Gizi Gratis, Kantin Terpinggirkan

Gizi Gratis, Kantin Terpinggirkan
Sumber Foto : Media Indonesia

Gizi Gratis, Kantin Terpinggirkan. Pada awalnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) melaju kencang di 2026. Kedua, Rp335 triliun anggaran nasional pastikan 82 juta anak sekolah dapat nasi, lauk, susu bergizi setiap hari. Ketiga, konsepnya mulia, siapa berani tolak upaya pemerintah berantas stunting? Bahkan, Prabowo Subianto janji revolusi gizi anak miskin. Ketiga, target ambisius, 30% penurunan prevalensi stunting dalam dua tahun. Data menampar, 21,6% anak Indonesia masih kerdil akibat kekurangan gizi kronis. Sehingga, MBG hadir sebagai senjata utama.

Tapi di balik euforia keberhasilan, ada korban tak kasat mata. Di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, ibu-ibu kantin sekolah jerit pelan. Kantin bukan sekadar warung kecil. Ia ekosistem ekonomi mikro yang hidup dari perputaran stabil Rp1.000-5.000 per siswa harian. Camilan, bakso, es teh, cilok, penghasilan pokok keluarga kecil. Modal harian Rp200-500 ribu, untung bersih Rp300-800 ribu. Stabil, halal, cukup bayar sekolah anak dan cicil motor.

Namun, kini ritme rusak, siswa kenyang gratis, kantin sepi. Di SMPN 138 Jakarta, Wati (40) omzet harian ambruk dari Rp700-800 ribu jadi Rp400 ribu. Kemudian, Ninu di sekolah lain, Rp1,2 juta menyusut separuh. Stok mie instan, sosis, telur busuk di kulkas. Di SMPN 2 Kepanjen Malang, pedagang bakso Ria Mulyani porsi jualan turun 75%, 70 mangkok jadi 15-25 per hari. Stok mie ayam menurun dari 5 kg jadi 3 kg. Biaya sewa kantin Rp3 juta per tahun tetap mencekik.

Ironi paling pahit, penyuplai besar berlomba rebut kontrak MBG. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pesan skala nasional, ratusan juta porsi telur, daging ayam, susu, tempe. Harga premium, bayar tepat waktu. Penyuplai UMKM besar untung miliaran. Tapi ibu kantin mikro? Tereliminasi. Modal Rp5-10 juta tak cukup tender nasional. Yang tersisa, harga bahan baku melambung. Telur naik 25%, daging ayam 30%, susu UHT 15% akibat permintaan MBG rakus. Pedagang kecil tak sanggup beli stok. Omzet turun 40-75%, biaya operasional naik 20-30%. Resep kematian pelan.

Di Jakarta, Asosiasi Pedagang Kantin Pusat meminta insentif darurat ke Pak Prabowo: “Tolong sampaikan jeritan kami.” Surabaya catat 60% kantin negeri kekurangan modal operasional. Bandung, 200 UMKM kantin terancam tutup massal. Data BGN akui dampak makro positif, 800 ribu tenaga kerja terserap rantai pasok nasional. Tapi UMKM mikro pinggiran sekolah tak tersentuh manfaat. Mereka bukan penerima kontrak, tapi korban kebijakan.

Pemerintah bangga, 95% cakupan layanan MBG di 38 provinsi. Anak bergizi, prestasi akademik naik 12%, absensi 15%. Data emas. Tapi narasi sukses ini tutup mata pada realitas sosial. Ibu kantin ini tulang punggung keluarga. Suami buruh harian, anak kuliah swasta. Penghasilan kantin tutup kebutuhan rumah tangga. Kini? Tagihan listrik telat, anak putus kuliah, dagangan habis masa kadaluarsa. MBG beri makan anak orang, tapi biarkan ibu-ibu kelaparan.

Kebijakan besar tak boleh buta dampak mikro. Solusi ada di tangan pemerintah:

  1. Integrasi Kantin Lokal

Libatkan ibu kantin jadi subkontraktor SPPG. Kemudian, suplai lauk tambahan (tempe bacem, ayam goreng, sayur urap) untuk MBG. Setelah itu, kontrak Rp10-15 ribu per porsi, bayar mingguan. Sehingga, gizi anak terjaga, ibu kantin dapat omzet stabil. Akhirnya, model Bandung sudah berhasil, 45 kantin ikut program, omzet pulih 70%.

  1. Subsidi Bahan Baku Mikro

Pertama, beri insentif berupa voucher khusus UMKM kantin beli telur, daging, sayur harga BGN. Relaksasi sewa kantin 50% selama 6 bulan transisi. Sehingga, dana Rp500 miliar cukup selamatkan 100 ribu pedagang mikro nasional.

  1. Diversifikasi Produk

Pertama, pelatihan gratis, jual minuman premium (kopi susu, thai tea), snack kekinian (keripik pedas, donat mini), katering arisan warga. Ubah kantin jadi pusat UMKM sekolah. Contohnya, SMA Frater Makassar sudah terapkan, penurunan omzet terkendali 20%.

  1. Data Mikro Real Time

Dashboard nasional pantau dampak MBG ke UMKM lokal. Target, nol kantin tutup akibat program. Kementerian Koperasi dampingi restrukturisasi 50 ribu pedagang dalam 3 bulan.

Jangan Nodai Revolusi Gizi

Pertama, kita tidak sedang memusuhi MBG. Artinya, program revolusioner ini harus kian sempurna, tetapi jangan biarkan timpakan korban. Kedua, bayangkan setiap hari 82 juta anak tersenyum bahagia dengan piring gizi penuh. Sementara, 100 ribu ibu kantin menangis diam di sudut sekolah. Sehingga, mereka yang bangun subuh masak lauk, senyum melayani anak-anak nakal, kini hitung receh sisa dagang busuk.

Prabowo janji Indonesia Emas 2045. Emas untuk siapa? Jika ibu-ibu kantin, pahlawan ekonomi mikro berjatuhan, fondasi bangsa retak. Satu ibu kantin tutup = satu keluarga kelaparan = satu anak putus sekolah = satu mimpi Indonesia Emas sirna.

Pak Prabowo, dengar jeritan ini! Integrasi, subsidi, dan diversifikasi, tiga kunci selamatkan mereka. Jangan biarkan kebijakan mulia berubah racun sosial. Membangun negara kuat di atas keadilan mikro, bukan euforia makro semata. Selamatkan ibu kantin hari ini, atau nodai revolusi gizi selamanya.