Di tengah melonjaknya biaya ibadah haji dan lamanya antrean keberangkatan di Indonesia, tercatat lebih dari lima juta calon jemaah aktif. Sangat relevan, bila memunculkan kembali satu wacana lama. Yaitu, bagaimana jika perjalanan ke Tanah Suci tidak lagi hanya mengandalkan jalur udara, tetapi juga kembali membuka jalur laut?
Sebagai praktisi kemaritiman dan peserta CJH, memprediksi moda transportasi laut berpeluang menjadi solusi alternatif. Saya melihat, bukan hanya terjangkau secara finansial, melainkan juga memperkaya pengalaman spiritual. Artikel ini mengajak kita menelaah opsi tersebut dari berbagai sudut pandang, mulai dari ekonomi, durasi, kekhusyukan, hingga urgensitas sosial.
Biaya: Alternatif Bagi yang Terbentur Harga
Data dari BPKH tahun 2024 menyebutkan bahwa biaya haji reguler telah menembus angka Rp 93 juta per orang. Dari sejumlah itu, lebih dari setengahnya jemaah menanggung sendiri. Dan, komponen transportasi udara memakan porsi signifikan, sekitar sepertiga dari total biaya tersebut.
Jika kita melirik moda laut, sejarah menunjukkan bahwa kapal-kapal milik PT Pelni pernah mengangkut jemaah haji maupun umroh. Pada masa 1950-1970an KM Lawit atau KM Tidar mampu mengangkut ribuan jemaah dengan tarif jauh lebih ekonomis. Dengan dukungan teknologi dan standar keselamatan modern, pengoperasian kapal saat ini berpotensi menurunkan biaya perjalanan hingga 20–30 persen dibanding jalur udara. Apalagi, bila institusi pemerintah atau konsorsium swasta berbasis syariah yang mengelola.
Waktu: Memperpanjang Perjalanan, Memperdalam Ibadah
Benar bahwa pesawat hanya butuh waktu kurang dari setengah hari untuk mencapai Arab Saudi. Sementara itu, pelayaran dari pelabuhan-pelabuhan utama di Indonesia ke pelabuhan Jeddah atau Yanbu bisa menghabiskan waktu 2-3 minggu. Namun dalam perspektif spiritual, lamanya waktu bukanlah kerugian, melainkan peluang.
Kapal dapat menjadi ruang pembinaan iman, kelas manasik di laut, pelatihan haji intensif, hingga melakukan ibadah harian secara berjamaah. Dalam sejarah, Presiden Soekarno pernah menyambut jemaah haji dari kapal MS Oranje pada 1952. Ia menyebut jemaah sebagai “pejuang spiritual yang menembus samudra demi memenuhi panggilan Allah.” Sebuah pengingat bahwa dalam kesabaran terdapat keberkahan.
Kekhusyukan: Samudra sebagai Ruang Dzikir
Di atas kapal laut, jemaah terbebas dari hiruk-pikuk dunia modern. Tidak ada lalu lintas, tidak ada sinyal digital, hanya langit dan ombak yang mengiringi langkah hati menuju Tuhan. Dalam suasana seperti ini, dzikir terasa lebih khusyuk, perenungan lebih dalam, dan kebersamaan menjadi bagian dari proses penyucian jiwa.
Kontras dengan ritme perjalanan udara yang serba cepat dan kaku. Namun, justru pelayaran membuka ruang bagi jemaah untuk menyiapkan mental dan spiritual sebelum tiba di Tanah Suci. Kapal dapat menjadi “madrasah terapung” yang menanamkan nilai-nilai kesabaran, kebersamaan, dan ketawakalan.
Urgensitas: Saatnya Melirik Laut Sebagai Jalur Ibadah
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan sejarah maritim yang panjang, memiliki potensi besar dalam pemanfaatan jalur laut untuk haji dan umrah. Dalam catatan sejarah Islam Nusantara, jemaah dari wilayah “Jawi”, sebutan untuk Muslim dari Kepulauan Melayu. Mereka menempuh perjalanan panjang dari pelabuhan Aceh, Surabaya, atau Banjarmasin ke Hijaz, kadang melewati India atau Hadhramaut.
Kini, urgensi untuk mengaktifkan kembali moda ini semakin nyata:
- Memberi alternatif terjangkau di tengah tingginya biaya ONH;
- Menyediakan jalur umrah yang lebih fleksibel tanpa kuota;
- Menjangkau daerah terpencil dan 3T yang sulit mengakses bandara, dan;
- Membuka peluang kerja di sektor pelayaran syariah dan wisata halal.
Gagasan untuk menghidupkan kembali jalur laut sebagai alternatif ibadah bukanlah sekadar nostalgia sejarah. Hal ini sekaligus sebagai peluang strategis yang layak berkembang melalui kolaborasi antar sektor. Kementerian Perhubungan, Kementerian Agama, BPKH, serta Pelayaran Negara dapat merancang peta jalan pengoperasian kapal ibadah. Kolaborasi tersebut mencakup aspek regulasi, pembinaan, dan infrastruktur logistik.
Selanjutnya, melalui dukungan subsidi lintas sektor juga dapat mengambil peran. Mulai dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga keterlibatan mitra swasta berbasis syariah semakin memperkuat program ini.
Sebagai langkah awal, pengujian jalur laut ini bisa dalam bentuk paket umrah edukatif yang mengutamakan pembentukan karakter spiritual. Sehingga, bila perencanaannya tepat, moda ini bukan hanya memungkinkan, tetapi juga bisa menjadi terobosan besar dalam pelayanan ibadah umat.
Penutup: Membangun Jalur Menuju Tuhan, Lewat Laut
Kita tak perlu terpaku pada satu cara. Di era kolaborasi dan keterbukaan pilihan, jalur laut bukan nostalgia yang usang, melainkan harapan baru bagi umat. Pemerintah, swasta, ormas Islam, dan masyarakat bisa bergandengan tangan untuk membuka kembali jalur ibadah yang aman, murah, dan bermakna.
Ibadah haji bermula dari niat, dan ditutup dengan wukuf, sebuah momen refleksi total. Maka layak kiranya kita mempertimbangkan kembali laut sebagai jalan menuju niat tersebut. Yaitu, jalan sunyi, jalan yang lebih panjang, tetapi memberi lebih banyak waktu untuk menata hati.
Jika biaya udara terlalu membumbung, barangkali Tuhan sedang menunjukkan bahwa jalan ke rumah-Nya bisa juga ditempuh melalui samudra. Karena dalam diamnya ombak, suara hati lebih nyaring terdengar.
Referensi dan Sumber Sejarah:
- BPKH, Laporan BPIH Tahun 2024
- Arsip Pelni, Dokumentasi Kapal Haji 1950–1985
- Kementerian Agama RI, Data Antrian Haji Nasional
- UIN Jakarta, Jurnal Sejarah Islam Nusantara: Jejak Haji Jawi
- Kompasiana, Kapal Laut Sebagai Alternatif Haji dan Umrah (2022)
- Republika, Transportasi Laut dalam Umrah (2023)













Tinggalkan Balasan