung yang ingin berteduh setelah memetik buah.

Sesampainya di gubuk, kami duduk berdampingan. Tanpa kusadari, tanganku telah berada dalam genggamannya. Kulit tangannya terasa dingin. Itulah pertama kalinya kulitku menyentuh kulitnya. Hatiku berdesir.

“Aku yakin kau belum berubah sebagaimana aku. Ketulusan cintaku tak bisa diukur.”

Tiba-tiba ia mengatakan itu. Secara refleks, kutarik tanganku dari genggamannya. Aku malu.

“Terima kasih sudah kau izinkan aku memegang jemarimu, walau hanya sekejap.”

Aku masih memainkan jari-jemariku di pangkuan tanpa berkata sepatah pun.
Kulihat ia menunduk. Matanya berkaca-kaca. Mengapa dia secengeng itu? Apakah ini hanya trik seorang lelaki untuk mendapatkan apa yang diinginkannya? Pikiran buruk tiba-tiba muncul di kepalaku.

Embun masih memenuhi kelopak matanya.
Sejenak hatiku mencair. Dia tidak salah karena mencintaiku. Dia adalah lelaki yang dulu kukenal di tepi Bengawan Solo. Lelaki pekerja keras, ulet, rajin, dan santun.

“Mbak, aku boleh naksir adikmu?”
Berulang kali ia mengatakan itu kepada mbakyuku beberapa waktu silam.

Hampir setiap hari ia datang ke rumah. Ia tak pernah mau menyerah hingga perlahan-lahan aku mulai menanggapinya.
Melihat kesungguhan dia, lama-lama tumbuh pula benih kasih di dadaku.
Mulai ada percik rindu setiap kali ia tak datang.

Di puncak rasaku, ketika benih itu tumbuh semakin subur, ia pergi merantau ke luar Jawa. Aku frustrasi. Aku menangis dan terluka. Cinta yang selama ini kusimpan dalam diam tak lagi mampu kusembunyikan.

“Masih adakah aku di dadamu?”

Aku tersentak. Pertanyaannya berhasil memecah lamunanku.

Kutatap matanya beberapa detik. Berharap ia mampu membaca sesuatu dari tatapanku.

Jantungku berpacu kencang. Ingin kutumpahkan segudang rindu yang selama ini kusimpan. Ingin rasanya aku menjerit lantang dan mengatakan: Hanya ada kamu di dadaku, tapi mengapa kau tinggalkan aku?

Jeritan itu tersangkut di kerongkongan.
Luka hatiku tiba-tiba mengering. Dendam rinduku seolah terobati oleh pertemuan ini.

“Kau masih seperti dulu. Lugu dan pemalu.” Aku tetap diam.

“Ini yang membuatku makin menyayangimu.”

Ia mengatakannya seraya memandang hamparan kebun stroberi di depan kami.
Kuberikan senyum termanisku sebagai jawaban atas rayuannya. Meski aku bukan perempuan yang mudah termakan rayuan, kali ini aku tak mampu berbohong pada apa yang kurasakan.

Sambil tersenyum bahagia, ia mengajakku bangkit dari duduk. Kami menyusuri jalan setapak di sisi kebun stroberi. Biasanya, area kebun ini ramai oleh pengunjung yang datang untuk memetik buah. Namun, kali ini tak satu pun orang terlihat. Hanya kami berdua.

Saat suasana terasa semakin sepi, ia kembali menggenggam tanganku erat. Seolah memastikan aku tak jatuh terpeleset di jalan yang licin. Aku tak menolak.

Di sudut kebun, agak jauh dari tempat kami berdiri, tampak buah-buah stroberi ranum yang menggoda mata. Di saat yang sama, bunga-bunga cinta pun bermekaran di dalam dadaku.

Saking bersemangatnya menyusuri tepian kebun, aku terpelanting jatuh. Tangannya terlepas dari tanganku. Lalu gelap. Aku tak mampu melihat apa-apa.

Kukucek-kucek mata ini, tetapi semuanya tetap gelap hingga kudengar sayup-sayup pengeras suara memutar musik untuk senam. Dan, semakin lama suara itu semakin jelas. Namun, aku tak tahu di mana senam itu berlangsung. Aku juga tak tahu siapa yang sedang senam.

Saya menangis, lalu menjerit sekuat tenaga, meminta pertolongan. Tetap gelap.
Dan aku tak ingat apa-apa lagi.

“Mas Kokam yang menemukan dia pingsan di kebun stroberi.”

Kudengar suara Bu Yeyen, temanku saat jambore. Ia sedang berbicara dengan seseorang ketika aku tersadar. Aku kaget manakala tahu sudah berada di sebuah kamar yang bersih.

“Hah? Siapa yang pingsan? Mengapa aku di sini?”

“Bukankah semalam aku berada di gedung menyaksikan pentas seni?”

“Mengapa pula baju dan jaketku penuh tanah?”

Kucoba bangun meski kepala masih terasa pening. Tak lama kemudian, Bu Yeyen masuk ke kamar dan menghampiriku.

“Semalam Bu Yanti tidak ada di tenda hingga pagi, kami sudah mencari ke mana-mana,” terang Bu Yeyen sambil memintaku untuk kembali berbaring.

Aku masih bengong. Karena, tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padaku semalam.
Hingga, mendadak ponsel yang kusimpan di dalam tas bergetar.

Kemudian, aku membukanya, tersimpan beberapa pesan yang baru sempat terbaca. Bahkan, ada puluhan panggilan tak terjawab dari teman dan kerabat.

Ternyata ada satu pesan terbaru yang membuat mataku terbelalak dan jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Pesan itu datang dari seorang pemuda di seberang sana yang selama ini sudah kuanggap seperti anakku sendiri.

Kubaca perlahan.

“Budhe, Bapak semalam berpulang. Mohon doanya, ya.”

Tanganku gemetar. Aku terdiam cukup lama.

Tiba-tiba aku teringat pada lelaki berjaket cokelat itu. Suara baritonnya. Tatapan matanya. Genggaman tangannya yang dingin.

Di luar jendela, kabut Tawangmangu masih menggantung. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rinduku tak lagi terasa sebagai luka. Karena, ia telah menemukan tempatnya sendiri. Yaitu, Membiru di Tawangmangu.