Navigasi Nalar Maritim (Serial 3)

Navigasi Nalar Maritim (Serial 11)
Lampu Penuntun (Sumber Foto : Pixabay)

Kearifan Lokal: Antara Romantisme dan Rasionalitas

Di berbagai dermaga dan pesisir Nusantara, istilah kearifan lokal kerap terucap dengan nada penuh hormat. Ia terdengar seperti sebuah pusaka warisan luhur dari nenek moyang, yang tak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga kebanggaan. Dalam seminar, buku, bahkan pidato pejabat, mereka memposisikan ungkapan ini sebagai penyangga identitas bangsa. Namun, ketika kita mencoba mengupasnya lebih dalam, muncul pertanyaan yang tak terhindarkan. Yaitu, “Apakah yang lokal otomatis bijak, atau sebatas romantisme masa lalu yang terjebak di ruang kenangan?

Sebagai seorang pelaut yang puluhan tahun mengarungi perairan Indonesia, saya kerap berjumpa dengan dua wajah kearifan lokal. Wajah pertama adalah yang memesona. Menyangkut pengetahuan membaca arah angin, mengenali arus hanya dari riak air, atau menentukan waktu berlayar dari posisi bintang. Pengetahuan seperti ini adalah hasil ribuan kali percobaan, keberanian menghadapi resiko, dan ketekunan menatap cakrawala. Ia lahir dari interaksi langsung dengan laut, sehingga keakuratannya sering membuat takjub, bahkan di era satelit dan radar modern.

Namun ada wajah kedua yang lebih rumit. Beberapa kearifan lokal ternyata bertumpu pada kepercayaan yang tidak selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan, atau bahkan membatasi ruang gerak. Misalnya, larangan berlayar di hari tertentu tanpa alasan meteorologis yang jelas. Atau, keyakinan bahwa arah tertentu akan membawa sial bagi kapal baru. Di sinilah romantisme dan rasionalitas sering kali bertubrukan.

Romantisme terhadap kearifan lokal kerap lahir dari kerinduan akan akar budaya. Dalam bayangan kita, masa lalu adalah sebuah masa ketika manusia hidup lebih selaras dengan alam. Yaitu, ketika segala hal berjalan dengan kesabaran dan kebersahajaan. Kita ingin meyakini bahwa nenek moyang selalu tahu yang terbaik. Namun laut mengajarkan bahwa kesetiaan pada masa lalu tidak boleh membutakan pandangan terhadap realitas baru. Gelombang tidak akan menunggu kita selesai bernostalgia, ia terus bergerak, menguji kemampuan kita beradaptasi.

Rasionalitas menuntut kita bersikap selektif. Ketika nahkoda memutuskan jalur pelayaran, kita harus memilah yang layak dan tidak layak. Maksudnya, mempertahankan kearifan lokal yang terbukti memberi manfaat, dan memodifikasi atau meninggalkan yang tidak relevan lagi. Proses ini tidak mudah, karena membutuhkan nyali. Atau, keberanian untuk mempertanyakan tradisi tanpa kehilangan rasa hormat kepada mereka yang mewariskannya.

Dalam konteks kemaritiman Indonesia, persimpangan ini sangat nyata. Di satu sisi, pengetahuan tradisional nelayan dalam memprediksi cuaca dapat melengkapi data dari BMKG. Sisi lain, adanya praktik melaut tanpa pelampung atau rambu keselamatan. Paradigma yang menganggap “merepotkan” atau “tidak perlu”, meski bertentangan dengan prinsip keselamatan modern. Mengabaikan pelampung demi menjaga “kemurnian tradisi” adalah contoh ketika romantisme menyalip rasionalitas.

Saya pernah berdiskusi dengan seorang nelayan tua di pesisir Benoa Bali. Ia mengatakan bahwa dulu mereka bisa memprediksi badai hanya dengan melihat arah terbang burung laut, dan warna langit menjelang senja. Saat saya bertanya apakah ia kini menggunakan informasi cuaca dari radio atau ponsel, ia tersenyum dan berkata:

“Tentu saja, sekarang burung banyak yang pindah, langit pun sering berubah karena asap dan polusi. Ilmu lama tetap ada, tapi kita perlu alat baru.”

Jawaban itu bagi saya adalah contoh harmonisasi antara warisan pengetahuan dan adaptasi modern.

Harmonisasi seperti inilah yang seharusnya menjadi arah kita. Bukan memilih antara meninggalkan atau mempertahankan, melainkan mengawinkan pesona masa lalu dengan logika masa kini. Sebagaimana kapal modern yang masih mempertahankan layar cadangan untuk keadaan darurat. Kita pun dapat menjaga kearifan lokal sebagai pelengkap, bukan pengganti, inovasi baru.

Namun ada tantangan besar lain, yaitu komodifikasi kearifan lokal. Dalam beberapa festival maritim, tradisi yang dulunya lahir dari kebutuhan praktis kini hanya berpentas semata untuk tontonan wisata. Gerakan layar atau tarian di atas geladak berjalan bukan karena fungsi, melainkan demi kamera. Dalam proses ini, makna asli perlahan memudar, berganti dengan estetika semata. Jika kita tidak hati-hati, kearifan lokal akan terperangkap dalam bingkai romantisme statis. Karena, tak lagi berinteraksi dengan kehidupan nyata masyarakat pesisir.

Laut, bagi saya, adalah guru besar dalam urusan menimbang antara pesona dan logika. Ia tidak menolak kapal kontainer raksasa yang mengandalkan mesin, tetapi juga tidak menghapus perahu layar kecil yang setia memanfaatkan angin. Ia memberi ruang bagi keduanya, asalkan mampu bertahan dalam arus dan badai. Prinsip yang sama berlaku pada kearifan lokal. Ia akan terus hidup, jika mampu berlayar di samudra rasionalitas, tanpa kehilangan pesonanya sebagai warisan budaya.

Mungkin inilah pelajaran terbesar dari perjalanan panjang saya. Bahwa, kearifan lokal bukanlah kitab suci yang tak tersentuh, juga bukan artefak museum yang hanya untuk dipandang. Ia adalah kompas yang harus terus kita kalibrasi, agar tetap menunjukkan arah yang benar di tengah perubahan zaman. Menjaga kearifan lokal berarti memelihara roh pengetahuan sambil membiarkan tubuhnya tumbuh mengikuti kebutuhan baru.

Di setiap pelabuhan tempat saya singgah, saya melihat simbol dari keseimbangan ini. Ada perahu nelayan dengan cat tradisional yang berlabuh di sebelah kapal wisata modern. Terdapat ritual tolak bala yang membarengi doa keselamatan sambil memeriksa kondisi mesin kapal. Adanya generasi muda yang belajar mengikat simpul tali dengan teknik kuno, lalu membagikannya lewat video daring. Semua itu adalah bukti bahwa romantisme dan rasionalitas bukanlah dua kutub yang selalu bertentangan. Tetapi, dua bentangan layar yang membuat kapal kita melaju lebih jauh.

Maka, ketika berbicara tentang kearifan lokal di laut, seyogyanya kita berhenti melihat hanya sebagai benda keramat. Atau, ibarat melestarikan museum artefak ala kadarnya. Sebaliknya, kita perlu memandangnya sebagai mitra dialog, untuk mengajak berdebat, pengujian, dan pembaruan. Sebab, sama seperti laut yang tak pernah diam, kearifan pun harus terus bergerak. Menavigasi zaman, membawa kita menuju pelabuhan yang lebih aman, bijak, dan bermanfaat bagi semua.