Guru Ditantang Menyesuaikan Pembelajaran di Era Digital

JEMBER – Satu per satu guru mengangkat telepon pintar mereka begitu memasuki ruang kelas SDN Kaliwining 02 Rambipuji, Kamis (30/7/2026). Mereka tidak sedang membuka media sosial ataupun membalas pesan, melainkan memindai barcode presensi sebelum mengikuti Workshop Pemanfaatan Digital pada Pembelajaran Mendalam. Cara sederhana itu menjadi gambaran bahwa transformasi digital kini mulai hadir sejak tahap administrasi hingga proses belajar di sekolah.

Sebanyak 35 peserta yang terdiri atas kepala sekolah, guru, dan pengawas bina mengikuti kegiatan tersebut. Kolaborasi SDN Kaliwining 02 bersama Ikatan Pendidik Penulis (IPP) Jember dengan dukungan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Jember itu menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat kompetensi guru menghadapi perubahan cara belajar generasi digital.

Transformasi tersebut tidak berlangsung begitu saja. Sebelum workshop digelar, pihak sekolah lebih dahulu menyusun konsep pengembangan sekolah literasi, kemudian berkoordinasi dengan pengawas bina SD. Usulan itu diteruskan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Jember hingga akhirnya memperoleh persetujuan BKPSDM, termasuk penerapan sistem presensi berbasis barcode sebagai bagian dari pelaksanaan kegiatan.

Suasana ruang kelas semakin khidmat setelah pembacaan hamdalah dan lagu Indonesia Raya. Dalam sambutannya, Kepala SDN Kaliwining 02 Siti Nurhakimi, S.Pd. menegaskan bahwa literasi digital dan pembelajaran mendalam bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus dihadapi dunia pendidikan.

“Literasi digital dan pembelajaran mendalam sudah menjadi sebuah keniscayaan di era sekarang. Teknologi harus mengikuti tujuan pembelajaran, bukan menggantikan guru. Tantangan kita adalah anak-anak yang sejak lahir sudah hidup di dunia digital,” ujarnya.

Setelah sambutan, perhatian peserta beralih kepada Pengawas Bina SD Negeri Kaliwining 02, Nanik Triwidayati, S.Pd.SD., M.Pd. Menurutnya, ukuran keberhasilan pembelajaran tidak lagi semata-mata dilihat dari kemampuan siswa menjawab soal, melainkan dari tumbuhnya rasa ingin tahu yang mendorong mereka aktif bertanya.

“Ketika anak terdorong bertanya kepada gurunya karena rasa ingin tahunya berkembang, berarti pembelajaran di kelas sudah berlangsung secara mendalam. Anak-anak sekarang lahir di era digital, sehingga gurunya juga harus menguasai pembelajaran berbasis teknologi,” katanya.

Pembahasan kemudian mengarah pada bagaimana guru membangun pengalaman belajar yang bermakna. Ni’matul Khoiroh, M.Pd. mengajak peserta memaknai kembali hakikat pembelajaran yang tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi menghadirkan proses belajar yang mampu dipahami, dirasakan manfaatnya, sekaligus menyenangkan bagi peserta didik.

“Belajar harus diawali dengan memahami, bermakna, dan menggembirakan,” ujarnya.

Ia juga memperkenalkan pendekatan penyusunan perangkat ajar melalui pola 8-3-3-4 sebagai salah satu strategi dalam menerapkan pembelajaran mendalam di kelas.

Ketika pembahasan bergeser pada pemanfaatan teknologi, sejumlah peserta mulai membuka laptop dan telepon pintar masing-masing. Dr. Eko Prasetyo, S.S., M.Ikom., mengajak guru melihat teknologi bukan sebagai tujuan pembelajaran, melainkan alat yang membantu memperkaya proses belajar sekaligus memperluas ruang literasi peserta didik.

Melalui sesi praktik, peserta tidak hanya mempelajari pemanfaatan media digital dalam pembelajaran, tetapi juga berlatih menuangkan gagasan dalam bentuk opini dan esai. Karya-karya tersebut dirancang menjadi bagian dari buku antologi guru, sementara hasil praktik lainnya akan dihimpun dalam majalah literasi digital sekolah sebagai media publikasi praktik baik pembelajaran.

Menjelang siang, suasana diskusi belum juga berakhir. Sebagian guru masih bertukar gagasan mengenai tema tulisan yang akan dimuat dalam buku antologi, sementara peserta lainnya mulai menyusun konsep majalah literasi digital sekolah. Target menerbitkan kedua karya tersebut dalam waktu satu bulan menjadi langkah awal membangun budaya literasi yang lebih kuat sekaligus memperkuat pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari pembelajaran bermakna di SDN Kaliwining 02. (sdk/min)