Pagi itu, sebuah rapat sedang tergelar. Agenda pertama dari lima agenda yang sudah tersusun rapi sejak malam sebelumnya. Kalender penuh, notifikasi berdenting, bahkan belum sempat menikmati secangkir kopi yang telah tersaji.
Di layar, wajah-wajah muncul satu per satu. Beberapa tersenyum, beberapa terlihat serius, dan sebagian lagi… tampak sibuk memastikan kamera tetap menyala tanpa benar-benar hadir.
“Baik, kita mulai ya,” kata seseorang dengan suara yang terdengar profesional. Sebuah penanda rapat segera berlangsung. Pembahasan berjalan, slide demi slide terpapar. Pemimpin rapat menulis catatan demi catatan. Sesekali ada yang mengangguk, sesekali ada yang menimpali dengan kalimat yang terdengar penting.
“Ini perlu kita follow up.”
“Kita harus kaji lebih dalam.”
“Nanti kita buat tim kecil.”
Kalimat-kalimat itu bertebaran seperti konfeti. Terkesan indah, meski sering kali jatuh tanpa arah. Satu jam berlalu. Pemimpin menutup rapat dengan kesepakatan, yang terasa… belum sepenuhnya jelas.
“Baik, nanti kita lanjutkan di meeting berikutnya.”
Semua mengangguk. Semua tampak puas. Seluruh peserta merasa sudah bekerja. Padahal, jika ditanya satu pertanyaan sederhana. “Apa yang benar-benar selesai hari ini?” Seluruh ruangan, mungkin akan hening.
***
Siang harinya, aktivitas berlanjut. Email masuk bertubi-tubi. Pesan singkat berdatangan tanpa jeda. Tugas-tugas kecil muncul seperti jamur di musim hujan. Semuanya terasa mendesak, dan seluruhnya tampak penting. Dan kita, tanpa sadar, mulai tenggelam dalam ritme yang sama, yaitu sibuk.
Sibuk membalas, aktif mencatat, giat menghadiri, dan asyik menjelaskan. Namun di sela-sela kesibukan itu, ada satu hal yang sering luput, hasil. Kita bergerak sepanjang hari, tetapi tidak selalu menuju ke mana-mana.
Fenomena ini bukan hal baru. Ia sudah lama ada, hanya kini menjadi lebih canggih. Teknologi membuat kita bisa melakukan banyak hal sekaligus. Ironisnya, membuat kita semakin sulit membedakan antara produktif dan sekadar aktif. Karena di dunia hari ini, terlihat sibuk sering kali lebih berharga daripada benar-benar efektif.
Kalender penuh berarti tanda dedikasi. Balasan cepat penanda bukti komitmen, dan rapat yang panjang sebagai tanda keseriusan. Padahal, semua itu bisa saja hanya… aktivitas tanpa arah. Di titik ini, satire menjadi terasa sangat dekat. Kita hidup di zaman di mana kesibukan menjadi semacam identitas.
“Lagi sibuk banget.”
“Full meeting dari pagi.”
“Belum sempat istirahat.”
Kalimat-kalimat itu sering terucap dengan nada yang hampir… membanggakan. Seolah-olah, semakin sibuk seseorang, semakin penting ia terlihat. Padahal, bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya. Kesibukan, dalam banyak kasus, menjadi topeng paling rapi untuk menyembunyikan ketidakjelasan.
Ketika arah tidak jelas, kita isi dengan aktivitas. Bila tujuan belum pasti, kita tutupi dengan rapat. Jika sulit mengambil keputusan, kita perpanjang diskusi. Dan tanpa sadar, kita menciptakan ilusi produktivitas.
***
Saya pernah melihat seseorang yang tampak sangat sibuk sepanjang hari. Ia menghadiri rapat, menulis laporan, berdiskusi, dan terus bergerak dari satu agenda ke agenda lain. Namun di akhir hari, ia berkata dengan jujur, “Saya capek, tapi tidak tahu apa yang benar-benar saya selesaikan.”
Kalimat itu sederhana, tapi jujur. Dan mungkin, lebih banyak orang yang merasakannya daripada yang berani mengakuinya. Karena mengakui bahwa kita sibuk tanpa hasil bukan hal yang mudah. Ia menuntut keberanian untuk bercermin. Bahwa yang kita kejar bukan produktivitas, melainkan persepsi.
Persepsi bahwa kita bekerja keras. Cerapan bahwa kita penting. Impresi bahwa kita tidak menyia-nyiakan waktu. Padahal, produktivitas sejati tidak selalu terlihat ramai. Ia justru sering sunyi.
Ia hadir dalam fokus yang utuh. Dalam keputusan yang jelas, dan melalui pekerjaan yang benar-benar selesai. Bukan dalam banyaknya rapat, tetapi dalam sedikitnya hal yang benar-benar tuntas.
***
Di tengah dunia yang semakin bising ini, mungkin kita perlu mengajukan pertanyaan sederhana. Apakah saya benar-benar produktif, atau hanya terlihat sibuk? Pertanyaan ini tidak selalu nyaman. Tapi justru di situlah nilainya. Karena dari sana, kita bisa mulai memilah.
Mana yang benar-benar penting. Apa yang hanya terasa penting. Mengapa perlu dilakukan. Atau, apakah bisa ditinggalkan.
Sehingga kita akan menemukan bahwa tidak selalu hadir dalam semua rapat. Tidak perlu membalas semua pesan, bahkan belum perlu menanggapinya. Karena, sebuah produktifitas adalah memilih untuk tidak melakukan sesuatu
Pada akhirnya, menjadi produktif bukan tentang seberapa penuh kalender kita. Tidak tentang seberapa cepat kita merespon. Dan tanpa seberapa sibuk kita terlihat. Melainkan tentang seberapa jelas kita tahu apa yang ingin dicapai, dan seberapa konsisten kita bergerak ke arah itu.
Karena sibuk itu mudah. Yang sulit adalah jelas. Dan di dunia yang memuja kesibukan ini, mungkin keberanian terbesar adalah berhenti sejenak, lalu bertanya. Apakah semua ini benar-benar membawa saya ke tujuan? Atau hanya membuat saya terlihat sedang berjalan?
















Tinggalkan Balasan