56: Usia Saat Jam Tidak Lagi Berlomba

56: Usia Saat Jam Tidak Lagi Berlomba
Refleksi Lima Enam (ILustrasi by OpenAI)

Di usia 56, waktu tak lagi terasa sebagai lawan yang harus dikalahkan. Ia justru menjadi sahabat yang mengajak menepi, berjalan pelan, dan berdamai dengan hidup. Dari membiarkan kopi mendingin, hingga melihat tawa cucu di sore hari. Esai ini merekam perjalanan seorang lelaki yang belajar bahwa makna hidup bukan soal kecepatan, melainkan keutuhan saat pulang.

 

Usia lima puluh enam membuat saya masih bangun pagi, tetapi dengan motivasi yang berbeda. Jika dulu alarm berbunyi untuk mengejar jadwal, kini ia berbunyi hanya untuk memastikan tubuh tidak terlalu lama bermalas-malasan. Bahkan sering kali, alarm itu tak sempat berbunyi. Badan sudah lebih dulu sadar, seperti satpam tua meski tidak minta untuk tetap rajin ronda.

Pagi hari kini tidak lagi saya ukur dengan menit dan detik. Kopi boleh dingin dulu, membalas pesan WhatsApp boleh nanti-nanti, dan tidak selalu harus menamatkan berita pagi. Di usia 56, saya belajar satu hal sederhana, dunia tidak runtuh hanya karena saya terlambat lima menit. Ternyata, yang dulu runtuh itu lebih sering justru kepala saya sendiri.

Dulu jam tangan terasa seperti wasit yang galak, setiap detiknya meniup peluit. Sekarang ia lebih mirip teman lama yang tahu kapan harus diam. Jam tetap berputar, tentu saja, tapi ia tidak lagi memelototiku seolah hidup ini lomba lari estafet yang hadiahnya belum jelas.

Sebagai orang laut, saya paham benar arti kecepatan. Kapal besar tidak boleh lambat di laut lepas, tapi ia juga tidak boleh sok cepat saat masuk pelabuhan. Anehnya, pelajaran itu baru benar-benar saya pahami di usia 56. Rupanya, hidup pun begitu. Ada masa berlayar kencang, kapan masa pelan-pelan agar tidak salah sandar.

Adanya masa dalam hidup ketika menganggap kecepatan sebagai bukti kesungguhan. Datang paling pagi, pulang paling malam, bergerak seolah hendak mengalahkan musuh yang bernama waktu. Saya pernah hidup di masa itu, bertahun-tahun lamanya. Waktu bukan sekadar jam di pergelangan tangan, melainkan tuntutan yang tak pernah kenyang.

Namun di usia 56, saya mulai menyadari sesuatu yang terasa sepele tapi mengubah cara pandang. Ternyata, waktu tak pernah mengejar siapa pun. Kita-lah yang berlari membabi buta, sering kali sambil membawa beban yang sebenarnya bisa diturunkan.

Kini, saya lebih sering berhenti sejenak. Bukan karena kehilangan tenaga, tetapi karena akhirnya mengerti bahwa tidak perlu menyambut semua hal dengan tergesa. Saatnya kita lebih banyak mendengar percakapan daripada gegas menanggapi. Lebih bijak menunda keputusan ketimbang cepat mengumumkan. Dan, saatnya kita menikmati ciptaan Tuhan, bukan selalu menaklukkannya.

Sebagai pandu kapal, saya pernah berkali-kali mengingatkan nakhoda. Bahwa, kecepatan bukan soal seberapa cepat mesin bekerja, tetapi seberapa tepat mengendalikan kapal. Ironisnya, nasihat itu dulu jarang saya terapkan pada diri sendiri. Hidup saya jalankan seperti kapal kontainer yang terus berpacu, lupa bahwa suatu hari setiap kapal—sekokoh apa pun—akan sampai pada dermaga terakhirnya.

Usia 56 mengajarkan saya bahwa melambat bukan tanda kalah. Ia justru pertanda bahwa kita mulai memahami peta hidup sendiri. Bahwa tidak selalu melawan semua arus, dan tidak semua ombak harus ditakuti. Ada kalanya kita membiarkan hidup berjalan apa adanya, sambil menjaga arah agar tetap lurus.

Saya juga belajar berdamai dengan hal-hal yang dulu terasa mendesak. Kepantasan harus mulai menggantikan ambisi. Ketenangan lebih utama daripada pengakuan. Dan, ukuran keberhasilan tak lagi banyaknya capaian, melainkan seberapa sedikit Anda menyesal.

Suatu sore, saya duduk di rumah bersama cucu saya. Ia bermain dengan mainannya, sesekali menoleh, lalu tertawa tanpa sebab yang jelas. Waktu seakan berhenti di sana, atau mungkin justru berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada target, tidak ada tenggat, tidak ada hal mendesak yang harus segera diselesaikan. Hanya kebersamaan yang sederhana, tapi utuh.

Di usia 56, momen seperti itu terasa lebih berharga daripada rapat panjang atau agenda yang padat. Saya menyadari, ada fase dalam hidup ketika kehadiran lebih penting daripada prestasi. Ketika anak-anak tidak lagi membutuhkan kita sebagai penentu arah, melainkan sebagai tempat pulang. Dan ketika cucu tidak membutuhkan apa pun, selain seorang kakek yang mau duduk diam di sampingnya.

Istri saya sering tersenyum melihat saya kini lebih betah di rumah. Dulu, koper selalu siap. Sekarang, sandal di teras justru lebih sering menemani. Kami berbincang pelan, tentang hal-hal kecil yang dulu terlewat: tanaman yang tumbuh, tetangga yang sakit, atau rencana sederhana untuk esok hari. Saya belajar bahwa cinta pun punya irama, dan ia tidak selalu sejalan dengan kecepatan langkah kita.

Di usia 56, saya mulai memahami bahwa waktu bukan garis lurus yang harus ditaklukkan, melainkan lingkaran yang mengajak kita pulang. Apa yang dulu kita kejar dengan napas terengah, kini justru mendekat ketika kita berhenti memaksa. Barangkali, begitulah cara Tuhan mengajarkan makna cukup.

Jam tetap berdetak, tetapi hati tidak lagi tergesa. Saya belajar menundukkan langkah, bukan karena takut jatuh, melainkan agar bisa melihat lebih jelas ke mana arah pulang itu berada. Di antara jeda dan diam, saya menemukan bahwa hidup tidak selalu meminta jawaban, kadang ia hanya ingin disyukuri.

Usia ini mengajarkan saya satu hal yang sederhana namun dalam. Bahwa berlari terlalu jauh sering membuat kita lupa siapa yang berjalan di samping. Maka saya memilih berjalan pelan, sambil menjaga niat agar tetap lurus, dan hati agar tetap bening.

Jika kelak benar saatnya saya menepi, semoga itu terjadi dengan tenang. Bukan sebagai kapal yang rusak, tetapi sebagai perahu yang tahu bahwa laut telah memberinya cukup pelajaran. Dan di dermaga terakhir itu, semoga saya bisa berkata dalam diam, “aku telah berlayar secukupnya, dan aku pulang dengan utuh.”