Captwapri.id-Mojokerto-Prestasi kadang bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri di atas podium. Ia justru tentang berapa kali seseorang bersedia kembali melangkah setelah pernah jatuh. Sebab di balik sebuah piala, ada hafalan yang diulang berkali-kali, doa yang dipanjatkan dalam senyap, juga keberanian untuk kembali mencoba ketika hasil belum sesuai harapan.
Kisah itu tampak dalam perjalanan Kamilatud Diniyah, M.Th.I., perempuan asal Mojokerto yang menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi jalan pengabdian. Lahir di Mojokerto, 27 September 1982, ia menempuh pendidikan S1 di IIQ Jakarta dan melanjutkan S2 di UNISA Surabaya. Kiprahnya kemudian tidak berhenti pada prestasi pribadi. Ia menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’an Manarul Huda Kota Mojokerto, Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Mojokerto, trainer pembelajaran Al-Qur’an dari usia dini hingga dewasa, sekaligus pembina dan dewan hakim MTQ bidang Tartil, Tahfidz, dan Tafsir.
Kamilatud juga dikenal sebagai pencetus pertama bimbingan Tahfidz Al-Qur’an “Weekend System” di Kota Mojokerto. Di dunia pembelajaran Al-Qur’an, ia menjadi tutor sekaligus instruktur dan munaqish Metode Tilawati. Semua itu memperlihatkan bahwa kecintaannya terhadap Al-Qur’an tidak hanya diwujudkan dengan menghafal dan melantunkannya, tetapi juga dengan menghadirkan ruang agar orang lain dapat belajar dan mencintai Al-Qur’an.
Jejak prestasinya pun panjang antara lain : Juara Tafsir Bahasa Inggris Putri pada MTQ Nasional di Bengkulu Tahun 2010. Juara 1 Tafsir Bahasa Inggris Putri MTQ Tingkat Provinsi Jawa Timur Di Madiun Tahun 2011. Juara 2 Tafsir Al Qur’an Bahasa Inggris MTQ Tingkat Provinsi Jatim Tahun 2009. Juara Penyuluh Teladan Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2019. Di bidang tahfidz, ia pernah menjadi Juara I MTQ Tahfidz 10 Juz se-DKI Jakarta pada 2004. Namun, perjalanan menuju prestasi tidak selalu berupa kemenangan.
Sekitar dua tahun lalu, Kamilatud mengikuti MTQ KORPRI tingkat Jawa Timur pada cabang hafalan Surah An-Nisa’. Ia berhasil meraih Juara I tingkat Jawa Timur dan melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional di Palangkaraya pada 2024. Di tingkat nasional itu, langkahnya berhenti pada peringkat tujuh.
Peringkat tujuh mungkin bagi sebagian orang adalah angka. Tetapi bagi Kamilatud, ia adalah catatan perjalanan—sebuah penanda bahwa masih ada ruang untuk berbenah. Ia kembali berlatih. Mengulang hafalan. Menata kembali kesiapan. Dan pada 2026, ia kembali mengikuti MTQ KORPRI tingkat Jawa Timur. Hasilnya kembali membawanya menjadi Juara I. Tiket menuju tingkat nasional pun kembali berada di tangannya.
Di panggung nasional, Makassar menjadi salah satu ruang pembuktian. Bukan lagi sekadar tentang menang atau kalah, tetapi tentang bagaimana seseorang membawa hafalan yang telah bertahun-tahun dijaga untuk dipertanggungjawabkan di hadapan para penguji.
Pada penampilan hari pertama, Kamilatud tampil dengan nomor peserta sembilan. Hafalannya mengalir tanpa kesalahan. Ia berhasil melewati babak demi babak hingga akhirnya masuk final.
Dan kali ini, namanya tercatat sebagai “Dari peringkat tujuh menuju Juara Harapan 2”. Secara angka, mungkin terlihat sederhana. Namun bagi mereka yang memahami panjangnya jalan seorang penghafal Al-Qur’an, perubahan itu adalah bukti bahwa ketekunan tidak pernah sia-sia. Ada satu pelajaran yang mungkin justru lebih mahal daripada piala: jangan berhenti hanya karena pernah gagal.

Bersama putrinya, Fehima juara 5 MTQ Internasional di Arab Saudi Agustus lalu
Kisah itu juga menjadi pelajaran bagi Fehima, putrinya, yang tumbuh menyaksikan bagaimana ibunya memperlakukan Al-Qur’an dengan penuh cinta. Bahwa menjadi penghafal bukan hanya tentang kuat mengingat ayat, tetapi juga kuat menjaga hati, disiplin berlatih, berani menghadapi kegagalan, dan tetap percaya bahwa setiap ikhtiar memiliki waktunya sendiri.
Sebab, warisan terbaik seorang ibu bukanlah deretan piala yang memenuhi lemari. Melainkan nilai-nilai yang diam-diam berpindah dari hati ke hati. Al-Qur’an yang dijaga hari ini, mungkin kelak akan menjadi cahaya bagi generasi setelahnya. Dan Kamilatud Diniyah barangkali sedang menulis kisah itu—bukan hanya dengan tinta, tetapi dengan ayat-ayat yang ia hafal, ia ajarkan, ia perjuangkan, dan ia hidupkan dalam perjalanan panjang pengabdiannya.***(fataty)













Tinggalkan Balasan