Di Balik Mimbar yang Bergetar

Di Balik Mimbar yang Bergetar
"Tiran" Image by Pixabay

Di Balik Mimbar yang Bergetar. Dari balik podium berukir megah dan pengawalan bersenjata lengkap, kekuasaan sering kali merefleksikan dirinya sebagai karang yang tak mudah goyah. Namun, sejarah selalu menyimpan catatan kaki yang dingin dan berjarak, namanya tirani. Ia pada hakikatnya, adalah sesosok penakut yang mengenakan topeng besi. Ketakutan itu jarang terlihat ketika mereka sedang membagikan janji atau mengintimidasi lawan. Ia akan memancar jelas ketika kesadaran publik mulai menggoyang fondasi retorisnya.

Pola pelarian para penguasa di berbagai belahan dunia memberikan pelajaran berharga. Dari Timur Tengah hingga Asia Selatan, kita menyaksikan bagaimana rezim yang tampak kokoh seketika runtuh. Adalah, ketika mereka tak mampu lagi menggertak barisan rakyat. Saat ruang gerak makin menyempit, mimbar-mimbar kekuasaan yang tadinya agung mendadak sepi. Para penghuninya buru-buru meninggalkan untuk mencari suaka. Pameran keberanian di depan kamera ternyata menguap begitu saja saat menghadapi kehendak kolektif yang terkonsolidasi.

Pada dasarnya, kekuasaan yang melenceng bukanlah takut pada kepalan tangan tanpa arah, melainkan masyarakat mengorganisir. Negara selalu memiliki infrastruktur untuk menghadapi benturan fisik, tetapi tak memiliki jawaban ketika berhadapan dengan ide-ide terstruktur. Pengetahuan mulai dari filsafat, hukum, ekonomi, hingga politik, adalah alat untuk membongkar narasi tunggal penguasa. Lebih dari itu, ilmu kesenian dan kebudayaan menjadi ancaman paling mematikan bagi otoritarianisme. Sebab, seniman dan budayawan merawat nurani dan imajinasi perlawanan yang tak terbeli oleh anggaran negara.

Pengalaman demonstrasi dan gelombang protes warga secara beruntun menyadarkan kita, kalau kekuatan rakyat bukanlah mitos. Ketika simpul-simpul komunitas, akademisi, buruh, mahasiswa, dan pekerja seni saling terhubung di berbagai daerah. Maka, sebenarnya jalinan tersebut telah membentuk barikade kesadaran yang tak tertembus. Gerakan sosial yang terorganisir rapi akan membuat peta politik stagnan bergetar hebat.

Bangsa ini tidak boleh lagi terkecoh oleh gertakan atau propaganda kemegahan yang tayang setiap hari. Selama ruang-ruang diskusi tetap hidup, karya seni kritis terus diproduksi, dan simpul solidaritas warga kian meluas. Itu maknanya, kontrol atas masa depan republik ini akan selalu berada di tangan rakyat sendiri. Sebab pada akhirnya, tidak ada mimbar yang cukup tinggi untuk menyembunyikan rasa takut penguasa yang kehilangan legitimasi di mata publik.

Jejak Ketakutan dan Kebangkitan Nurani

Sejarah tidak pernah kekurangan contoh tentang bagaimana dinding kekuasaan yang tampak tak tertembus mendadak rapuh ketika berhadapan dengan konsolidasi sipil. Ketika revolusi rakyat di Suriah memuncak, Bashar al-Assad yang selama bertahun-tahun mencitrakan dirinya sebagai benteng militer tak tergoyahkan. Dan, pada akhirnya memilih melarikan diri ke Rusia untuk menyelamatkan diri dari penghakiman publik. Begitu pula yang terjadi di Asia Selatan, Sheikh Hasina. Ia memegang kendali politik Bangladesh dengan tangan besi selama lebih dari satu dekade. Pada ujungnya, melangkah buru-buru menuju helikopter untuk terbang ke India. Saat gelombang demonstrasi mahasiswa dan rakyat tak terbendung oleh bentrok fisik maupun intimidasi aparat.

Kembali ke ruang domestik, ingatan sejarah kita sendiri mencatat babak serupa pada Mei 1998, ketika krisis ekonomi dan tuntutan reformasi. Saat itu, figur-figur elite yang sebelumnya menjadi pilar utama rezim otoriter Orba mendadak kehilangan kekuatan magisnya. Banyak dari mereka yang memilih angkat kaki atau mencari perlindungan ke luar negeri, termasuk melarikan diri ke kawasan Timur Tengah. Fenomena pelarian para penguasa ini, dari Assad, Hasina, hingga deretan elite domestik. Adalah, bukti empiris bahwa rasa takut sejatinya bersarang di jantung kekuasaan itu sendiri.

Ketakutan tersebut berakar dari satu hal. Ketidakmampuan merekayasa politik untuk memadamkan nalar kritis yang sudah mengakar. Senjata dan anggaran negara mampu membendung massa di jalanan untuk sementara waktu, namun ia tak pernah sanggup menghentikan gerak pemikiran. Filsafat dan ilmu hukum mengajarkan masyarakat untuk menguliti legitimasi retorika penguasa. Ilmu ekonomi membongkar manipulasi angka-angka kesejahteraan yang palsu. Sementara, ilmu politik memberikan petunjuk praktis tentang bagaimana struktur kekuasaan bekerja dan di mana letak titik lemahnya.

Namun, di atas semua disiplin pengetahuan tersebut, seni dan kebudayaan adalah ancaman paling mengerikan bagi tirani. Sastra, teater, musik, dan seni rupa bekerja di ruang bawah sadar yang tak tersentuh oleh sensor pemerintah. Lewat puisi, lagu perlawanan, dan lukisan moral, seni merawat daya ingat kolektif agar tidak amnesia terhadap ketidakadilan. Seni memberi bentuk pada keresahan bersama, mengubah rasa takut individu menjadi keberanian kelompok.

Ketika simpul-simpul komunitas literasi, seniman, mahasiswa, dan pekerja terhubung secara organik. Maka, sebenarnya kekuatan ini bertransformasi menjadi gelombang politik yang sangat masif. Pengalaman berbagai aksi warga baru-baru ini memperlihatkan betapa gugupnya elite ketika solidaritas organik mengisi ruang publik. Mimbar-mimbar kekuasaan mendadak goyah bukan karena ancaman fisik. Tetapi, karena mereka menyadari bahwa narasi tunggal yang mereka bangun selama ini telah runtuh di mata rakyatnya sendiri.