Cahaya pagi mulai menari di ujung cakrawala saat Kapten Tama berdiri tegak di sisi dermaga. Di hadapannya, kapal tanker raksasa tengah bersiap menjalani manuver keluar pelabuhan. Di pundaknya melekat simbol kebanggaan, “Perwira Pandu”. Profesi yang tak hanya menuntut keahlian teknis, tapi juga kedewasaan, pengalaman, dan ketangguhan dalam tekanan.
Saat pelatihan calon Pandu, seseorang pernah bertanya padanya dengan serius:
“Mengapa kami harus berasal dari pelaut? Haruskah menjadi Mualim Satu atau Nahkoda dulu sebelum bisa menjadi Pandu?”
Kapten Tama menjawab sambil menunjuk ke anjungan kapal:
“Di tempat itulah kita dulu pernah keliru. Dan dari tempat itulah kita belajar tentang arti tanggung jawab.”
Pengalaman Lautan yang Membentuk Naluri
Seorang Perwira Pandu bukan hanya penunjuk arah. Ia adalah penjaga harmoni antara alat navigasi, kondisi alam, dan manusia di atas kapal. Untuk memahami semua ini, seseorang harus pernah merasakannya secara langsung. Yaitu, hidup di antara badai, ketegangan, dan keputusan penting.
Profesi pelaut, terutama dari dunia Nautika, menempa karakter. Dalam peran sebagai Mualim Satu maupun Nahkoda, pelaut berlatih mengambil keputusan cepat. Selain itu, mengelola krisis, dan bertanggung jawab penuh atas kapal serta jiwa-jiwa di dalamnya.
Kapten Tama mengingat betul saat dirinya sebagai Mualim Satu harus menunda manuver demi keselamatan meskipun agen menekannya. Dan saat menjadi Nahkoda, ia pernah menenangkan kru muda yang panik saat radar lumpuh di tengah badai.
Pengalaman-pengalaman itulah yang menjadi modal utama di dunia pemanduan. Bukan hanya tahu perintah, tapi paham alasan di balik setiap instruksi.
Kematangan yang Datang Bersama Waktu
Profesi Pandu menuntut lebih dari sekadar kemampuan teknis. Ada saatnya ia harus berdiri di antara desakan agen, tekanan waktu, dan tantangan dari kapal asing. Kematangan usia dan kestabilan ekonomi menjadi bagian dari kesiapan mental menghadapi semua itu.
Hanya orang yang telah melewati pahit-manis dunia pelayaran yang bisa tetap tenang saat mengambil keputusan tersulit sekalipun. Hanya mereka yang telah kehilangan dan menyelamatkan, yang bisa memberi perintah tanpa ragu dan tanpa ego.
Kapten Tama pernah berkata:
“Kalau kamu belum pernah jadi pemimpin yang belajar menahan gengsi, kamu belum siap memberi arahan dalam diam yang menentukan.”
Ketika Kepemimpinan Teruji dalam Sunyi
Penghormatan pada Kapten Tama bukan semata karena seragam yang ia kenakan, melainkan karena perjalanan panjang bergelut di dek kapal. Ia sangat paham bahwa dalam dunia pelayaran, tak semua keputusan dapat selesai lewat teori. Banyak tindakan krusial lahir dari insting yang tumbuh bersama pengalaman. Dan, insting tersebut lahir dari mereka yang pernah berdiri langsung di garis tanggung jawab terdepan.
Salah satu pengalaman membekas adalah ketika ia harus memandu kapal yang mendadak mengalami kegagalan mesin di tengah proses olah gerak. Dalam waktu singkat, kapal nyaris terseret ke arah kapal lain yang sedang bersandar. Sistem komunikasi terganggu, radar tidak memberi citra yang jelas. Namun ia tak kehilangan kendali. Karena, Kapten Tama tahu, ketika semua sunyi, pengalaman akan bersuara paling lantang.
Dengan sigap, ia memberi aba-aba lewat gerakan tangan kepada juru mudi kapal tunda. Kapten Tama membaca arah arus dari getaran halus pada badan kapal, dan segera mengoordinasikan manuver untuk menghindari tabrakan. Tak banyak kata, tapi seluruh kru mengerti, karena ketenangan dan ketepatannya berbicara lebih dari suara.
“Jika saya belum pernah jadi Nahkoda,” katanya suatu ketika pada juniornya,
“mungkin saat itu saya hanya menunggu instruksi dari orang lain.”
Mengenali Risiko dari Tanda-Tanda Kecil
Seorang Pandu yang matang mampu mencium tanda bahaya bukan hanya dari alarm keras. Ia akan membaca perubahan gerak kecil, ritme kapal yang tidak biasa, atau ekspresi panik yang tersirat di wajah awak. Kepekaan seperti ini hanya bisa dimiliki oleh mereka yang telah menjalani malam-malam panjang di laut. Dan, menghadapi cuaca buruk, lalu tetap mampu menjaga semangat tim saat tak bisa mengandalkan alat bantu.
Inilah mengapa seorang Pandu ideal harus berasal dari pelaut-pelaut berpengalaman. Bukan semata karena keahliannya hebat, melainkan karena mereka telah melalui cukup banyak tantangan untuk menjadi pribadi yang arif. Dalam pekerjaan yang penuh tekanan, ancaman, dan dinamika tinggi, tugas ini membutuhkan bukan hanya otak tajam, tapi juga jiwa tenang.
Kemampuan membuat analisis cepat dalam keheningan, menyusun strategi berdasarkan intuisi, dan membaca “bahasa kapal” tanpa banyak bicara. Ini semua memperolehnya bukan semata dari kelas pelatihan singkat. Namun, lahir dari ribuan jam di laut, dari angin yang pernah mengguncang, dan menjalani tanggung jawab dengan hati terbuka.
Penutup: Di Balik Satu Kalimat Singkat
Instruksi Pandu di pelabuhan mungkin terdengar pendek: “Maju pelan… Mesin stop… Kiri cikar.” Tapi di balik kata-kata itu tersimpan pengalaman panjang, menghadapi badai, serta melatih tanggung jawab yang lama.
Itulah sebabnya Pandu harus berasal dari pelaut yang pernah memimpin kapal. Yaitu, mereka yang pernah berdiri dalam ketidakpastian, dan mampu memberi arah dengan kepercayaan diri dan empati.
Karena pada akhirnya, hanya mereka yang pernah tersesat, yang benar-benar tahu arti sebuah petunjuk yang menyelamatkan.















1 Comment