SURABAYA – Ratusan hadirin memberikan tepuk tangan meriah pada gelaran Temu Nasional Guru Penulis (TNGP) pada Sabtu, 29 November 2025 di Gedung Utama Bung Karno BBPMP Jawa Timur, Surabaya. Mereka turut memberikan standing ovation tatkala nama Diyah Kusuma Ningrum disebut sebagai penerima penghargaan Karya Fiksi Terbaik Kategori Guru di TNGP 2025 tersebut.
Guru SDN 006 Balikpapan Selatan itu berhasil menjadi yang terbaik melalui buku cerpen yang berjudul Aksara Atma. Tim juri dari Media Guru Indonesia memberikan poin tertinggi untuk buku kategori fiksi ini. Arum–sapaan akrab Diyah Kusuma Ningrum–sukses menyisihkan ratusan karya fiksi lainnya di kategori pendidik.
Keberhasilan Arum menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kota Balikpapan. Ia hadir sebagai satu-satunya wakil guru penulis asal Provinsi Kalimantan Timur sekaligus menjadi jawara di tengah dominasi para penggiat literasi asal Jawa Timur.
Mohammad Ihsan, CEO Media Guru Indonesia, menjelaskan bahwa TNGP merupakan hajatan akbar tahunan yang digelar Media Guru Indonesia pada momentum Hari Guru Nasional. Untuk edisi tahun ini, kali pertama TNGP dilaksanakan di kota kelahiran Media Guru Indonesia, yakni Surabaya. ”Sebelumnya selalu Jakarta dan edisi 2024 di Bukittinggi, Sumatra Barat,” terangnya.
Diselenggarakan selama dua hari, yakni 29-30 November 2025, hari pertama diisi dengan pemberian penghargaan bagi para guru penulis terbaik dan penggiat literasi dari berbagai kota di Indonesia. Untuk kategori karya fiksi terbaik 2025, nama Arum dari SDN 006 Balikpapan Selatan tampil terdepan.
”Saya tidak menyangka dan sebenarnya tidak punya ekspektasi untuk menjadi yang terbaik,” terang Arum.
Ia mengaku punya hobi membaca novel sejak masih remaja. Kebiasaan itu berlanjut hingga saat ini. Ketika namanya menjadi salah satu peserta Workshop Penulisan Buku bagi Pendidik yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan, Arum berusaha menyerap ilmu sebanyak-banyaknya.
”Mulanya saya mendapatkan banyak masukan dari instruktur Media Guru Indonesia, yakni Pak Yasin dan Pak Eko Prasetyo,” tuturnya.
Arum bahkan tercatat sebagai peserta program satu guru satu buku (sagusaku) angkatan ketujuh dari Disdikbud Balikpapan yang sukses menyelesaikan bukunya sebelum deadline satu bulan.
Ia menerangkan, buku Aksara Atma lahir dari inspirasi bacaan-bacaannya. Termasuk pengamatannya terhadap kehidupan sosial yang terjadi di masyarakat.
”Idenya sebenarnya sederhana. Ada kisah sedih, senang, pokoknya penuh warna. Hal ini kan seperti gambaran kehidupan sosial kita. Saya menuangkannya dengan mengalir,” jelas penggemar kopi Arabica tanpa gula itu.
Arum berharap, prestasinya ini dapat melecut semangatnya untuk terus berkarya. ”Tentu saja saya juga berharap bisa menularkan semangat berliterasi, terutama membaca, kepada anak-anak didik saya,” tegasnya. (ep)







Tinggalkan Balasan