Negara +62: Semua Orang Ahli

Negara +62: Semua Orang Ahli
Diskusi seru di kafe tentang topik besar (Ilustrasi: OpenAI)

Negara +62: Semua Orang Ahli. Dulu, kalau ingin mendengar pendapat tentang ekonomi, kita harus mencari ekonom. Kalau ingin tahu soal kesehatan, kita bertanya pada dokter. Dan jika ingin memahami geopolitik, kita membaca analis atau akademisi.

Sekarang, semua itu tidak lagi diperlukan. Cukup buka kolom komentar. Di sanalah, sebuah negeri baru berdiri, negeri tanpa batas geografis, tanpa syarat gelar, dan tanpa verifikasi kompetensi. Negeri yang kita kenal dengan nama sederhana: +62. Di negeri ini, semua orang ahli.

Pertama, seseorang bisa menjelaskan mengapa nilai tukar rupiah melemah, lengkap dengan analisis global yang terdengar meyakinkan. Kedua, orang yang sama memberikan resep kesehatan, mulai dari cara meningkatkan imun hingga menyembuhkan penyakit kronis. Ketiga, ia beralih menjadi pengamat geopolitik, mengurai konflik antarnegara dengan keyakinan yang nyaris absolut.

Dan yang menarik, semua itu dilakukan dengan satu alat utama: komentar. Tidak perlu riset mendalam. Tak perlu data lengkap. Tanpa perlu ragu. Cukup satu kalimat tegas, satu opini kuat, dan satu keyakinan penuh. Selesai.

Fenomena ini sebenarnya tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari budaya lama yang berevolusi. Dulu, kita mengenal ruang diskusi bernama warung kopi. Tempat di mana orang-orang berkumpul, berbincang, dan saling bertukar pikiran.

Di sana, semua orang memang bebas berpendapat. Namun ada satu hal yang membuatnya berbeda, ada batas. Yaitu, batas ruang, sekat waktu, dan barier sosial.

Kalau kita berbicara terlalu jauh, ada teman yang menyanggah. Bila terlalu percaya diri, ada yang menertawakan. Jika terlalu ngawur, ada yang mengingatkan. Ada mekanisme alami yang menjaga keseimbangan.

Kini, warung kopi itu pindah ke ruang digital. Lebih luas, lebih cepat, dan… lebih sunyi.

Sunyi bukan karena tidak ada suara, tetapi karena tidak ada penyeimbang. Pertama, kita bisa berbicara panjang tanpa interupsi. Kedua, saya bisa berpendapat tanpa harus menghadapi ekspresi wajah orang lain. Ketiga, beta bisa merasa benar tanpa perlu verifikasi. Akhirnya, di situlah keyakinan tumbuh subur.

Di dunia digital, keyakinan sering kali lebih penting daripada kebenaran. Semakin yakin seseorang berbicara, semakin ia terdengar seperti ahli. Bahkan, dalam banyak kasus, keyakinan itu lebih memikat daripada data.

Data bisa membingungkan. Keyakinan terasa menenangkan. Apalagi bila menyampaikannya dengan bahasa sederhana dan nada tegas.

“Jelas ini salah kebijakan.”
“Seharusnya begini.”
“Pemerintah tidak paham.”

Kalimat-kalimat seperti itu tidak membutuhkan referensi. Ia hanya membutuhkan keberanian. Dan keberanian, di era ini, jauh lebih murah daripada pengetahuan.

Tidak heran jika kita kemudian hidup dalam kondisi yang unik. Sesungguhnya, kita tidak kekurangan pakar, hanya kelebihan keyakinan.

Setiap isu besar, ribuan menyambutya melalui “analisis instan”. Tidak peduli seberapa kompleks masalahnya. Ekonomi global, pandemi, konflik internasional. Satu paragraf opini bisa memadatkan seluruhnya.

Dan yang lebih menarik, opini itu sering kali terasa sangat meyakinkan. Padahal, jika kita tarik sedikit ke belakang, kita akan menyadari sesuatu yang sederhana, bahwa memahami sebuah persoalan itu butuh waktu. Butuh membaca. Perlu mendengar. Dan, terpenting mampu meragukan diri sendiri.

Namun dalam budaya yang serba cepat, proses itu terasa terlalu lama. Kita ingin segera tahu, lekas berpendapat, dan cepat terlihat paham. Karena di dunia digital, terlihat paham sering kali lebih penting daripada benar-benar paham.

Di titik ini, satire menjadi terasa nyata. Kita hidup di zaman di mana semua orang bisa menjadi ahli dalam hitungan detik. Paradoksalnya, semakin sedikit yang mau menjadi pembelajar dalam jangka panjang.

Kita lebih cepat berkomentar daripada membaca. Paling kilat menyimpulkan ketimbang memahami. Sangat cepat yakin mendahului bertanya.

Dan perlahan, kita membangun ilusi kolektif bahwa kita tahu banyak hal, padahal mungkin kita hanya tahu sedikit. Meskipun belum tentu benar.

Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang patut kita renungkan. Fenomena ini bukan hanya tentang “orang lain”. Ia juga tentang kita. Tentang bagaimana kita merespons informasi. Hal seberapa cepat kita merasa cukup tahu. Perihal seberapa sering kita lebih memilih berbicara daripada mendengar.

Mungkin kita semua, dalam kadar tertentu, pernah menjadi “ahli dadakan”, dan itu manusiawi. Pertanyaan besarnya adalah, apakah kita menyadarinya? Karena kesadaran adalah langkah pertama untuk kembali ke keseimbangan.

Bahwa tidak semua hal harus kita komentari. Bahwasannya tidak semua opini harus kita miliki. Sehingga tidak tahu bukanlah kelemahan, melainkan awal dari pemahaman.

Di tengah dunia yang penuh suara ini, mungkin kebijaksanaan justru terletak pada kemampuan untuk diam sejenak. Mendengar lebih lama. Membaca lebih dalam. Serta berpikir lebih jernih.

Karena pada akhirnya, menjadi ahli bukan tentang seberapa banyak kita berbicara, tetapi seberapa dalam kita memahami. Sehingga, di negeri +62 yang penuh warna ini, mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak suara. Tetapi, lebih banyak kerendahan hati.