Captwapri.id-Mengajar Al-Qur’an Hadis di madrasah bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Di dalamnya ada ikhtiar panjang untuk mempertemukan peserta didik dengan kitab sucinya, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah saw., sekaligus membentuk karakter yang berakar pada nilai-nilai Islam. Tugas ini tampak sederhana jika hanya dibaca dari dokumen kurikulum. Namun, di ruang kelas, kenyataannya jauh lebih kompleks.
Lebih dari dua puluh tahun mengajar Al-Qur’an Hadis di MAN 2 Mojokerto mengajarkan saya satu hal penting, bahwa tidak ada dua kelas yang benar-benar sama. Setiap tahun pelajaran baru selalu menghadirkan wajah-wajah baru dengan cerita yang berbeda-beda. Mereka datang dari SMP, MTs negeri, MTs swasta, bahkan sekolah umum dengan pengalaman belajar agama yang tidak selalu setara. Perbedaan itu menjadi warna sekaligus tantangan.
Keberagaman tersebut paling mudah terlihat ketika pembelajaran memasuki sesi membaca Al-Qur’an. Ada siswa yang mampu membaca dengan tartil, memahami hukum tajwid, bahkan telah memiliki hafalan beberapa juz. Sebaliknya, ada pula yang masih terbata-bata mengenali panjang pendek bacaan, makhraj huruf, atau belum percaya diri membaca di hadapan teman-temannya. Dalam satu kelas, rentang kemampuan itu bisa sangat lebar.
Sebagai guru, saya tidak mungkin hanya berfokus pada mereka yang sudah mahir. Saya juga tidak boleh membiarkan mereka yang masih belajar merasa tertinggal. Di sinilah mengajar berubah menjadi seni menemukan titik temu antara kemampuan yang beragam dengan tujuan pembelajaran yang sama.
Target pembelajaran Al-Qur’an Hadis sesungguhnya tidak sederhana. Peserta didik diharapkan mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, memahami kandungan ayat dan hadis, menghayati nilai-nilainya, kemudian menghadirkannya dalam perilaku sehari-hari. Artinya, pembelajaran tidak berhenti pada aspek kognitif, tetapi juga menyentuh ranah afektif dan psikomotorik.
Persoalannya, waktu yang tersedia di kelas sangat terbatas. Dalam durasi pembelajaran yang tidak panjang, guru harus mengajarkan tajwid, melatih keterampilan membaca, menjelaskan makna ayat, menghubungkannya dengan kehidupan nyata, sekaligus melakukan penilaian. Sering kali saya merasa bahwa waktu bergerak lebih cepat daripada proses belajar peserta didik.
Namun, pengalaman mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Justru di situlah kreativitas guru diuji. Pembelajaran perlu dirancang lebih adaptif, kontekstual, dan berpihak kepada kebutuhan siswa. Kadang saya harus memberi perhatian lebih kepada siswa yang masih kesulitan membaca. Pada kesempatan lain, saya justru memberikan tantangan tambahan kepada mereka yang telah memiliki kemampuan lebih baik agar tetap berkembang.
Di balik semua perbedaan itu, saya percaya bahwa setiap anak memiliki pintu masuk yang berbeda untuk mencintai Al-Qur’an. Ada yang jatuh cinta melalui keindahan tilawah, ada yang tersentuh oleh makna ayat, ada pula yang menemukan ketenangan melalui hafalan. Tugas guru bukan menyeragamkan semua jalan itu, melainkan membantu setiap peserta didik menemukan jalannya masing-masing.
Salah satu ikhtiar yang patut disyukuri di MAN 2 Mojokerto adalah hadirnya program Kelas Tahfiz. Program ini menjadi ruang bagi peserta didik yang memiliki kemampuan menghafal Al-Qur’an untuk terus mengembangkan potensinya tanpa mengabaikan prestasi akademik maupun nonakademik lainnya. Kelas Tahfiz bukan sekadar tempat mengumpulkan siswa yang telah hafal banyak juz, melainkan wadah pembinaan agar bakat yang telah dimiliki dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Lebih dari itu, keberadaan Kelas Tahfiz menjadi bukti bahwa madrasah memberikan ruang bagi diferensiasi pembelajaran. Peserta didik yang memiliki kemampuan lebih tidak berhenti pada capaian minimal kurikulum, tetapi terus diarahkan menuju prestasi yang lebih tinggi. Di sisi lain, siswa yang kemampuan membaca Al-Qur’annya masih berkembang tetap mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhannya. Dengan demikian, keberagaman bukan dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai kenyataan pendidikan yang harus dikelola dengan bijaksana.
Selama dua dekade lebih mengajar, saya juga menyadari bahwa keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an Hadis tidak semata-mata diukur dari nilai rapor atau banyaknya materi yang selesai diajarkan. Kebahagiaan terbesar justru hadir ketika melihat seorang siswa yang dahulu terbata-bata membaca Al-Qur’an kini mampu melantunkan ayat dengan percaya diri. Ada kepuasan batin ketika siswa mulai menghubungkan kandungan ayat dengan persoalan kehidupan yang mereka hadapi. Bahkan, senyum sederhana setelah berhasil menyelesaikan satu halaman bacaan sering kali menjadi hadiah yang tidak ternilai bagi seorang guru.
Boleh jadi, keberhasilan seorang guru Al-Qur’an Hadis tidak pernah benar-benar dapat dihitung dengan angka. Ia tersimpan dalam keberanian seorang siswa yang akhirnya berani membuka mushaf tanpa rasa malu, dalam lisan yang perlahan mulai fasih melafalkan ayat-ayat-Nya, atau dalam hati yang mulai tergerak menjadikan Al-Qur’an sebagai teman perjalanan hidup. Perubahan-perubahan kecil itulah yang sering luput dari laporan penilaian, tetapi justru menjadi pencapaian yang paling bermakna.
Mengajar Al-Qur’an Hadis mengajarkan saya bahwa setiap peserta didik memiliki waktu bertumbuhnya sendiri. Ada yang mekar lebih awal, ada yang memerlukan musim yang lebih panjang. Karena itu, tugas guru bukan memaksa semua bunga mekar pada saat yang sama, melainkan menjaga agar setiap benih memperoleh kesempatan yang adil untuk tumbuh sesuai potensi yang Allah titipkan.
Mungkin itulah sebabnya saya selalu menyambut setiap tahun pelajaran dengan harapan yang sama. Di balik wajah-wajah baru yang datang dengan kemampuan, pengalaman, dan latar belakang yang berbeda, selalu tersimpan kemungkinan lahirnya generasi yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga menjadikan nilai-nilainya sebagai cara berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan. Selama keyakinan itu tetap terpelihara, ruang-ruang kelas di madrasah akan selalu menjadi tempat terbaik untuk menyemai cahaya, satu ayat, satu hati, dan satu generasi pada satu waktu.****(Fataty)












Tinggalkan Balasan