Stabil di Atas, Rapuh di Bawah. Setiap kali angka-angka ekonomi terpaparkan, seperti mengajak kita melihat laut dari kejauhan. Permukaannya tampak tenang, bahkan meyakinkan. Gelombang terlihat jinak, garis horizon lurus, dan kapal-kapal tampak berlayar tanpa hambatan. Dari kejauhan, semuanya terlihat stabil.
Meski, siapa pun yang pernah berada di atas kapal tahu, bahwa laut tidak pernah sesederhana yang terlihat dari darat. Ada arus bawah yang tak kasat mata. Muncul gelombang yang datang tanpa aba-aba. Dan, terdapat momen ketika ketenangan di permukaan justru menipu, setelah badai bergerak diam-diam dari kejauhan.
Begitulah kira-kira wajah ekonomi kita hari ini. Pemerintah, melalui berbagai pernyataan resmi, menyampaikan bahwa kondisi ekonomi nasional tetap kuat. Indikator makro menunjukkan tren positif. Pajak penghasilan, baik badan maupun pribadi, tumbuh dua digit. Inflasi terkendali dalam batas tertentu. Harga bahan bakar minyak bersubsidi terjaga stabil, sebagai upaya menahan tekanan harga.
Dari atas, semua terlihat baik-baik saja. Namun di bawah, cerita yang beredar berbeda. Di pasar-pasar tradisional, keluhan datang bukan dari satu dua orang. Pedagang dan pembeli sama-sama merasakan hal yang sama, harga-harga merangkak naik. Bukan hanya kebutuhan pokok, tetapi juga barang penunjang seperti plastik, kemasan, hingga biaya distribusi. Kenaikan ini mungkin tidak selalu tercatat dramatis dalam statistik, tetapi terasa nyata dalam transaksi sehari-hari.
Di sisi lain, kita tak bisa mengabaikan sinyal lain berupa menurunnya jumlah pemudik. Mudik bukan sekadar tradisi, melainkan indikator sosial-ekonomi. Ketika orang mulai menahan diri untuk pulang kampung, itu bukan semata soal pilihan, tetapi juga kemampuan.
Di titik ini, kita mulai melihat dua wajah ekonomi, stabil di atas, rapuh di bawah. Lalu datanglah penjelasan yang sudah akrab kita dengar, gejolak geopolitik global. Memang benar, dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Konflik di berbagai kawasan, ketegangan dagang antarnegara, hingga ketidakpastian rantai pasok global, semuanya memberi tekanan pada ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia.
Namun pertanyaannya sederhana, apakah ini penjelasan, atau sekadar alibi? Geopolitik bukanlah fenomena baru. Dunia telah lama hidup dalam dinamika konflik dan kepentingan. Krisis datang silih berganti, dari krisis finansial, pandemi, hingga ketegangan kawasan. Tetapi tidak semua negara meresponsnya dengan cara yang sama.
Di sinilah letak perbedaannya. Ada negara yang menjadikan gejolak global sebagai ujian ketahanan domestik. Mereka memperkuat fondasi ekonomi, memperdalam industrialisasi, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Mereka membangun kapal yang lebih kokoh untuk menghadapi badai.
Namun ada pula yang lebih sibuk mencari alasan dari luar, tanpa cukup berani bercermin ke dalam. Kritik ini bukan untuk menafikan peran faktor global, tetapi untuk menegaskan bahwa kita tidak bisa membangun ketahanan ekonomi saat badai datang. Perlu membangunnya jauh sebelumnya, kebijakan yang konsisten, reformasi yang berani, dan komitmen jangka panjang yang tidak tergoda oleh popularitas sesaat.
Di sinilah tesis kita menjadi jelas, pemerintah tampak sibuk meredam gejala, tetapi lupa menyembuhkan penyakit. Pengambilan kebijakan saat ini lebih bersifat reaktif. Menahan harga BBM untuk menjaga inflasi. Mengucurkan kredit besar ke perbankan untuk mendorong likuiditas. Menyiapkan bantuan sosial dan subsidi sebagai bantalan daya beli masyarakat.
Semua itu penting. Bahkan dalam kondisi tertentu, sangat perlu. Namun semuanya memiliki satu kesamaan, bersifat sementara. Seperti obat penahan nyeri, ia meredakan rasa sakit, tetapi tidak menghilangkan sumber penyakit. Dan ketika efeknya habis, rasa itu akan kembali, sering kali dengan intensitas yang sama, bahkan lebih kuat. Sementara itu, kebijakan yang bersifat kuratif, yang menyentuh akar persoalan, justru berjalan lambat, atau bahkan tersisih.
Pengembangan sumber daya manusia masih menghadapi tantangan kualitas dan pemerataan. Pemberantasan korupsi, yang seharusnya menjadi fondasi kepercayaan ekonomi, sering kali terjebak dalam dinamika yang melemahkan. Industrialisasi yang diharapkan mampu menciptakan nilai tambah dalam negeri belum bergerak secepat kebutuhan.
Sebaliknya, program-program populis lebih mudah mendapatkan ruang. Program yang cepat terlihat, klaim mudah dan efektif secara politik, meskipun dampak jangka panjangnya belum tentu signifikan. Di sinilah siklus itu terbentuk.
Setiap kali krisis datang, kita kembali pada pola yang sama, meredam, menahan, dan berharap badai segera berlalu. Ketika kondisi membaik, momentum untuk melakukan perbaikan struktural kembali terlewatkan. Lalu, ketika krisis berikutnya datang, kita kembali mengulang dari titik yang sama.
Seperti kapal yang terus berlayar tanpa pernah benar-benar memperbaiki. Sebagai bangsa maritim, kita seharusnya memahami satu hal sederhana, laut tidak bisa dihindari, tetapi dengan memperkuat kapal.
Geopolitik akan selalu berubah. Harga komoditas selalu naik turun. Krisis segera datang dalam bentuk yang berbeda-beda. Tetapi jika fondasi ekonomi kita kuat, maka setiap badai tidak lagi menjadi ancaman eksistensial. Kita akan mudah melalui setiap tantangan.
Masalahnya, memperkuat fondasi tidak pernah menjadi pekerjaan yang cepat atau populer. Ia membutuhkan waktu, konsistensi, dan keberanian untuk mengambil keputusan yang mungkin tidak langsung terasa. Namun di situlah letak kepemimpinan sejati. Bukan pada kemampuan meredam gejolak sesaat, tetapi pada keberanian membangun ketahanan jangka panjang.
Hari ini, mungkin kita masih bisa mengatakan bahwa ekonomi kita stabil. Angka-angka masih bisa tersusun rapi. Kita masih bisa membangun narasi optimisme. Namun jika kita jujur melihat ke bawah, ke denyut kehidupan sehari-hari masyarakat, kita akan menemukan kenyataan yang lebih kompleks.
Bahwa stabilitas itu belum sepenuhnya terasa. Ketika daya tahan itu belum benar-benar terbentuk. Dan, saat di balik ketenangan permukaan, ada kerapuhan yang perlahan menguat.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kita sedang baik-baik saja. Melainkan, sampai kapan kita bisa bertahan dengan cara seperti ini? Karena pada akhirnya, kita tak mampu menipu laut. Dan cepat atau lambat, ia akan menguji seberapa kuat kapal yang kita miliki.













Tinggalkan Balasan