Doa Sunyi Seorang Kakek. Malam ini saya kembali belajar menjadi kecil. Bukan kecil dalam arti usia, melainkan kecil dalam arti kesediaan untuk melambat dan menunduk. Saya sedang belajar menyesuaikan diri dengan irama napas cucu-cucu yang sedang belajar tidur. Di kamar yang remang, ketika lampu mengecil dan suara dunia memelan, saya duduk sebagai seorang kakek. Saya tidak sedang memberikan petuah panjang, bukan juga nasihat keras, melainkan dengan lagu pengantar tidur. Lagu tersebut berputar berulang-ulang, lembut, dan nyaris tak menuntut apa pun selain kehadiran.
Tidur, bagi bayi, bukan sekadar jeda dari aktivitas. Ia adalah kerja besar kehidupan. Dalam tidur, tubuh kecil itu bertumbuh, sel-sel otak membangun jejaringnya, memori tersusun diam-diam. Ia mulai mengenal bahasa, meski belum mampu mengucapkan. Tidur nyenyak sama pentingnya dengan makan, minum, rasa aman, dan sentuhan kasih. Kurang tidur bukan hanya membuat bayi rewel, ia dapat mengganggu fondasi tumbuh kembang fisik dan mentalnya. Saya baru benar-benar merasakan keseriusan itu ketika menyaksikan sendiri betapa rapuhnya malam-malam mereka. Ia mudah terbangun oleh popok yang basah, rasa haus, atau suara yang tak sengaja lebih keras dari seharusnya.
Sebagai orang tua muda, mungkin kita sering menganggap tidur bayi sebagai urusan teknis, jam berapa, berapa lama, bangun berapa kali. Namun sebagai kakek, perspektif itu berubah. Tidur cucu bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan amanah. Setiap upaya menidurkan mereka terasa seperti ikut menjaga masa depan. Yaitu, masa depan yang belum mereka pahami, tetapi sudah mulai dibangun oleh tubuh dan jiwa mereka sendiri.
Di situlah lagu pengantar tidur mengambil perannya. Lagu-lagu dengan musik lembut, tempo lambat, dan pola berulang menjadi semacam bahasa universal yang bayi pahami tanpa perlu menerjemahkannya. Musik itu bekerja seperti terapi sunyi, memperlambat detak jantung, menenangkan napas, dan mengajak tubuh kecil itu kembali ke keseimbangan. Penelitian menyebutkan bahwa lullabies mampu menormalkan tekanan darah dan denyut jantung bayi yang meningkat akibat rangsangan tiba-tiba. Tetapi malam ini, saya tidak sedang mengingat angka atau jurnal. Saya sedang menyaksikan bukti hidupnya. Mata yang semula gelisah mulai terpejam, jemari kecil mengendur, dan napas yang semula terputus-putus berubah panjang serta teratur.
Alunan musik klasik “Mozart” yang lembut dan dalam, mengisi ruang seperti air yang mengalir pelan. Tidak memaksa, tidak menuntut, hanya hadir. Dalam irama itulah, saya membayangkan otak cucu-cucu saya sedang bekerja. Musik membangun kecerdasan, menata memori, mengenali pola, dan secara perlahan menyiapkan kemampuan berpikir dan berbahasa. Semua itu terjadi tanpa suara, tanpa tepuk tangan, tanpa kesadaran. Sunyi, tetapi menentukan.
Sebagai kakek, saya tahu satu hal dengan pasti, mereka mungkin tidak akan mengingat malam ini. Mereka tidak akan mengingat wajah saya yang duduk di sisi ranjang, atau lagu apa yang terdengar, bahkan berapa lama mereka terlelap. Tetapi tubuh dan pikiran mereka akan menyimpannya dengan cara yang tidak kita pahami sepenuhnya. Ibarat laut mengingat arah angin, meski permukaannya tenang, demikian pula jiwa anak-anak menyimpan jejak kasih meski tak pernah terucap.
Di titik itulah saya mulai merenung. Dalam hidup, kita sering mengejar hal-hal yang besar, keras, dan mencolok. Padahal hidup yang paling menentukan justru hadir dalam bentuk yang paling sederhana. Yaitu, lagu pengantar tidur, napas yang tenang, serta kehadiran yang setia. Semua itu adalah investasi jangka panjang, dan tak tercatat di laporan apa pun, tetapi justru membentuk manusia seutuhnya.
Dan ketika malam semakin larut, saya menyadari bahwa apa yang saya lakukan bukan sekadar menidurkan cucu. Saya sedang menitipkan doa, tanpa kata, tanpa ritual formal ke dalam irama musik dan sunyi kamar. Doa agar mereka tumbuh sehat, cerdas, dan lembut hatinya. Doa agar kelak, ketika mereka dewasa dan menghadapi dunia yang keras, ada bagian dalam diri mereka yang tetap mengenal ketenangan.
Penutup malam ini membawa saya pada kesadaran spiritual yang sederhana namun dalam. Bahwa Tuhan sering bekerja melalui hal-hal kecil yang kita anggap sepele. Melalui lagu yang lembut, dengan tidur yang nyenyak, dan per kehadiran seorang kakek yang tak banyak bicara. Barangkali, inilah bentuk ibadah yang paling sunyi, menjaga kehidupan ketika ia sedang paling rapuh. Dan, menyerahkannya kembali kepada Sang Pemilik Hidup dengan penuh kepercayaan.
Jika kelak cucu-cucu bertanya tentang warisan apa yang ingin saya tinggalkan, mungkin saya tidak akan menyebut harta atau gelar. Saya ingin mereka “meski tanpa sadar” mewarisi kenangan tubuh tentang ketenangan. Tentang malam-malam ketika dunia terasa aman, lagu terdengar lembut, dan ada cinta yang berjaga tanpa pamrih.
Di antara lagu, tidur, dan doa yang tak terucap itulah, saya belajar bahwa menjadi kakek bukan tentang usia yang bertambah. Tetapi, tentang jiwa yang belajar merendah. Dan, malam ini saya bersyukur. Karena, di hadapan cucu-cucu yang terlelap, saya kembali diajari arti percaya, pasrah, dan mencintai dengan cara yang paling hening.















Tinggalkan Balasan