Lesung Pipi yang Abadi. Aku tidak pernah menyangka bahwa sepotong masa lalu bisa muncul kembali hanya karena satu unggahan sederhana. Malam itu, di sebuah kota, aku sedang merapikan beberapa alat kerja. Sebuah pekerjaan kecil yang kulakukan pasca pensiun, sekadar menjaga ritme hidup agar tidak terlalu lengang. Telepon genggamku bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul: “Status Anda telah dibagikan.”
Namanya…
Dia yang dulu hanya kupanggil dalam hati, kini muncul di layar ponselku sebagai nama kontak yang sudah lama tidak berubah. Ia membagikan statusku. Foto diriku mengenakan pakaian kerja lapangan, wajah sedikit lebih tua, rambut memutih di pelipis, tapi senyum masih berusaha jujur.
Aku terdiam cukup lama…
Dia tinggal di salah satu kota di Jawa. Aku di sini, di Luar Jawa. Jarak geografis itu sudah lama kami terima sebagai fakta biasa. Tapi jarak yang sebenarnya bukan soal peta, melainkan waktu yang telah membawa kami ke kehidupan masing-masing. Ke keluarga, pasangan, dan tanggung jawab yang tak punya ruang untuk negosiasi.
Awal percakapan sangat kaku. Tidak jaim, tapi juga tidak berani terlalu cair. Basa-basi seperlunya, bertanya kabar, menyelipkan tawa singkat lewat emoji yang terasa canggung. Namun entah bagaimana, seperti pintu yang pelan-pelan terbuka, obrolan itu bergeser. Dari hari ini, ke kemarin. Dari kemarin, ke masa yang jauh lebih lama, ketika kita berada di satu SMA.
Aku kembali ke sebuah kota kecil di Jawa Timur. Ke SMA tempat aku lulus tahun 80an, sementara dia setahun di bawahku. Sekolah itu tidak besar, tapi cukup untuk menyimpan banyak cerita yang tidak pernah benar-benar selesai. Dia siswi pemalu. Tidak banyak bicara. Lebih sering menunduk, tapi anehnya selalu tahu bagaimana caranya mencuri perhatian tanpa usaha berlebihan. Sekadar senyum kecil, atau cara ia memandang dari sudut mata, sudah cukup membuat seseorang merasa tersanjung.
Aku tidak pernah mendekatinya secara terang-terangan. Tidak ada rayuan, tidak ada surat cinta yang terselip di buku tulis. Yang ada hanyalah kebersamaan kecil yang terasa besar. Salah satunya adalah marching band sekolah.
Kami berdua bergabung dalam tim barisan musik sekolah. Suatu hari latihan, kami berdiri berdampingan di barisan. Aku dan dia sama-sama memegang senar drum, senar yang menahan instrumen agar tidak jatuh saat memainkan sembari berjalan. Jarak kami begitu dekat, bahu hampir bersentuhan. Saat ia menoleh sedikit dan tersenyum, aku melihatnya dengan jelas, lesung pipi itu. Dalam. Nyata. Seolah mengukir dirinya di memoriku tanpa meminta izin.
Tidak ada kata cinta. Tidak ada pengakuan. Semua hanya hadir dalam sikap. Dalam cara kami saling mencari di kerumunan, dalam keheningan yang terasa cukup. Aku pikir, mungkin begitulah cinta muda bekerja, tidak berisik, tapi mengendap.
Namun, suatu waktu, ia menjauh…
Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kesalahpahaman yang jelas. Ia hanya perlahan mengambil jarak. Tidak lagi menunggu di titik biasa. Tidak lagi menoleh saat namaku disebut. Aku tidak bertanya. Ia tidak menjelaskan. Kami memilih diam, seolah diam adalah bahasa yang paling aman. Hingga kelulusan datang, dan kami berpisah tanpa pernah benar-benar berpisah lewat kata.
Waktu berjalan seperti air yang tak tergenggam. Aku sibuk dengan studi, pekerjaan, dan kemudian membangun keluarga. Ia menghilang dari peredaran hidupku. Tidak ada saling kabar. Tanpa upaya mencari. Hingga suatu hari, seorang teman lama memberitahuku bahwa ia telah menikah.
Aku ingat perasaan itu. Bukan perih yang tajam, melainkan sunyi yang tiba-tiba padat. Tapi aku menguburnya. Tidak sulit. Hidupku saat itu penuh. Ada keluarga yang harus kuurus, tanggung jawab yang menuntut kehadiran utuh. Kenangan itu aku lipat rapi, kusimpan di sudut yang aman, agar tidak mengganggu langkah ke depan.
Bertahun-tahun kemudian, setelah kami sama-sama dewasa dan berkeluarga, kami sempat bertegur sapa lewat pesan singkat. Sekali itu saja. Percakapan singkat, sopan, saling menghormati batas. Tidak ada upaya membuka kembali apa pun. Seolah kami sepakat untuk mengenang beberapa hal, tanpa perlu menghidupkan ulang.
Hingga hari ini…
Di masa kini, komunikasi kami masih ada, meski sangat jarang. Kami tahu rambu-rambunya. Aku dan Dia tahu apa yang boleh dan tidak. Dan justru di situlah aku menemukan rasa yang aneh tapi menenangkan, lega, hangat, dan damai. Terutama ketika ia berkata, “Tak perlu mengungkapkan. Terpenting rasa itu pernah ada dan semoga abadi.”
Kalimat itu menutup semua pintu yang tidak perlu dibuka. Sekaligus membuka jendela penerimaan.
Aku menyadari sesuatu, tidak semua cinta tertakdir untuk memiliki. Ada yang hanya hadir untuk membentuk kita. Ia mengajarkan bagaimana rasa bekerja, betapa kehilangan tidak selalu berarti gagal, dan pelan-pelan menerima adalah bentuk kedewasaan tertinggi.
Jika aku bisa berbicara pada diriku yang muda, aku ingin mengatakan ini. Bila cinta itu memotivasimu untuk berkembang dan maju, lanjutkan. Asal tahu rambu-rambunya. Cinta tidak harus memenangkan. Ia cukup berjalan dengan niat baik dan kesadaran penuh.
Kini, aku bersyukur. Atas hidupku. Berkat hidupnya. Karena pasangan kami masing-masing yang menjadi pelabuhan paling sah. Dan atas satu kenangan kecil—lesung pipi di barisan musik—yang tetap abadi, bukan untuk memiliki, melainkan mensyukuri.
Karena Tuhan, aku percaya, tidak pernah salah menempatkan rasa. Ia hanya menguji apakah kita cukup dewasa untuk menerimanya dengan tenang.
















Tinggalkan Balasan