Rupiah Melemah, Desa Menanggung Luka. Suara sederhana memulai kehidupan desa di pagi hari. Ayam berkokok, deru mesin motor tua, serta para ibu berangkat ke pasar sambil menenteng tas kain lusuh. Tas kain lusuh yang menemaninya dalam kehematan selama bertahun-tahun. Tidak ada yang membicarakan kurs dolar di warung kopi desa. Tidak ada yang sibuk memantau grafik ekonomi dunia. Tetapi anehnya, setiap kali rupiah jatuh, orang desa selalu ikut terpukul.
Sebuah ironi yang sering gagal paham mendera para pejabat di ruang-ruang berpendingin udara. Mereka bilang rakyat desa tidak ada urusan dengan dolar. Seolah-olah dolar itu hanya milik investor, konglomerat, atau orang-orang berdasi yang sibuk bicara ekonomi makro sambil menyeruput kopi. Padahal kenyataannya, dampak dolar justru paling telanjang terasa di dapur rumah rakyat kecil.
Ibu-ibu di desa mungkin tidak tahu berapa nilai tukar rupiah hari ini. Mereka tidak paham istilah depresiasi mata uang. Mereka tidak mengikuti berita pasar global. Tetapi mereka tahu satu hal yang sangat nyata, uang belanja semakin cepat habis. Kemarin harga tempe masih lima ribu, hari ini tujuh ribu. Besok mungkin sembilan ribu sambil penjualnya tersenyum getir dan berkata, “Kedelai naik, Bu.” Lalu ibu itu pulang sambil mengurangi jumlah lauk untuk anak-anaknya.
Sesederhana itu sebenarnya dampak ekonomi. Kita terlalu sering mempersulit bahasa rakyat dengan istilah-istilah teknokratis. Seolah menjelaskan penderitaan selalu melalui seminar ekonomi agar terlihat ilmiah. Padahal rakyat kecil tidak membutuhkan grafik. Mereka cukup melihat isi dompet sebelum dan sesudah ke pasar.
Ironinya, negeri agraris yang tanahnya subur ini ternyata hidup dari impor yang nyaris seperti candu. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia masih sangat bergantung pada impor berbagai kebutuhan strategis. Sebutlah gandum, kedelai, bawang putih, hingga bahan baku farmasi. Gandum bahkan hampir sepenuhnya impor karena Indonesia tidak memproduksinya dalam skala besar. Ketika dolar naik, biaya impor otomatis melonjak. Dan ketika biaya impor naik, harga barang ikut menari-nari tanpa irama.
Yang paling menyedihkan, rakyat kecil selalu menjadi penonton paling setia dari pertunjukan ekonomi yang tidak pernah mereka ciptakan. Mereka tidak pernah ikut rapat kabinet. Tidak pernah membuat kebijakan impor. Tidak pernah menentukan utang negara. Tetapi merekalah yang paling dahulu mengencangkan ikat pinggang ketika keadaan memburuk.
Di desa, dampak rupiah melemah bukan sekadar angka statistik. Dampaknya hadir dalam bentuk anak yang batal membeli susu, buruh yang kehilangan pekerjaan, dan pedagang kecil yang utang ke tengkulak. Bahkan tetangga saya, seorang bapak pura-pura kenyang agar anaknya bisa makan lebih dulu.
Namun setiap kali rakyat mulai resah, selalu ada upaya menenangkan dengan kalimat-kalimat optimistis yang sering terdengar seperti obat tidur. “Ekonomi kita kuat.” “Fundamental kita baik.” “Situasi masih terkendali.”
Kalimat-kalimat itu mungkin benar di atas kertas. Tetapi rakyat hidup bukan di atas kertas. Mereka hidup di pasar, sawah, kontrakan sempit, dan di warung sembako. Kadang saya membayangkan, mungkin di negeri ini ekonomi senantiasa baik selama presentasi PowerPoint masih terlihat indah. Sementara itu di bawah sana, rakyat mulai menghitung receh untuk membeli cabai.
Satirnya, kita sering lebih sibuk menjaga citra dibanding menjaga daya beli masyarakat. Seolah mengakui masalah adalah dosa politik terbesar. Padahal sejarah menunjukkan, banyak negara justru runtuh bukan karena masalahnya terlalu besar, melainkan karena pemimpinnya terlalu lama menyangkal kenyataan.
Masalah ekonomi tidak akan selesai hanya dengan narasi optimisme. Rupiah tidak menguat hanya karena pidato penuh semangat. Investor tidak datang hanya karena slogan. Tetapi, kepercayaan lahir dari konsistensi kebijakan, keberanian mengakui persoalan, dan kemampuan menghadirkan solusi nyata.
Rakyat sebenarnya cukup dewasa menerima kenyataan pahit. Yang membuat mereka marah bukan sekadar keadaan sulit, tetapi ketika menganggap penderitaan mereka tidak pernah ada. Sehingga desa selalu menjadi korban paling sunyi dalam setiap krisis.
Kota mungkin gaduh oleh debat politik dan media sosial. Tetapi desa memendam luka dengan cara yang lebih tenang. Mereka diam-diam menjual ternak. Diam-diam mengurangi makan. Diam-diam menunda sekolah anak. Bisik-bisik berharap harga kebutuhan tidak naik lagi minggu depan.
Negara sering lupa bahwa ketahanan ekonomi sejati bukan di gedung pencakar langit, melainkan di dapur-dapur sederhana yang masih bisa mengepul. Sebab ketika dapur rakyat mulai dingin, sebenarnya negara sedang tidak baik-baik saja. Dan mungkin benar, orang desa tidak tahu apa itu kurs dolar. Tetapi mereka sangat tahu rasanya hidup ketika rupiah kehilangan harga dirinya.















Tinggalkan Balasan