Kita Terlalu Cepat Menilai Kapten. Di laut, keputusan tidak pernah sepenuhnya pribadi. Seorang kapten berdiri di anjungan bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai simpul dari keselamatan banyak orang. Setiap instruksi yang keluar dari ruang kemudi adalah akumulasi pengalaman, tekanan situasi, dan tanggung jawab moral.
Itulah sebabnya ketika nama Kapten Hasiholan muncul dalam pusaran yang menyita perhatian publik, saya tidak bisa membacanya sekadar sebagai berita. Bagi saya, ia adalah potret tentang betapa rapuh dan sekaligus beratnya profesi pelaut di tengah sistem yang semakin kompleks.
Sebagai mantan pelaut, saya tahu, di laut tidak ada tombol jeda. Tidak ada ruang untuk berpikir panjang ketika situasi genting datang. Ombak tidak menunggu klarifikasi. Angin tidak peduli pada opini publik. Keputusan harus saat itu, bahkan sering kali dalam hitungan detik.
Namun, kita jarang membicarakan apa yang terjadi setelah keputusan itu. Di darat, narasi bergerak cepat, analisis bermunculan, penilaian terlontar. Media bekerja dengan logikanya sendiri. Publik membentuk opini. Tetapi di balik itu semua, ada manusia yang memikul beban etik dan psikologis yang tidak ringan. Seorang kapten bukan sekadar pejabat kapal, ia adalah wajah tanggung jawab.
Saya tidak hendak membela atau menyalahkan. Netralitas bukan berarti diam tanpa sikap, melainkan keberanian untuk melihat peristiwa secara utuh. Pertanyaan pentingnya sebagai berikut. Bagaimana sistem mendukung atau justru meninggalkan nakhoda ketika badai datang? Baik badai alam maupun badai opini?
Dalam praktik kepelabuhanan dan pelayaran modern, prosedur keselamatan sudah sangat ketat. Regulasi internasional, standar operasional, hingga audit berlapis menjadi pagar sistem. Namun regulasi yang kuat tidak otomatis menjamin keadilan persepsi publik. Ada jarak antara prosedur teknis dan cara masyarakat memahami risiko maritim.
Di sinilah letak kegelisahan saya,
Sering kali kita menuntut kesempurnaan dari profesi yang bekerja dalam ketidakpastian. Kita ingin setiap pelayaran bebas risiko, setiap sandar berjalan mulus, setiap manuver tanpa cela. Padahal laut sendiri adalah ruang kemungkinan. Bahkan dengan teknologi paling mutakhir, faktor cuaca, arus, visibilitas, hingga komunikasi tetap menyimpan variabel tak terduga. Kapten Hasiholan, seperti kapten-kapten lainnya beroperasi dalam realitas itu.
Menajamkan esai ini berarti berani mengatakan bahwa dalam setiap peristiwa maritim, ada tiga lapis tanggung jawab, individu, sistem, dan keselamatan. Jika kita hanya berhenti pada individu, kita menyederhanakan masalah. Jika kita hanya menyalahkan sistem, kita mengaburkan akuntabilitas pribadi. Maka, keseimbangan di antara keduanya adalah inti dari keadilan maritim.
Sebagai pengamat, saya melihat bahwa yang sering luput adalah budaya keselamatan itu sendiri. Apakah kita sudah membangun ekosistem yang memberi ruang evaluasi tanpa stigma? Apakah memahami investigasi sebagai upaya belajar, bukan sekadar mencari kambing hitam? Apakah masyarakat menerima literasi cukup untuk memahami kompleksitas dunia pelayaran?
Laut tidak pernah hitam-putih. Ia selalu bergradasi,
Dan mungkin, di tengah hiruk pikuk pemberitaan, yang paling kita butuhkan saat ini adalah keheningan yang adil. Keheningan yang memberi ruang pada fakta, bukan asumsi. Keheningan yang memungkinkan proses berjalan tanpa tekanan emosional yang berlebihan.
Saya memilih perspektif humanis bukan karena lunak, tetapi karena profesi maritim adalah profesi yang sarat martabat. Di anjungan kapal, setiap kapten membawa bukan hanya lisensi, tetapi kehormatan.
Kita boleh kritis. Kita perlu evaluasi. Tetapi kita juga harus jujur bahwa keselamatan pelayaran adalah kerja kolektif. Baik itu regulator, operator, pelabuhan, awak kapal, hingga cuaca yang tak selalu bersahabat.
Jika ada yang perlu kita jaga dari peristiwa ini, mungkin bukan hanya reputasi seseorang, tetapi cara kita memperlakukan profesi pelaut itu sendiri. Sebab di laut, tanggung jawab tidak pernah ringan. Dan di darat, keadilan tidak boleh tergesa.
Di atas kapal, seorang kapten terbiasa berdialog dengan sunyi. Nahkoda membaca radar dalam kesendirian. Master memandangi horizon tanpa tepuk tangan. Agregatnya, ia mengambil keputusan tanpa jaminan bahwa semua orang akan memahami alasannya. Laut tidak pernah memberi ruang untuk popularitas. Ia hanya memberi ruang untuk tanggung jawab.
Mungkin itu sebabnya ketika badai opini datang, terasa jauh lebih bising daripada badai angin,
Saya membayangkan seorang kapten berdiri di anjungan pada malam hari. Lampu-lampu navigasi menyala. Ombak bergerak dalam irama yang tak selalu ramah. Di balik ketenangan wajahnya, ada kalkulasi, menyimpan kecemasan, terselip doa yang tak terdengar. Tidak ada kapten yang berangkat dengan niat mencelakakan. Mengawali pelayaran selalu dengan satu harapan sederhana, semua selamat sampai tujuan.
Namun dunia modern tidak hanya menuntut keselamatan. Ia menuntut kesempurnaan. Dan ketika sesuatu terjadi, kita sering lupa bahwa manusia bekerja di dalam sistem yang tidak pernah steril dari risiko. Kita lupa bahwa keberanian mengambil keputusan juga berarti keberanian menerima konsekuensi. Kita lupa bahwa sebelum menjadi subjek pemberitaan, seorang kapten adalah ayah, suami, anak, atau sahabat bagi seseorang. Dan, faktanya mereka sedang menunggu di darat dengan cemas.
Barangkali inilah saatnya kita menata ulang cara kita memandang profesi pelaut. Bukan untuk melindungi kesalahan, tetapi untuk menjaga martabat. Evaluasi harus berjalan. Investigasi harus tuntas. Transparansi adalah keharusan. Tetapi empati tidak boleh hilang.
Karena jika laut mengajarkan kita sesuatu, ia mengajarkan kerendahan hati. Bahwa sebesar apa pun kapal, ia tetap kecil di hadapan samudra. Dan sebesar apa pun jabatan, ia tetap manusia di hadapan takdir. Di ujung semua perdebatan, mungkin yang paling kita butuhkan bukan sekadar kesimpulan, melainkan kebijaksanaan. Agar kita tidak hanya pandai menilai dari darat, tetapi juga belajar memahami dari anjungan kapal.
















Tinggalkan Balasan