PCNU Kota Mojokerto Awali Gerakan Penulisan Sejarah NU

Mojokerto – Ikhtiar melestarikan jejak perjuangan ulama dan Nahdlatul Ulama di Kota Mojokerto memasuki babak baru melalui kegiatan Metodologi Riset dan Penulisan Sejarah NU yang digelar PC ISNU Kota Mojokerto di Kantor PCNU Kota Mojokerto, Jumat (24/7/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung pukul 20.00–22.00 WIB ini menjadi pijakan awal untuk menginisiasi penyusunan buku sejarah NU Kota Mojokerto berbasis riset sekaligus menginventarisasi kiprah para ulama dan tokoh NU di daerah.

Ketua LESBUMI PWNU Jawa Timur, Riadi Ngasiran, sebagai narasumber menegaskan bahwa penulisan sejarah harus berpijak pada data yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia menjelaskan, sumber lisan tetap memiliki bobot ilmiah selama peneliti mencantumkan identitas narasumber, waktu wawancara, serta melakukan verifikasi dengan arsip, dokumen, dan literatur sejarah yang kredibel.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi tanya jawab. Perwakilan LTN NU, GP Ansor, IPNU, IPPNU, hingga MWCNU menanyakan langkah teknis melakukan penelitian ketika dokumen tertulis sulit ditemukan. Menanggapi hal tersebut, Riadi menyarankan agar peneliti memulai dengan menggali kesaksian para pelaku sejarah maupun keluarga tokoh, kemudian menguji informasi tersebut melalui arsip organisasi, pemberitaan media, dokumen pemerintahan, dan referensi sejarah lainnya sehingga menghasilkan karya historiografi yang valid.

Dalam paparannya, Riadi juga menekankan pentingnya mengangkat sejarah NU dari level lokal sebagai bagian integral sejarah nasional. Menurutnya, kontribusi ulama, santri, dan Nahdlatul Ulama tidak semestinya berada di pinggiran historiografi Indonesia, tetapi harus ditampilkan secara utuh melalui penulisan sejarah yang berbasis bukti.

Kegiatan dibuka oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Mojokerto, KH Moh. Shodiqin Marzuqon, dan dipandu Ketua PC ISNU Kota Mojokerto, Gus Saiful Amin. Melalui forum ini, PCNU Kota Mojokerto berharap lahir sebuah gerakan dokumentasi sejarah yang mampu melahirkan karya literasi tentang perjalanan NU di Kota Mojokerto sebagai warisan intelektual bagi generasi mendatang.(Fataty)