Indonesia Menimbang Bloomberg dan Gaza

Indonesia Menimbang Bloomberg dan Gaza
Sumber Ilustrasi: OpenAI

Indonesia Menimbang Bloomber dan Gaza. Di satu panggung elit dunia, Presiden Ke-7 Joko Widodo duduk di barisan penasihat Bloomberg New Economy Forum. Sebuah forum yang bukan sekadar berbicara soal ekonomi, tetapi forum yang mempertemukan para pemilik kekuatan: modal, data, dan kepentingan geopolitik. Sementara itu, di panggung lain, Presiden Ke-8 Prabowo Subianto berdiri lantang mengecam Israel. Ia mengecam pembantaian warga Gaza sebagai genosida, dan menyerukan pembelaan moral yang tidak lagi basa-basi.

Dua panggung, oleh mantan dan penerus presiden, meskipun “terkesan” memiliki arah diplomasi berbeda. Padahal, Indonesia berada tepat di tengah gelombang besar yang memaksa kita menjawab satu pertanyaan fundamental. Akankah kita (baca: negara) bersandar pada modal, atau negara yang punya keberanian moral?

Jejak Jokowi di Bloomberg: Diplomasi Ekonomi atau Diplomasi Kepentingan?

Ketika Jokowi menerima posisi sebagai penasihat Bloomberg, ia seolah menegaskan bahwa Indonesia harus berperan di level global. Sebuah lembaga internasional yang mengarustamakan uang, data, dan teknologi sebagai mesin utama. Di forum Bloomberg, Jokowi menjual citra Indonesia sebagai negara yang siap masuk ke ekonomi masa depan. Maksudnya, ekonomi berbasis AI, digitalisasi, dan transformasi besar-besaran.

Tentu, tidak ada yang salah dengan ambisi itu. Tapi publik berhak bertanya, apa konsekuensi moral dari bergabung dalam lingkaran kapital global? Bloomberg bukan organisasi yang steril dari kepentingan. Ia punya relasi finansial dengan bank-bank Israel, mendapat sorotan atas donasi filantropi Michael Bloomberg ke lembaga kedaruratan Israel. Selain itu, juga menjadi salah satu simpul penting jaringan pasar global yang tidak pernah benar-benar netral terhadap geopolitik.

Ketika seorang presiden masuk ke forum seperti itu, ia bukan hanya membawa nama negara. Ia membawa seluruh beban moral kebijakan global. Diplomasi Jokowi condong pada pragmatisme, investasi dulu, etika belakangan. Dan, mendorong pembangunan melalui kolaborasi dengan pusat-pusat modal raksasa. Rasanya sah saja, bahkan perlu, tetapi harus jujur, bahwa hal itu bukan diplomasi bebas nilai. Terdapat kompromi yang tak gratis, meski sering tak terlihat.

Prabowo Menghantam Israel: Diplomasi Moral yang Menantang Arus

Berbeda 180 derajat dari Jokowi, Prabowo mengambil jalur diplomasi yang lebih keras dan berani. Ia mengecam Israel secara terbuka, menyebut tindakan di Gaza sebagai genosida, bahkan menyatakan kesediaan mengirim pasukan perdamaian Indonesia. Ini bukan sekadar gaya diplomasi berhitung pelan, melainkan menusuk. Dengan sikapnya, Prabowo mengirim pesan tegas, Indonesia tidak tunduk pada tekanan modal global ketika menyangkut kemanusiaan. Ia berani bersuara di saat negara-negara besar justru bungkam atau bersilat kata.

Namun, diplomasi Prabowo bukan hanya moralistik. Ia realistis. Ia menyatakan Indonesia baru mengakui Israel, bila Negeri Yahudi tersebut mengakui kemerdekaan Palestina terlebih dahulu. Sebuah manuver diplomatik yang membuka ruang negosiasi, tanpa mengorbankan prinsip sejarah Indonesia. Di titik ini, Prabowo mengembalikan posisi Indonesia sebagai negara yang berani bicara, bukan hanya berani membangun gedung.

Kontradiksi atau Strategi?

Melihat kontras antara Jokowi dan Prabowo, banyak pengamat tergoda untuk menyimpulkan bahwa Indonesia sedang berjalan zigzag. Di satu sisi masuk lingkaran modal global, di sisi lain mengecam keras tindakan negara yang berafiliasi ke jaringan tersebut. Namun ada pembacaan yang lebih cerdas, bahwa Indonesia sedang memainkan dua kartu sekaligus, yaitu kartu ekonomi dan kartu moral.

Negara besar selalu punya dua wajah;

  • Amerika Serikat bisa investasi di mana saja sambil bicara demokrasi.
  • Turki bisa berdagang dengan Israel sambil mengecamnya di panggung internasional.
  • Cina bisa bicara kemakmuran global sambil menekan minoritas dalam negeri.

Indonesia, suka atau tidak, telah memasuki panggung tersebut. Pertanyaannya bukan apakah kita punya dua wajah, tetapi apakah kedua wajah itu bekerja untuk kepentingan rakyat atau kepentingan elite?

Risiko yang Mengintai

  1. Ketergantungan terhadap modal global dapat menggerus posisi moral: Jika Indonesia terlalu dalam memasuki lingkaran kapital, kritik terhadap Israel hanya terdengar sebagai retorika tanpa keberanian implementatif.
  2. Diplomasi moral bisa runtuh bila praktik bisnis bertentangan: Sulit mengecam Israel sambil menerima investasi dari jaringan yang punya keterkaitan bisnis ke sana. Konsistensi akan menjadi ujian terbesar kepemimpinan Prabowo.
  3. Publik tidak lagi mudah dibohongi: Era digital membuat kita mudah melacak keterkaitan ekonomi-politik. Publik semakin berani mempertanyakan, siapa yang sebenarnya mendapat keuntungan dari hubungan dengan Bloomberg, atau sikap keras terhadap Israel?

Indonesia Harus Menyatukan Panggung Modal dan Panggung Moral

Jika dunia ingin menghormati Indonesia, maka negara ini harus mampu memainkan dua panggung sekaligus, yaitu panggung modal dan panggung moral. Mantan Presiden Jokowi membuka pintu ke jaringan ekonomi global. Sementara, Presiden Prabowo penerusnya mengingatkan bahwa Indonesia bukan sekadar pasar, negara ini adalah bangsa yang punya sikap.

Kedua pemimpin nasional, dengan segala perbedaan gaya dan pilihan strateginya. Keduanya “seolah” ingin menyatukan dua kepentingan sekaligus, yaitu keseimbangan antara kekuatan ekonomi dan keberanian etika. Namun keseimbangan ini hanya akan bermakna jika pemerintah berani transparan dan menjaga integritas. Intinya, kita mampu memastikan bahwa hubungan dengan Bloomberg tidak menggerus solidaritas Indonesia terhadap Palestina. Hal ini penting, mengingat solidaritas tersebut telah berakar dalam sejarah diplomasi kita.

Penutup: Jangan Biarkan Indonesia Terseret Arus

Dunia bergerak cepat. Modal global punya tentakel yang panjang, dan konflik Gaza menunjukkan bahwa kemanusiaan bisa ditekan oleh kepentingan. Indonesia harus memilih berdiri di mana, melawan arus atau hanyut bersama kepentingan besar. Kini, Indonesia harus memastikan satu hal. Jangan pernah berlutut di hadapan modal, dan jangan pernah bungkam ketika kemanusiaan terinjak.

Jokowi mengajari Indonesia bagaimana berdiri di pusat ekonomi dunia. Dan, Prabowo mengajari Indonesia bagaimana berdiri tegak di panggung moral dunia.

Saya belum yakin ini pelabuhan terakhir, dan naluri kapten saya bilang: kompasnya tetap bergerak, berarti masih ada cerita yang menunggu untuk dinavigasi.