JEMBER – Penguatan karakter, kepemimpinan, dan kemandirian siswa dapat dilatih melalui kegiatan survival leader camp (SLC). Inilah yang dilakukan oleh SMPN 2 Gumukmas melalui tema Survival Leader Camp Gerakan Karakter Juara pada Kamis, 18 Juni 2026 di Candi Deres, Kecamatan Gumukmas. Sebanyak 52 siswa dibekali kegiatan dengan pendekatan belajar yang menyenangkan dan berbasis pengalaman langsung.
Kegiatan tersebut menghadirkan trainer Dr. Akhmad Rudy Masrukhin. Sejumlah guru pendamping tampak terlibat sebagai fasilitator, di antaranya guru bimbingan dan konseling serta guru mata pelajaran.
Rangkaian kegiatan diawali dengan salat Duha bersama di sekolah. Setelah itu, seluruh peserta melakukan jalan sehat menuju Candi Deres sebagai bagian dari pembiasaan hidup sehat sekaligus melatih ketahanan fisik. Setibanya di lokasi, para siswa mengikuti sesi contact behavior untuk membangun kedekatan dan kepercayaan diri, kemudian mengerjakan pre-test sebagai instrumen pemetaan kondisi awal peserta.
Selanjutnya, peserta dibagi menjadi tujuh regu untuk mengikuti berbagai aktivitas dinamika kelompok. Beragam materi disajikan dalam kegiatan ini, antara lain kepemimpinan, kemandirian, literasi digital, public speaking, dinamika kelompok, serta permainan bentengan yang menuntut kerja sama tim, strategi, dan komunikasi yang efektif.
Konsep belajar sambil bermain menjadi daya tarik tersendiri dalam kegiatan ini. Selain mendapatkan materi di dalam ruangan, peserta diajak melakukan berbagai aktivitas survival di alam terbuka yang menantang sekaligus menyenangkan. Melalui pengalaman tersebut, siswa diharapkan mampu mengenali potensi diri, meningkatkan kemampuan bersosialisasi, serta membangun karakter positif dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Nikmah, sapaan akrab Ni’matul Khoiroh, kegiatan ini merupakan bentuk layanan sekolah kepada siswa yang membutuhkan penguatan karakter dan keterampilan hidup.
“Melalui acara ini, kami ingin memberikan pelayanan kepada anak-anak yang mungkin sedikit mengalami kesulitan dalam belajar, bersosialisasi, ataupun belum mampu memanajemen waktu dengan baik. Setelah satu bulan, kami akan mengevaluasi hasilnya,” tegasnya.
Sementara itu, Rudy menekankan bahwa kunci kegiatan ini adalah anak-anak akan membuat program harian yang harus ditandatangani oleh kedua orang tua atau wali serta wali kelasnya. Program ini diharapkan dapat membantu mereka membangun kebiasaan positif secara konsisten,” jelasnya.
Antusiasme peserta tampak sejak awal hingga akhir kegiatan. Mereka aktif mengikuti setiap sesi, berdiskusi dalam kelompok, hingga berpartisipasi dalam berbagai permainan edukatif yang telah disiapkan fasilitator.
Salah satu peserta, Jackson, mengaku sangat senang mengikuti kegiatan tersebut. “Saya ingin ikut kegiatan seperti ini lagi karena seru, banyak teman, dan mendapatkan banyak pelajaran baru,” ucapnya. (nok/eko)











Tinggalkan Balasan