Menambatkan Diri di Pelabuhan Sunyi

Menambatkan Diri di Pelabuhan Sunyi
Ilustrasi by OpenAI

Menambatkan Diri di Pelabuhan Sunyi. Kita hidup di zaman yang semakin sibuk, penuh jadwal, tuntutan, dan distraksi, meskipun di saat bersamaan terasa semakin kosong. Selayaknya menjejali kapal kargo dengan muatan tanpa pernah memperhatikan bobot stabilitasnya, hingga tanpa sadar kapal berlayar dengan draft dalam. Kapal tersebut terus bergerak meski limbung, tampak kokoh namun goyah ketika gelombang besar menghantam.

Saya sering berpikir saat berdiri di geladak kapal, sembari memandang laut luas tak berujung. Dulu setiap pelaut memahami, bahwa dalam pelayaran tak ada pemaksaan kapal selalu berlayar dengan kecepatan penuh. Ada saatnya mesin pelan, waktunya meluruskan ulang haluan, serta ketika kapal menjalani bunker, pemeriksaan, dan perawatan. Namun kehidupan di darat hari ini, ritme seperti itu nyaris hilang. Kita berlari, bergegas, mengejar sesuatu tanpa benar-benar tahu apa yang sedang kita kejar.

Sebagian orang berkata mereka mengejar kesuksesan, sebagian lainnya mencari kestabilan, dan sisanya memburu pengakuan. Namun di luar itu semua, ada pula yang sekadar mengejar validasi layar kecil, namanya ponsel. Tanpa sadar, kita terus menambah muatan ke dalam palka, target baru, beban anyar, dan ekspektasi aktual. Terus menaikkan RPM kehidupan tanpa memeriksa kompas batin. Dan pada titik tertentu, penuhnya hidup justru menimbulkan kekosongan yang aneh.

Fenomena ini makin terasa hingga saat ini, setiap bangun pagi kepala kita sudah penuh dengan notifikasi. Kita bekerja seperti robot, mengejar tenggat, memburu angka, dan melacak komentar. Kami makan terburu-buru dan jarang benar-benar hadir dalam percakapan. Aku membaca berita hanya untuk marah, lalu melupakan alasan kita marah. Anda menjalani hari seolah tugas utamanya adalah “tak tertinggal,” padahal tertinggal dari apa? Dari siapa?

Hari ini, kita ibarat kapal. Kapal yang telah jauh dari pantai, namun terus menancap kecepatan tanpa menengok ke belakang, padahal tanpa tahu arah pelayarannya. Sebuah pelajaran berharga dari dunia kepelautan, bahwa kapal yang terus bekerja tanpa docking akan rusak lebih cepat. Bukan saja mesin, melainkan struktur, cat bawah air, bahkan baut-baut kecil yang lama-lama korosi. Kapal membutuhkan berhenti untuk terapi, memerlukan ruang kosong untuk berfungsi lagi.

Manusia juga membutuhkan ruang kosong untuk memisahkan kesedihan dan kewarasan. Manusia memerlukan ruang pemulihan, memahami arah, serta bernapas. Namun inilah paradoks zaman kita, ketika hidup terasa paling penuh, saat itulah kita sebenarnya sedang paling kosong.

Orang-orang yang terlihat paling sibuk sering kali adalah yang paling takut berhenti. Takut ruang hening akan memperlihatkan kegelisahan yang selama ini tertahan di bawah karpet. Takut kesunyian akan mengingatkan bahwa muatan yang dibawa bukan semuanya milik kita. Sebagian adalah beban titipan orang lain, sebagian lainnya hanyalah ego yang tak pernah puas.

Dalam percakapan dengan beberapa kawan, saya menyadari satu hal kecil namun penting, bahwa kita telah kehilangan kemampuan menikmati jeda. Padahal dalam seni navigasi, jeda adalah komponen tak terpisahkan. Pelaut akan bersikap ketika menghadapi cuaca buruk. Yaitu bukan dengan menaikkan kecepatan, tetapi menurunkan layar, menahan posisi, sembari menunggu angin stabil. “Menunggu” dalam arti terbaiknya adalah tindakan, bukan kemalasan, melainkan keberanian untuk tidak tergesa.

Ironisnya, masyarakat hari ini menganggap jeda sebagai ancaman. Orang menganggap lima menit diam adalah rugi, sekian detik tidak membalas pesan sebagai tindakan tidak sopan. Tidak mengikuti tren terbaru merupakan sesuatu yang ketinggalan zaman. Intinya, kita diajar untuk terus bergerak, tapi jarang diajar untuk berhenti.

Mungkin, sudah waktunya kita menambatkan diri (walau sesaat) di pelabuhan sunyi. Mengizinkan diri merasakan keheningan yang selama ini kita hindari. Menanyakan kembali hal paling sederhana namun paling penting dalam hidup: “Ke mana sebenarnya aku ingin berlayar?”

Bukan pertanyaan untuk membuat hidup dramatis, tetapi untuk mengingatkan diri bahwa arah lebih penting daripada kecepatan. Bahwa muatan yang tepat lebih baik daripada muatan berlimpah. Bahwa kapal yang hidupnya hanya berisi pelayaran tanpa pernah bersandar akan kehilangan makna perjalanan itu sendiri.

Saya selalu percaya, setiap manusia punya pelabuhan asal dan pelabuhan tujuan. Namun kita sering lupa bahwa pelabuhan sementara, tempat untuk sekadar menambat dan memperbaiki diri, adalah bagian penting dari navigasi hidup.

Maka jika hari ini hidup Anda terasa terlalu penuh namun entah kenapa tetap terasa kosong, mungkin itu bukan tanda kegagalan. Mungkin itu tanda bahwa Anda sedang dipanggil untuk menepi sebentar. Untuk melihat ulang peta, untuk membiarkan kompas batin menyala kembali.

Karena dalam diam yang tenang, kita sering menemukan arah yang hilang. Dan pelabuhan sunyi itu (yang selama ini kita hindari) justru mungkin tempat kita akhirnya menemukan diri kita sendiri.

Selesai,-