Mercusuar dan Panggung Kabut. Di sebuah kota pelabuhan yang sibuk, berdirilah sebuah menara tua yang orang menyebutnya sebagai mercusuar pengetahuan. Dari luar, bangunannya tampak megah. Cat dindingnya selalu baru, halamannya bersih, dan lampu depannya terang benderang. Setiap tamu penting yang datang selalu berakhiran dengan berfoto di sana. Meski, para pekerja yang berada di dalamnya tahu, retak-retak halus mulai memenuhi bangunan tersebut, meski poster motivasi sengaja menutupinya.
Mercusuar
Pemimpin mercusuar itu adalah seorang pengagum gema. Ia menyukai tepuk tangan lebih daripada percakapan jujur. Ia paham berdiri di depan kamera, tetapi sering lupa nama orang-orang yang bekerja hingga larut malam menjaga ruang mesin. Baginya, ukuran kesetiaan bukan dari kerja sunyi, melainkan dari seberapa sering seseorang mengangguk ketika ia berbicara.
Ia jarang melihat ke bawah. Pandangannya selalu ke atas. Ke balkon para pejabat, ke ruang tamu kolega penting, menuju meja-meja, yang mungkin bisa memperpanjang pengaruhnya. Sementara, menganggap orang-orang yang bekerja di bawah tangga hanya bagian dari furnitur organisasi.
Di antara para pekerja itu, ada seorang lelaki yang bertahun-tahun menjaga nyala lampu mercusuar tetap hidup. Ia bukan orang yang pandai mencari muka. Ia terlalu sibuk memeriksa kabel-kabel yang mulai rapuh, memperbaiki peta yang salah cetak, dan memastikan kapal-kapal kecil selamat.
Setiap kali pemimpin lupa pada detail, lelaki itu memperbaikinya dalam sunyi. Setiap kali pidato terdengar lebih tinggi daripada kenyataan, lelaki itu menurunkan nadanya agar tidak melukai banyak orang. Saban hari ada kebocoran kecil dalam sistem, lelaki itu menampung airnya dengan telapak tangannya sendiri.
Lama-kelamaan, ia sadar bahwa dia bukan lagi pekerja, melainkan tambalan. Ia bermanfaat untuk menjaga ilusi bahwa semuanya baik-baik saja. Dan, sebagaimana semua tambalan, dia mulai lelah menahan tekanan.
Panggung
Suatu hari ia menulis sepucuk surat pendek. Isinya sederhana. Ia ingin kembali mengajar para calon pelaut muda di ruang-ruang kecil yang jujur. Ia ingin kembali berbicara tentang arah angin. Tentang integritas kompas, perihal bagaimana kapal besar justru tenggelam ketika orang-orang di anjungan sibuk bercermin.
Tetapi surat itu tidak pernah benar-benar terjawab. Surat itu berpindah dari meja ke laci meja. Dibatalkan, kata seorang staf administrasi dengan nada birokratis. Barangkali pemimpin mercusuar itu sadar. Lampu panggung tetap bisa menyala terang, tetapi ruang mesin akan gelap jika lelaki itu pergi.
Maka hari-hari pun berjalan ganjil. Pidato tetap berlangsung. Foto-foto tetap terunggah. Spanduk-spanduk baru tetap terpasang. Namun lelaki itu mulai belajar sesuatu yang penting, tidak semua kerusakan harus ia perbaiki sendiri.
Ada organisasi yang sehat karena sistemnya baik. Ada pula organisasi yang bertahan hanya karena masih ada orang-orang diam yang rela memikul beban tanpa suara. Dan ketika orang-orang diam itu mulai lelah, biasanya bukan mereka yang pertama runtuh. Melainkan kesabaran mereka yang selama ini menyangga topeng-topeng tersebut.
Pada suatu senja, lelaki itu berdiri di tepi dermaga memandang laut. Ia sadar, ombak tidak pernah sibuk menjelaskan dirinya. Laut tidak memerlukan pencitraan agar tetap luas. Mercusuar sejati tidak sibuk memantulkan cahaya ke dirinya sendiri. Ia hanya memastikan kapal lain menemukan jalan pulang.
Namun kehidupan organisasi sering memiliki ironi yang aneh. Orang yang paling banyak bekerja justru paling sedikit tersebut namanya. Sementara mereka yang pandai merangkai citra sering tampak seolah menjadi pusat dari seluruh keberhasilan. Di ruang-ruang rapat, ukuran kontribusi perlahan bergeser. Bukan lagi siapa yang memperbaiki arah kapal, melainkan siapa yang paling pandai berdiri dekat kemudi ketika kamera menyala.
Kabut
Lelaki penjaga mercusuar itu perlahan memahami satu kenyataan pahit. Ada pemimpin yang mencintai institusi, tetapi ada pula yang hanya mencintai pantulan dirinya sendiri di dalam institusi. Perbedaannya sangat tipis, tetapi dampaknya sangat besar.
Pemimpin yang mencintai institusi akan sibuk membangun manusia. Ia tidak takut pada orang-orang cerdas di sekelilingnya. Ia justru menumbuhkan mereka agar organisasi memiliki akar kuat ketika dirinya kelak pergi. Sebaliknya, pemimpin yang mencintai citra akan lebih sibuk membangun panggung. Ia membutuhkan tepuk tangan terus-menerus, sebab tanpa sorak-sorai, ia diam-diam takut terlihat biasa saja.
Karena itu, organisasi seperti ini sering penuh dengan kelelahan sunyi. Orang-orang baik memilih diam demi menjaga keadaan tetap tenang. Orang-orang teliti terpaksa menambal kekacauan yang tak pernah selesai. Dan orang-orang idealis perlahan belajar bahwa mempertahankan integritas terkadang jauh lebih melelahkan daripada menyelesaikan pekerjaan itu sendiri.
Tetapi lelaki itu akhirnya mengerti satu hal penting. Ia tidak lahir hanya sebagai penyangga kepalsuan. Ia tidak harus mengorbankan seluruh ketenangan batinnya demi mempertahankan bangunan yang bahkan enggan memperbaiki fondasinya sendiri. Maka ia berhenti bertarung dengan ambisi orang lain.
Ia memilih kembali merawat hal-hal yang lebih bermakna. Ia mengajar dengan jujur, menulis dengan nurani, dan meninggalkan jejak pengetahuan yang mungkin tidak viral. Dia berprinsip hidup lebih lama, ketimbang spanduk-spanduk pujian sesaat.
Sebab pada akhirnya, sejarah jarang mengingat siapa yang paling sering tampil di panggung. Sejarah lebih lama mengenang mereka yang diam-diam menjaga cahaya ketika banyak orang sibuk mengejar sorotan.
Dan, laut telah mengajarkan semuanya sejak dahulu. Kapal yang selamat bukan selalu kapal yang paling indah catnya, melainkan kapal yang paling kuat menjaga arah di tengah badai.















Tinggalkan Balasan