Belajar Fisika, Biologi, dan Bahasa Indonesia di TPA Randegan

CAPTWAPRI.ID-Mojokerto-Ada pelajaran yang tidak selalu bisa ditemukan di antara empat dinding kelas. Ada pengetahuan yang justru terasa lebih nyata ketika peserta didik melihat, menyentuh, mengamati, dan bertanya langsung pada kehidupan.

Hal itulah yang dirasakan peserta didik SMA Muhammadiyah 1 Kota Mojokerto ketika mengikuti outing class di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Randegan. Di tempat yang selama ini mungkin hanya dipahami sebagai lokasi berkumpulnya sampah, mereka menemukan ruang belajar yang sesungguhnya.

Kegiatan tersebut menjadi pembelajaran lintas mata pelajaran yang mempertemukan Fisika, Biologi, dan Bahasa Indonesia dalam satu pengalaman. Bersama guru pendamping, peserta didik memperoleh penjelasan langsung dari pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengenai pengelolaan sampah dan berbagai persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di sana, sampah tidak lagi sekadar sesuatu yang dibuang dan dilupakan. Peserta didik dikenalkan pada prinsip 3R: Reduce, Reuse, dan Recycle. Reduce mengajarkan pentingnya mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, terutama barang sekali pakai. Reuse mengajak menggunakan kembali barang yang masih layak. Sementara Recycle menunjukkan bahwa sebagian sampah masih dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.

Pelajaran itu terasa sederhana, tetapi justru sangat dekat dengan kehidupan mereka. Membawa botol minum sendiri, menggunakan tempat makan, membawa tas belanja, dan memilah sampah dari rumah ternyata merupakan bagian dari upaya menjaga lingkungan.

Peserta didik juga belajar bahwa persoalan sampah bukan semata-mata urusan petugas kebersihan atau pemerintah. Setiap orang memiliki peran. Sampah yang dihasilkan seseorang mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan oleh banyak orang setiap hari, dampaknya menjadi besar.

Menariknya, satu lokasi mampu menghadirkan banyak sudut pandang pembelajaran. Dalam Biologi, peserta didik dapat mengamati hubungan sampah dengan lingkungan dan kehidupan makhluk hidup. Dalam Fisika, berbagai fenomena di lapangan dapat dikaitkan dengan konsep yang telah dipelajari di kelas. Sementara Bahasa Indonesia memberi ruang bagi peserta didik untuk mengamati, mencatat, melakukan wawancara, mengolah informasi, kemudian menuangkannya menjadi tulisan.

Dari sini mereka belajar bahwa ilmu pengetahuan tidak berdiri sendiri. Satu persoalan kehidupan dapat dibaca melalui berbagai disiplin ilmu. Lebih dari sekadar outing class, perjalanan ke TPA Randegan menjadi sebuah pembelajaran tentang tanggung jawab. Bahwa lingkungan yang sehat tidak lahir dari tindakan besar yang dilakukan sesekali, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

SMA Muhammadiyah 1 Kota Mojokerto menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, kolaboratif, dan aplikatif. Sebab, sekolah bukan hanya tempat untuk mengetahui sesuatu, melainkan tempat belajar memahami kehidupan.

Dan hari itu, sampah telah menjadi guru. Ia mengajarkan satu hal penting: apa yang kita buang hari ini, adalah bagian dari wajah lingkungan yang akan kita wariskan esok hari.***(asri)