Mengembalikan Makna Kurban. Setiap Idul Adha datang, gema takbir memenuhi langit-langit masjid dan halaman rumah. Suara sapi dan kambing bersahutan sejak pagi. Panitia sibuk menyiapkan tali, timbangan, hingga kantong-kantong pembungkus daging. Anak-anak berlarian melihat proses penyembelihan, sementara para ibu mulai menyiapkan bumbu untuk memasak. Suasana itu selalu menghadirkan nuansa religius sekaligus sosial yang khas dalam kehidupan masyarakat Muslim.
Namun di tengah suasana sakral itu, ada satu kegelisahan yang diam-diam tumbuh dalam benak saya. Saya sering bertanya dalam hati. Mengapa setelah berkurban, sebagian orang yang secara ekonomi sudah sangat cukup justru masih sibuk meminta bagian daging untuk konsumsi pribadi? Bahkan tidak sedikit yang malam harinya mengadakan pesta bakar sate bersama keluarga atau kelompok pertemanan. Fenomena “malam nyate” seolah menjadi tradisi tak tertulis setiap Idul Adha.
Padahal bukankah esensi kurban adalah berbagi?
Keresahan itu bukan muncul karena saya ingin menghakimi siapa pun. Saya juga memahami bahwa dalam syariat Islam, shahibul qurban memang boleh menikmati sebagian daging kurbannya. Itu sah, tidak salah, bahkan sudah menjadi praktik yang umum terjadi. Panitia pemotongan hewan biasanya juga menawarkan kepada pekurban untuk memilih bagian tertentu yang dia ingin bawa pulang.
Tetapi kegelisahan saya bukan semata soal halal atau tidak halal. Yang mengusik justru soal rasa, soal kepekaan sosial, dan soal bagaimana kehidupan modern ini memaknai ibadah besar. Kadang saya sulit menyaksikan ironi ini. Di satu sisi, masih ada masyarakat yang mungkin hanya beberapa kali dalam setahun menikmati daging. Ada keluarga yang sehari-harinya hidup dengan lauk sederhana. Bahkan ada yang menunggu momen Idul Adha karena itulah satu-satunya kesempatan mereka merasakan olahan daging yang layak bersama keluarga.
Namun di sisi lain, Idul Adha justru berubah menjadi momentum pesta konsumsi bagi mereka yang sebenarnya tidak kekurangan apa pun. Begitu proses penyembelihan selesai, asap sate mulai mengepul di banyak sudut perumahan. Grup-grup kecil berkumpul sambil memanggang daging, bercanda, dan mengabadikan momen untuk media sosial. Tidak ada yang salah dengan kebersamaan itu. Tidak ada pula yang keliru dengan rasa syukur. Tetapi kadang saya merasa ada sesuatu yang perlahan bergeser, bahwa semangat pengorbanan berubah menjadi semangat perayaan konsumsi. Seolah-olah inti Idul Adha terletak pada pesta makan daging, bukan pada nilai spiritual di balik pengorbanan itu sendiri.
Padahal akar ibadah kurban bukan tentang daging
Ia lahir dari kisah agung Nabi Ibrahim AS yang bersedia mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi menjalankan perintah Allah. Dari kisah itu, umat Islam belajar bahwa kurban adalah latihan menundukkan ego. Lantas mengurangi keterikatan terhadap dunia, dan membangun keikhlasan berbagi kepada sesama. Dalam makna terdalamnya, bukan sekadar berkorban kambing atau sapi, melainkan rasa memiliki yang berlebihan. Kurban mengajarkan manusia untuk tidak menjadi budak dari kepentingan diri-sendiri.
Karena itu, saya pribadi merasa bahwa semakin besar kemampuan ekonomi seseorang, seharusnya semakin luas pula ruang berbagi yang ia buka. Mungkin itulah sebabnya saya lebih memilih menyalurkan hewan kurban melalui masjid di lingkungan tempat tinggal. Tahun ini, saya membeli hewan kurban secara kelompok untuk wilayah perumahan kami tinggal di Sidoarjo. Saya merasa lebih tenang ketika seluruh proses distribusi dilakukan langsung kepada masyarakat sekitar yang benar-benar membutuhkan.
Kebahagiaan Kita Kecukupan Bersama
Bagi saya, ada kebahagiaan yang berbeda ketika melihat daging kurban sampai ke tangan orang-orang yang mungkin jarang menikmatinya. Ada kepuasan batin yang tak terukur hanya dengan kenikmatan menyantap sate bersama kelompok sendiri. Sekali lagi, saya tidak sedang menawarkan standar kesalehan baru. Saya juga tidak bermaksud menyalahkan tradisi masyarakat yang sudah lama berjalan. Sebab setiap orang memiliki cara masing-masing dalam memaknai ibadah. Tidak semua orang yang menikmati daging kurban berarti kehilangan makna spiritualnya.
Namun saya percaya, Idul Adha selalu memberi ruang refleksi bagi siapa pun yang mau merenung lebih dalam. Bahwa mungkin pertanyaan terpenting bukanlah berapa ekor hewan yang kita kurbankan setiap tahun. Bukan pula seberapa meriah pesta yang bisa kita buat setelah penyembelihan selesai. Melainkan, seberapa jauh ibadah itu berhasil mengurangi ego kita?
Sebab kurban sejatinya adalah pendidikan jiwa. Ia mengajarkan manusia untuk rela memberi sebelum meminta. Kita mendahulukan orang lain sebelum diri sendiri, dan memaknai keberlimpahan sebagai amanah sosial, bukan sekadar hak pribadi. Dan mungkin, di tengah tradisi pesta sate yang semakin meriah setiap Idul Adha, kita perlu sesekali kembali mengingat satu hal sederhana. Masih ada orang-orang yang menunggu hari kurban bukan untuk berpesta, melainkan bisa membawa pulang beberapa potong daging untuk keluarganya. Di situlah barangkali makna kurban menemukan ruhnya yang paling dalam. Yaitu, ketika kebahagiaan kita lahir dari melihat orang lain ikut merasakan kecukupan.













Tinggalkan Balasan