Privilese Mindful di Tengah Bencana

Privilese Mindful di Tengah Bencana
Image by Pixabay

Privilese Mindful di Tengah Bencana. Linimasa media sosial tak pernah sepi dari kepungan kabar buruk. Bencana datang beruntun, mulai dari gempa di NTT, kebakaran hutan Kalimantan, hingga erupsi gunung api di Selat Sunda. Parahnya lagi, menyusul rentetan dampak kebijakan publik yang makin jauh dari kepentingan rakyat. Di tengah kabar yang menguras energi ini, wacana mindfulness mengemuka. Sebuah kegiatan untuk menjaga kesehatan mental dengan mengambil jarak dari berita buruk. Namun, ketika penyampaian ajakan berlatar belakang kenyamanan meja sarapan yang hangat, publik menangkap sesuatu yang hilang dari konsep dasarnya. Yaitu, empati kelas.

Mengambil Jarak Adalah Hak Istimewa

Alih-alih semua orang mampu menerapkannya, keputusan mematikan notifikasi berita buruk sejatinya adalah bentuk privilese kelas sosial. Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk “memilih” tidak peduli pada realitas yang sedang terjadi. Bagi masyarakat yang rumahnya terguncang gempa, paru-parunya terpapar asap karhutla, atau anak-anaknya terdampak krisis fasilitas publik. Maka, berita buruk bukanlah sekadar asupan konten di layar ponsel yang kapan saja kita mampu mengabaikannya.

Kenyataan pahit tersebut adalah jalan hidup harian yang harus mereka hadapi secara langsung tanpa jeda. Menyarankan detoks informasi kepada kelompok yang sedang bertahan hidup di tengah krisis. Hal itu memperlihatkan jarak yang sangat lebar antara realitas figur publik dengan masyarakat awam. Ketika prioritas kesehatan mental melalui tutup mata dari penderitaan sesama, mindfulness berisiko terdistorsi menjadi bentuk estetis yang membungkus apatisme.

Bahaya Apatisme Berkedok Kesehatan Mental

Menjauhi berita buruk secara total tidak hanya bermasalah secara etis, tetapi juga secara riset terbukti kurang efektif. Studi pada 2025 menunjukkan bahwa membatasi asupan informasi secara drastis justru berisiko tinggi mengikis kepedulian sosial dan menumpulkan daya kritis masyarakat. Ketika publik makin acuh terhadap isu-isu krusial, kontrol terhadap penyelewengan kebijakan dan krisis lingkungan akan makin melemah.

Sebagai jalan keluar, konsumsi media hendaknya bergeser dari sekadar mindful menjadi aligned—yaitu mengonsumsi berita secara selaras. Solusi ini menekankan bahwa hal paling mendasar bukanlah seberapa sedikit atau banyaknya informasi yang ditelan, melainkan bagaimana kita meresponsnya secara bijak. Kita tetap dituntut untuk menyerap informasi dari sumber tepercaya tanpa harus kehilangan kapasitas emosional untuk bersuara dan bertindak.

Membangun Pola Konsumsi Informasi Selaras

Pola konsumsi informasi yang sehat memerlukan keseimbangan antara menjaga kapasitas emosional diri dan mempertahankan kepedulian terhadap krisis sekitar. Masyarakat tidak perlu memilih antara menjadi depresi karena gempuran berita buruk atau menjadi acuh demi ketenangan pikiran sendiri. Rehat dari media sosial tentu diizinkan ketika beban emosional sudah melampaui batas, tetapi rehat tersebut diambil untuk mengisi kembali energi kepedulian, bukan untuk melarikan diri permanen dari kenyataan sosial.

Strategi ini jauh lebih inklusif dan masuk akal untuk diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang ekonomi. Setiap warga negara berhak menjaga ketenangan batinnya sekaligus menyisakan ruang empati untuk mengawasi jalannya kekuasaan. Dengan cara ini, kepekaan publik tetap terjaga tanpa harus mengorbankan stabilitas jiwa secara berlebihan.

Empati di Atas Ragam Meja Sarapan

Kesadaran sejati tidak diukur dari seberapa steril layar ponsel kita dari krisis dunia, melainkan dari seberapa jauh kita bersedia peduli pada nasib sesama di luar batas kenyamanan diri. Mengambil jarak dari berita buruk mungkin menjadi pilihan yang mudah bagi sebagian orang, namun bagi sebagian besar lainnya, perjuangan bertahan hidup di tengah bencana adalah satu-satunya pilihan yang mereka miliki.

Pola konsumsi informasi yang selaras adalah jembatan realistis untuk semua orang—terlepas dari apa menu sarapan kita pagi ini: sepiring sandwich yang rapi, nasi goreng sisa semalam, atau bahkan mereka yang tak sempat sarapan sama sekali karena harus terburu-buru mengejar ketertinggalan hidup. Sebab pada akhirnya, empati tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya dimiliki oleh mereka yang merasa aman dari bencana.

Menjaga Api Empati di Tengah Pusaran Krisis

Pada akhirnya, mindfulness yang sejati bukanlah tentang membangun tembok tebal antara ketenangan pribadi dengan penderitaan orang lain. Ketika kesadaran diri berubah menjadi alasan untuk menutup mata dari realitas sosial, kita sejatinya sedang menukar empati dengan sikap apatis yang dingin. Menjaga kesehatan mental memang sebuah kebutuhan dasar, namun melarikan diri secara permanen dari isu-isu krusial di sekitar kita adalah bentuk pengabaian terhadap kemanusiaan itu sendiri.

Masyarakat sipil membutuhkan daya kritis yang tetap menyala untuk mengawasi setiap jengkal kebijakan dan merespons setiap krisis ekologis yang terjadi. Mengonsumsi berita secara selaras mengajarkan kita untuk mengatur ritme emosi tanpa harus memadamkan kepedulian. Kita rehat sejenak bukan untuk melupakan, melainkan untuk mengumpulkan energi agar dapat kembali bersuara dan bergandengan tangan dengan mereka yang membutuhkan.

Di atas perbedaan kelas dan latar belakang, keberadaan kita sebagai sesama warga negara diikat oleh rasa saling peduli. Jangan biarkan kenyamanan pribadi tumpul oleh dinginnya sikap tak acuh. Sebab, ketenangan batin yang sejati tidak ditemukan dalam ruang steril yang terisolasi, melainkan dalam keberanian kita untuk tetap hadir, menyimak, dan berbagi empati di tengah pusaran krisis bangsa.