Nvidia Pergi, Kita Masih Berdebat. Keputusan raksasa teknologi Amerika Serikat, Nvidia, untuk membangun pusat data di Malaysia, bukan di Indonesia, sejatinya bukan sekadar berita ekonomi. Ia adalah alarm peradaban. Alarm yang berbunyi nyaring tentang satu hal mendasar. Yaitu, kesiapan sumber daya manusia kita, khususnya di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
Pemerintah tentu bisa menunjuk banyak faktor, birokrasi, regulasi, lahan, energi, hingga kepastian hukum. Namun ketika Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) secara terbuka menyinggung kualitas dan ketersediaan SDM sebagai salah satu penyebab. Semestinya, kita mulai berhenti sejenak, lalu bercermin. Sebab, di era ekonomi berbasis pengetahuan, modal terbesar bukan lagi insentif fiskal, melainkan talenta.
Fakta yang kerap luput dari perbincangan publik adalah rendahnya proporsi lulusan STEM di Indonesia. Dari total lulusan perguruan tinggi, hanya sekitar 18–20 persen yang berasal dari bidang ini. Angka tersebut tertinggal jauh dibanding Malaysia, Singapura, Thailand, bahkan Vietnam. Ini bukan sekadar statistik pendidikan, melainkan indikator arah masa depan bangsa.
Ketika lulusan STEM terbatas, konsekuensinya berlapis. Industri teknologi kekurangan tenaga ahli. Penelitian dan pengembangan berjalan tertatih. Inovasi lahir lebih lambat dari kebutuhan zaman. Pada akhirnya, industri nasional bergantung pada teknologi impor dan tenaga asing, sementara anak negeri hanya menjadi pengguna, bahkan penonton.
Masalah ini tentu tidak lahir dalam semalam. Ia adalah akumulasi dari kebijakan pendidikan yang terlalu lama ragu menentukan prioritas. Menyikapi sains dan matematika sebagai pelajaran “menakutkan”, bukan fondasi berpikir. Laboratorium minim, guru kurang terlatih, dan kurikulum kerap berganti tanpa kesinambungan. Di sisi lain, dunia industri bergerak cepat, menuntut keahlian yang sistem pendidikan kita tidak sempat menyiapkannya.
Ironisnya, di tengah kondisi ini, kita masih terjebak dalam debat lama yang melelahkan, STEM versus soshum. Seolah-olah bangsa ini harus memilih salah satu, dimana melakukan penguatan teknologi melalui pengecilan peran ilmu sosial dan humaniora. Padahal, negara-negara yang kini memimpin inovasi global tidak pernah mempertentangkan keduanya.
Teknologi tanpa humaniora akan melahirkan kemajuan yang dingin, bahkan berbahaya. Sebaliknya, humaniora tanpa penguasaan teknologi akan melahirkan gagasan-gagasan luhur yang tak punya daya ungkit. Kita tidak membutuhkan pertarungan, melainkan orkestrasi. Insinyur yang memahami etika, sosiolog yang melek data, ekonom yang menguasai kecerdasan buatan, itulah wajah SDM unggul abad ke-21.
Kasus Nvidia seharusnya menjadi pelajaran keras bahwa investasi global tidak datang karena janji, tetapi karena kesiapan. Perusahaan teknologi tidak hanya mencari lahan dan listrik murah, mereka mencari ekosistem. Mereka ingin masuk ke negara yang memiliki universitas riset kuat, pasokan insinyur andal, budaya inovasi, dan kesinambungan kebijakan. Dalam peta itu, Malaysia lebih siap, dan kita harus berani mengakui kenyataan tersebut.
Bonus demografi yang selama ini kita banggakan pun bisa berubah menjadi beban, jika peningkatan kualitas tidak mengiringinya. Jumlah penduduk usia produktif yang besar tanpa keterampilan relevan hanya akan memperbesar pengangguran terdidik. Lebih jauh, kita berisiko terjebak sebagai pasar besar tanpa kedaulatan teknologi, sebuah ironi di tengah mimpi Indonesia Emas 2045.
Meningkatkan kapasitas SDM STEM bukan pilihan, melainkan keharusan. Sejak pendidikan dasar, utamanya dengan mengubah cara kita mengajarkan sains dari hafalan menjadi eksplorasi. Di tingkat perguruan tinggi, kolaborasi riset dengan industri perlu diperluas, bukan sekadar jargon. Negara juga perlu memuliakan profesi peneliti dan ilmuwan, bukan hanya secara simbolik, tetapi melalui dukungan anggaran, fasilitas, dan jenjang karier yang layak.
Keputusan Nvidia memilih Malaysia sejatinya bukan tentang hari ini, melainkan tentang esok. Tentang negara mana yang serius menyiapkan generasi penerusnya, dan negara mana yang masih terjebak dalam romantisme masa lalu. Dalam dunia yang bergerak secepat algoritma, ketertinggalan bukan lagi soal jarak, tetapi soal sikap.
Saya sering berpikir, ketika kelak anak-cucu kita bertanya: “Apa yang kalian wariskan kepada kami?” Apakah jawabannya sekadar bonus demografi, gedung-gedung megah, dan slogan besar? Ataukah kemampuan berpikir ilmiah, keberanian menguasai teknologi, dan kebijaksanaan menggunakan kemajuan dengan nurani?
STEM bukan sekadar disiplin ilmu. Ia adalah bahasa masa depan. Dan bahasa yang tidak kita kuasai, akan kita dengar sebagai perintah, bukan pilihan. Jika hari ini kita gagal menyiapkan talenta, maka esok kita akan menyesali peluang yang pergi diam-diam, satu demi satu. Hal ini, ibarat kapal yang berlayar tanpa pernah menoleh ke belakang.
Mungkin Nvidia telah pergi. Namun yang lebih berbahaya adalah jika kita tetap tinggal tanpa arah, tiada kesadaran, dan bukan keberanian untuk berubah. Warisan masa depan bangsa bukan melalui debat, melainkan melalui keputusan hari ini. Yaitu, menyiapkan manusia yang sanggup menjemput zaman.
“Sebagai seseorang yang puluhan tahun hidup di dunia pelabuhan dan perlintasan global, saya belajar satu hal sederhana. Bahwa, kapal besar tidak pernah memilih dermaga yang sekadar ramah, tetapi yang benar-benar siap. Dermaga yang memiliki kedalaman cukup, pandu andal, sistem yang rapi, dan manusia yang tahu apa harus mereka lakukan.”















Tinggalkan Balasan