Oleh: Wahyu Agung Prihartanto (*)
Opini. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menghangat setelah Iran menyatakan kesiapannya merespon serangan dari Israel. Di tengah tekanan diplomatik dari Amerika Serikat dan sekutunya, serta ketidakterlibatan aktif sebagian besar negara Arab. Iran percaya diti, dan tetap memperlihatkan konsistensi sebagai negara yang memilih bertahan dan melawan, bukan menyerah pada tekanan luar.
Sebagai praktisi dan pengamat kemaritiman, saya melihat bahwa kekuatan Iran tidak semata-mata terletak pada kekuatan tempur darat atau udara. Justru, pendekatan strategis Iran dalam memanfaatkan potensi kelautan menunjukkan bahwa lautan bukan hanya wilayah geografis. Laut, bagi Iran sebagai ruang vital dalam pertahanan dan kedaulatan nasional.
Memang, Iran bukan negara dengan armada laut besar. Kemampuannya tidak sebanding dengan kekuatan maritim negara-negara NATO. Namun, Iran memahami betul nilai strategis wilayah lautnya. Perairan seperti Selat Hormuz dan Laut Oman menjadi arena penegasan posisi politik dan pertahanan. Unit-unit cepat Angkatan Laut Garda Revolusi Islam (IRGC Navy), kapal bersenjata kecil, serta teknologi pengawasan berbasis drone laut. Alat-alat tersebut menjadi wujud konkret strategi maritim yang bersifat taktis dan simbolik.
Ketika operasi militer Iran menghentikan dan mengawal kapal tanker yang melintasi perairan strategisnya, jangan menganggap sebagai operasi biasa. Hal tersebut sebagai komunikasi simbolik pada dunia. Iran mengirimkan pesan, bahwa ia masih mampu mengendalikan ruang lautnya, dan lepas dari pengucilan dari percaturan global. Di dunia kemaritiman, tindakan seperti ini sama kuatnya dengan diplomasi formal dalam menyampaikan pesan politik.
Alih-alih melemah, tekanan ekonomi dan embargo internasional justru mendorong Iran untuk memperkuat fasilitas pelabuhan, seperti Bandar Abbas dan Chabahar. Dalam kondisi terbatas, Iran tetap dapat menjaga kelancaran distribusi logistik dan energi. Ketahanan maritim semacam ini bukan semata hasil infrastruktur, melainkan cerminan keberanian politik dan komitmen mempertahankan kehormatan bangsa.
Bandingkan dengan sebagian besar negara Arab yang memilih untuk tidak bersuara atau merapat pada kepentingan negara-negara Barat. Secara geopolitik, Iran memaklumi sikap tersebut, meskipun ia berpotensi menciptakan ruang kosong dalam narasi perlawanan terhadap dominasi global. Iran justru mampu mengisi ruang kosong, dan tampil sebagai pihak yang berani menanggung risiko untuk memperjuangkan prinsipnya.
Pembelajaran ini relevan bagi Indonesia, negara maritim dengan potensi luar biasa di Asia Tenggara. Laut bukan sekadar jalur logistik atau perbatasan fisik, tetapi bagian integral dari identitas dan martabat nasional. Keteguhan Iran dalam mempertahankan ruang lautnya memberi pelajaran penting bagi Indonesia. Bahwa, kekuatan maritim bukan hanya soal jumlah kapal atau alutsista, melainkan keberanian mengambil posisi dalam dinamika global.
Kita tidak perlu meniru cara Iran yang konfrontatif, namun ketegasannya dalam menjaga wilayah perairan dan mengembangkan kemandirian maritim patut dicontoh. Dalam dunia yang makin tidak pasti, laut merupakan ruang strategis yang membutuhkan kehadiran aktif negara. Tanpa kesadaran itu, kita berisiko kehilangan kontrol atas ruang-ruang vital yang menyangkut kedaulatan dan kesejahteraan.
Laut bukan sekadar bentang air yang menunggu penjagaan. Ia adalah arena kontestasi dan peluang yang hanya dapat dikuasai oleh negara yang bersungguh-sungguh hadir. Iran telah membuktikan, meskipun berbagai tekanan mengepungnya, laut tetap bisa menjadi medan perlawanan, sekaligus sumber legitimasi dan harga diri bangsa.
Meski begitu, pendekatan Iran tidak lepas dari ambiguitas. Di satu sisi, negara ini menunjukkan ketangguhan dalam menjaga kemandirian dan kedaulatannya. Namun di sisi lain, strategi yang cenderung konfrontatif berisiko memicu instabilitas baru, baik di kawasan Timur Tengah maupun dalam skala global. Situasi ini mengajukan pertanyaan penting: mungkinkah membangun kekuatan maritim secara utuh tanpa harus jatuh ke dalam pola konflik?
Inilah mengapa keseimbangan antara kekuatan dan diplomasi menjadi sangat krusial. Laut tidak hanya merupakan domain pertahanan, tetapi juga menjadi jalur komunikasi, perdagangan, dan kerja sama antar bangsa. Negara maritim yang matang bukan semata yang mampu menjaga wilayahnya dari ancaman. Dan, selain itu juga yang bisa mengelola laut sebagai ruang pengaruh yang damai dan produktif.
Indonesia, dengan lebih dari 17.000 pulau dan posisi strategis di jalur pelayaran dunia. Ia memiliki peluang besar sekaligus tanggung jawab besar untuk memimpin di sektor ini. Namun realitasnya, pengelolaan ruang laut kita masih terfragmentasi. Kedaulatan maritim belum sepenuhnya hadir dalam tindakan nyata, karena hanya hadir dalam pidato dan simbolisme. Sementara Iran dengan segala keterbatasannya, justru mampu menjadikan laut sebagai bagian penting dari postur geopolitiknya.
Langkah-langkah seperti penguatan TNI AL, peningkatan kapasitas pelabuhan nasional, dan revitalisasi industri galangan kapal sudah mendesak. Serta, melihat perlindungan tenaga kerja pelaut sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Dan, yang tak kalah penting adalah membangun visi kebangsaan yang menempatkan laut sebagai pusat orientasi pembangunan dan pertahanan.
Iran, terlepas dari berbagai kontroversi yang melekat padanya, memberi pelajaran bahwa kekuatan laut bukan semata perkara teknologi atau persenjataan. Ia adalah ekspresi dari tekad politik. Kita sebagai bangsa bahari sejati, mesti segera beranjak dari retorika ke arah tindakan nyata. Sehingga, pada gilirannya kita mampu menempati posisi yang layak di peta maritim global.













Tinggalkan Balasan