JEMBER – Suasana Desa Tembokrejo, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, berubah semarak pagi itu. Beragam kegiatan digelar pemerintah desa dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Gerak jalan, karnaval, pertandingan bola voli, dan berbagai kegiatan lainnya menjadi bagian dari rangkaian perayaan kemerdekaan yang melibatkan masyarakat.
Di tengah kemeriahan yang digelar pada 25 Juli 2026 itu, SMPN 2 Gumukmas hadir dengan konsep berbeda. Sekolah mengemas keikutsertaannya dalam karnaval bertajuk Gelar Budaya yang mengangkat kekayaan budaya Jawa sekaligus menjadi ruang bagi murid untuk berekspresi dan berpartisipasi dalam mengisi kemerdekaan.
Sejak awal rombongan bergerak, nuansa budaya Jawa begitu terasa. Murid, bapak dan ibu guru, serta tenaga kependidikan mengenakan beragam busana adat Jawa. Barisan karnaval pun tampil berwarna-warni. Anak-anak diberi kebebasan memilih kelompok sesuai minat mereka. Ada yang bergabung dalam kelompok tari, Jember Fashion Carnaval (JFC), kelompok pejuang, dan berbagai kelompok kreatif lainnya.
Kebebasan berekspresi menjadi salah satu kekuatan Gelar Budaya SMPN 2 Gumukmas. Sekolah tidak menentukan secara khusus tempat anak-anak harus berdandan ataupun menyewa busana.
“Kami membebaskan anak-anak untuk dandan, sewa baju di mana saja. Sekolah tidak memfasilitasi atau sekolah tidak merekomendasikan harus di salon tertentu. Kegiatan karnaval ini nol rupiah, sekolah tidak menarik uang kepada wali murid,” ujar Ni’matul Khoiroh, kepala SMPN 2 Gumukmas.
Menurutnya, karnaval bukan sekadar kegiatan untuk memeriahkan perayaan kemerdekaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi media pendidikan karakter. Anak-anak belajar berpartisipasi, bekerja sama, percaya diri, menghargai budaya, sekaligus memahami makna kemerdekaan.
Pihak sekolah juga menghimbau seluruh murid untuk aktif mengambil bagian dalam berbagai kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan RI, baik karnaval, gerak jalan, maupun kegiatan lainnya.
“Mengikuti kegiatan ini adalah bentuk syukur kita. Sekarang kita sudah tidak berperang, hanya mengisi kemerdekaan,” pungkas Ni’matul.
Ada hal menarik yang membedakan Gelar Budaya SMPN 2 Gumukmas. Di balik busana adat, tarian, dan kemeriahan karnaval, terselip sebuah kebiasaan sederhana yang justru sarat makna: LISA (lihat sampah ambil).
Sepanjang jalan yang dilewati rombongan SMPN 2 Gumukmas, murid, dan pendamping tidak hanya berjalan dan menampilkan atraksi. Ketika melihat sampah berserakan, mereka spontan mengambil dan membuangnya pada tempat yang semestinya.
LISA menjadi bagian dari pesan budaya yang ingin dibangun sekolah. Budaya tidak hanya tentang pakaian adat, tarian, atau kesenian. Budaya juga tentang kebiasaan baik yang dilakukan terus-menerus hingga menjadi karakter.
Melalui karnaval, anak-anak belajar bahwa mengisi kemerdekaan dapat dilakukan dengan cara sederhana: melestarikan budaya, menjaga lingkungan, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Keikutsertaan SMPN 2 Gumukmas dalam karnaval mendapat sambutan positif dari wali murid. Reni Anggraini, wali murid kelas 7, mengaku senang dan mendukung kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan yang melibatkan anak-anak dalam suasana kebersamaan seperti ini memberikan pengalaman yang berharga.
“Kegiatan karnaval ini gratis, kami wali murid tidak dibebani uang sepeser pun,” katanya.
Hal senada disampaikan Agus Setyawan, wali murid kelas 9. Ia merasa bangga melihat anaknya dapat berpartisipasi dalam kegiatan karnaval bersama sekolah.
“Saya bangga dengan SMPN 2 Gumukmas, kegiatan karnaval ini tidak membebani wali murid,” tuturnya. (ct/kh)











Tinggalkan Balasan