Tas buluk itu masih tergeletak di pojok ruangan. Ruangan sempit yang mereka gunakan untuk belajar, makan, dan bermain. Rani tahu tas itu sudah tak layak lagi, karena ritsletingnya rusak, talinya sobek, dan warnanya pudar. Meskipun, hal itu satu-satunya yang ia miliki.
Rani terpaksa mencari peniti yang sudah sedikit berkarat dari baju lama. Peniti untuk mengaitkan dua sisi tas agar tasnya tak terlalu menganga. Syukurlah ada dua peniti yang ia temukan. Lumayan bisa mencegah isi tas agar tak berhamburan seperti kemarin. Senyum tipis tersungging menghiasi bibirnya yang kering atas idenya yang cukup cemerlang.
Rano, adiknya, sudah terlelap sejak sore. Bocah kecil itu masih duduk di TK kelas B. Rani mengambil selembar selimut lawas untuk menutup badan adiknya yang meringkuk kedinginan. Dia selalu memeluk adiknya dari belakang setiap tidur malam ketika sang ayah belum pulang dari pabrik.
Ayah mereka bekerja seharian penuh di sebuah pabrik industri tas di kota kabupaten. Berangkat pagi buta, pulang malam atau bahkan larut jika ada lembur. Sementara ibunya, sudah lama pergi begitu saja dan mereka tak tahu ke mana perginya.
Sejak kecil, Rani dipaksa menjadi dewasa oleh keadaan. Di usia yang baru sembilan tahun, pola pikirnya jauh lebih tua dari anak-anak seusianya. Ia harus merawat adiknya, Rano, yang baru berusia lima tahun. Nenek dari sang ayah yang merawat Rano bayi hingga usia empat tahun, kini sudah tiada.
Setiap pagi, mereka berjalan kaki ke sekolah. Bahkan sering terlalu pagi karena ayah mereka keburu berangkat kerja sebelum mereka ke sekolah. Rani dan Rano sudah terbiasa mandi usai azan subuh. Kadang tiba di sekolah gerbang masih tertutup. Untung sekolah mereka berada di area yang sama.
Saat hujan turun, mereka hanya punya satu mantel plastik tipis. Mereka memakainya berdua, berjalan cepat dalam hujan sambil menahan dingin. Ujung-ujung baju mereka selalu basah. Namun, ada gurat kegembiraan yang terpancar di raut wajah mereka. Dunia anak-anak belum lepas dan mereka tampak bahagia tak terperi ketika bermain hujan tanpa ada yang melarang atau menghakimi.
Terbiasa dengan keadaan sehari-hari tanpa sosok ibu, membuat Rani terbiasa pula mengatasi masalah kecil sendirian. Setiap hari sebelum pergi ke pabrik, ayah Rani selalu menanak nasi lebih dahulu. Dua bungkus mi instan sebagai teman nasi sekaligus lauk cukup buat mereka berdua dalam sehari.
Tiga hari lalu, sekolah Rani menyelenggarakan lomba pentas seni antar kelas sambil menunggu pembagian rapor. Rani ikut lomba baca puisi karya sendiri yang berjudul “Ibu, Kami Rindu”.
Rani memang suka dengan puisi, dia ikut lomba karena ingin menang dan berharap mampu menggondol hadiah yang dijanjikan. Sebuah tas ransel warna pink yang sangat ia idam-idamkan.
Hari pembagian rapor sekaligus pengumuman juara lomba pentas seni pun tiba. Sambil berbisik komat-kamit Rani memanjatkan doa semoga menjadi pemenang. Dia tak sabar ingin segera memeluk tas pink yang dimimpikannya. Sembari membawa segelas plastik mi goreng pemberian dari ibu kantin karena akan libur, Rano tak sabar dan mi goreng itu pun ia cicipi sedikit demi sedikit.
Rapor dan sebuah tas berwarna pink sudah ada di tangan. Rani bahagia, bersyukur, dan tersenyum riang doanya terkabul sebagai juara satu. Rano sudah menunggu di halaman sekolah. Segelas plastik mi goreng yang dibawanya tinggal setengah. Rano tak berani menghabiskan karena dia sadar itu jatah untuk kakaknya, Rani.
Saking girangnya Rani menyabet juara satu, ia berlari mendekati sang adik lalu merangkulnya.
“Aku menang! Aku juara! Lihatlah kakak bawa tas baru,” seru Rani sembari membuka sedikit plastik pembungkus tas.
Mereka pulang bergandengan tangan setelah menyantap mi goreng dari gelas plastik. Hanya sesuap dan sisanya dihabiskan sang adik. Sambil bersenandung Rani selalu tersenyum di sepanjang jalan pulang dan sesekali memandang adiknya berharap Rano ikut bahagia.
Malamnya hujan turun sangat deras dengan suara petir dan guntur bergantian. Atap rumah sebagian bocor. Lantai dingin. Sebungkus mi instan sudah dimasak tadi pagi buat sarapan. Saat adiknya tidur, diam-diam Rani memasak mi lagi untuk mereka berdua karena hanya itu yang mereka punya. Dia hafal kadang adiknya terjaga di malam hari dan minta makan.
“Kak… lapar…” Rano terjaga dan berbisik lirih seakan sadar sang kakak tengah memeluknya.
Rani memeluk adiknya lebih erat. Ia sendiri menahan lapar dan rasa perih di perut sejak tadi. Tak sampai hati untuk makan sebelum memastikan adiknya juga makan.
Matanya spontan memandang ke pintu, berharap ada tetangga yang mengetuk dan membawa sepiring nasi dan lauk. Tapi yang terdengar hanya deru hujan dan gelegar petir. Pelan ia bangkit mengambil mi dan nasi buat adik dan dirinya. Dia yakin sang adik kembali terlelap setelah makan.
Di antara dingin, sepi, dan lapar, malam itu menjadi malam yang tak akan mereka lupakan. Hingga azan subuh berkumandang, tak ada tanda-tanda ayah pulang. Rani bingung dan ingin menangis. Ada apa dengan ayah, pikirnya dalam hati.
Sang ayah, lelaki yang tak pernah mengeluh meski tubuhnya lelah bekerja siang dan malam. Ia telah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Ia tertimpa pohon tumbang saat dalam perjalanan pulang. Hujan malam itu bukan hanya membawa dingin, tapi juga duka yang teramat dalam. Mereka belum cukup mengerti arti kehilangan.
Rani tak bisa menangis. Ia hanya mematung dan membisu tak bisa berkata-kata. Seolah mimpi, ingin menangis tapi tangis itu tertahan paksa di tenggorokan. Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan pujian dari ayah atas prestasinya lomba puisi.
Akhirnya, Rani dan Rano lebih sering membisu dengan tatapan mata kosong. Kemudian tak ada kata-kata, tanpa keluhan, serta tiada keceriaan. Hanya pelukan hangat di antara dua bocah yang saling menguatkan dalam menjalani kehidupan selanjutnya yang mungkin tak selalu berpihak pada mereka.















Tinggalkan Balasan