Menakar Terang di Balik Dapur

Menakar Terang di Balik Dapur
Perjuangan Kartini dalam Keseharian (Ilustrasi by OpenAI)

Pagi masih basah oleh embun ketika ia menutup pintu rumahnya pelan-pelan. Di dalam, seorang anak masih terlelap, sementara suaminya bersiap mencari pekerjaan yang tak selalu pasti datang. Ia mengunci pintu bukan untuk meninggalkan rumah, tapi untuk menunda sejenak perannya sebagai ibu. Ia menjalankan peran lain, menjadi penopang ekonomi keluarga.

Langkahnya ringan, tapi pikirannya penuh. Rumah pertama menunggu, lalu rumah kedua, bahkan kadang bertambah rumah ketiga, jika ada panggilan. Ia membersihkan lantai, mencuci piring, menyapu halaman, merapikan tempat tidur. Rangkaian pekerjaan sama seperti yang ia lakukan di rumahnya sendiri, hanya saja kali ini ia mendapat upah, meski tak seberapa.

Menjelang siang, tangannya mulai letih, tapi ia belum selesai. Di sela-sela pekerjaan, ia sering bertanya dalam diam, apakah ini namanya “berdaya”? Pertanyaan itu terasa sederhana, tapi jawabannya tidak.

***

Tanggal 21 April baru saja lewat. Kita kembali mengingat Kartini, tentang surat-suratnya, tentang mimpinya akan perempuan yang merdeka berpikir dan menentukan hidupnya. “Habis gelap terbitlah terang,” begitu kita mengutipnya, berulang-ulang, setiap tahun. Namun di banyak sudut negeri ini, terang itu terasa seperti janji yang belum sepenuhnya tiba.

Perempuan sepertinya, yang setiap hari keluar rumah untuk membersihkan rumah orang lain. Adalah potret yang jarang hadir dalam pidato-pidato perayaan. Ia tidak berbicara tentang emansipasi. Ia tidak menulis gagasan besar. Tapi tubuhnya, waktunya, dan tenaganya adalah bentuk paling nyata dari perjuangan itu sendiri. Dia bekerja bukan karena pilihan yang luas, melainkan karena pilihan yang sempit.

Suaminya bukan pemalas. Ia bekerja sebagai pemborong bangunan, tapi pekerjaan itu datang dan pergi seperti musim. Ketika proyek berhenti, penghasilan ikut menghilang. Di titik itulah, ia melangkah keluar, mengisi kekosongan yang tak bisa dibiarkan terlalu lama. Namun langkah itu tidak serta-merta membebaskannya.

Sepulang kerja, ia kembali ke rumah. Menjadi ibu. Menjadi pengurus rumah tangga. Sebagai penjaga kesehatan keluarga. Dunia tidak membagi peran itu secara adil. Ia hanya menambahkan peran baru di atas yang lama.

Dan masyarakat, dengan caranya sendiri, ikut memberi penilaian. Jika ia bekerja, ada yang berbisik: “Siapa yang mengurus anaknya?” Jika ia tinggal di rumah, pertanyaan lain muncul, “Kenapa tidak membantu ekonomi keluarga?” Di antara dua tuntutan itu, ia berjalan tanpa benar-benar punya ruang untuk memilih tanpa menghakimi.

***

Kisah ini bukan satu-dua. Ia berlipat ganda menjadi jutaan. Data menunjukkan jutaan perempuan Indonesia bekerja di sektor perawatan. Mulai menjadi pekerja rumah tangga, pengasuh anak, perawat lansia, meski dengan upah rendah dan perlindungan minim. Mereka menopang kehidupan banyak keluarga, tapi sering kali hidupnya sendiri tetap rapuh.

Lebih jauh lagi, ada perempuan yang bahkan belum sempat memilih. Kemiskinan memaksa mereka putus sekolah, lalu menikah di usia yang terlalu muda. Dari sana, lingkaran yang sama berulang, ketergantungan ekonomi, beban domestik, dan kerentanan yang sulit diputus. Di titik ini, kita perlu jujur, bahwa persoalan ini bukan semata soal pilihan individu, melainkan struktur.

Norma patriarki masih menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama urusan domestik, bahkan ketika mereka juga bekerja. Sementara kebijakan belum sepenuhnya hadir untuk melindungi mereka, baik dari sisi kesehatan, pekerjaan layak, maupun pendidikan.

Akibatnya, apa yang terlihat sebagai “kebebasan” sering kali hanya ilusi. Perempuan boleh keluar rumah, boleh bekerja, boleh berpendidikan tinggi. Tapi pada saat yang sama, mereka tetap dibebani ekspektasi lama yang tidak pernah benar-benar dihapus. Kebebasan yang tidak disertai keadilan, pada akhirnya hanya menjadi beban baru.

***

Kartini mungkin tidak pernah membayangkan bahwa lebih dari satu abad setelah surat-suratnya dibukukan, perempuan masih harus bernegosiasi sedemikian rupa dengan hidupnya sendiri. Ia bermimpi tentang perempuan yang bisa berpikir dan menentukan nasibnya. Tapi hari ini, banyak perempuan masih harus menukar waktu, tenaga, bahkan kesehatan mereka hanya untuk memastikan keluarganya tetap bertahan.

Jika Kartini hidup hari ini, mungkin ia tidak hanya akan menulis surat. Ia mungkin akan turun ke gang-gang sempit, menyapa perempuan-perempuan yang berangkat pagi dan pulang petang, dan bertanya: “Di mana terang itu kita letakkan?” Pertanyaan itu seharusnya juga kita tujukan pada diri sendiri. Apakah kita sudah benar-benar menciptakan ruang yang adil bagi perempuan? Ataukah kita hanya merayakan simbol, tanpa membenahi kenyataan?

***

Sore hari, ia kembali ke rumahnya. Anak yang tadi tertidur kini berlari menyambut. Ia tersenyum, menahan lelah yang tak sempat diceritakan. Di dapur kecilnya, ia kembali bekerja, kali ini tanpa upah, tanpa jeda. Hari itu hampir selesai. Besok akan berulang lagi. Di balik rutinitas yang tampak biasa itu, sesungguhnya ada pertanyaan besar yang terus menggantung: apakah ini sudah terang, atau kita hanya belajar terbiasa berjalan dalam gelap yang sedikit diterangi?

Kartini pernah menyalakan api kecil dari pikirannya. Tugas kita hari ini bukan sekadar mengenangnya, tapi memastikan api itu benar-benar menjadi cahaya. Bukan hanya di ruang-ruang wacana, melainkan di dapur-dapur sempit, di langkah-langkah lelah perempuan yang tak pernah berhenti menjaga hidup tetap menyala.