Surat untuk Ibu

Surat untuk Ibu. Di sudut ruangan yang temaram, tampak geliat anak-anak sedang bermain dengan gerak lamban karena keadaan. Di kamar lain para bayi masih pulas dalam dengkuran lembut berselimut seadanya. Semalam Monik tak mampu memejamkan mata semenit pun. Ada beberapa adik yang membutuhkan perhatian dan belaian lebih. Meski ada kendala di kaki, dia lincah beraktivitas sehari-hari. Dia paling cerdas diantara teman-teman yang kebanyakan lebih muda.

Kesibukan harian dalam menemani saudara dan adik-adiknya telah menguras tenaga dan pikirannya. Di tengah kegundahan dan kepedihan hati, ia tak sanggup untuk menanggung sendiri. Tak ada yang bisa menghibur hatinya, pun tak ada yang mampu mencegahnya untuk tidak mengungkapkan isi hati. Ia ambil secarik kertas lusuh dan pena yang nyaris habis isi tintanya. Kepada Ibu, manusia satu-satunya ingin ia ungkapkan segala isi hati.

Ada sedikit keraguan dalam hati. Tangannya gemetar saat memulai menulis kata pertama. Tak ingin menyimpan sendiri dalam dada, ia mantapkan hati untuk tetap dan harus menuliskannya hingga tak menyadari kedua pipinya telah basah oleh air mata.

Ibu, bagaimana kabar Ibu hari ini?  Masih sehat dan bahagia ‘kan? Aku baik-baik saja di sini, Bu. Aku sudah besar dan semua teman-temanku menyayangi dan menghormati aku. Mereka menganggap aku lebih berpengalaman karena aku paling tua di antara mereka.

Makin hari temanku makin banyak jumlahnya. Mereka datang di tempatku kadang secara berurutan kadang bersamaan dengan latar belakang yang berbeda. Semua yang datang dengan ekspresi menahan tangis menyiratkan kesedihan yang mendalam. Bahkan tak jarang ada yang menangis meraung-raung memohon belas kasihan.

Hampir semua yang datang membawa cerita yang beragam. Dari sejumlah cerita yang aku catat rapi, tak satupun cerita yang membahagiakan. Cerita memilukan yang aku dan adik-adikku alami tak mungkin terhapus dari ingatan. Begitupun peristiwa yang akhirnya mempertemukan kami di sini tak akan pernah hilang dari catatan sejarah hidup kami.

Ibu, aku tak tahu terbuat dari apa hatimu. Aku tak pernah meminta tumbuh di rahim siapa. Hadirku hanya menghalangimu menggapai cita-cita, mengganggu langkahmu dalam berkarir, mencoreng muka keluarga, dan membawa petaka, katamu saat itu. Rasa malu membuatmu kehilangan rasa kasih yang seharusnya kau miliki.

Teman-teman sebayaku banyak, Bu. Kami hidup bersama dengan hati ikhlas meski fisik kami nyaris tidak utuh lagi. Tak berdaya dan tak mampu menghindar ketika berhadapan dengan mesin pembantai yang kecanggihannya berhasil mencabik-cabik tubuh kami menjadi tak utuh lagi.

Temanku banyak yang bersedih dan menangis ketika berpisah dengan ibu mereka. Jeritan-jeritan anaknya yang menyayat hati tak mampu mereka dengar.

Ada yang dipaksa hilang dengan pijatan, ada yang tak kuat kepanasan karena ramuan, dan ada yang dengan formula kimia mereka tak mampu bertahan.

Wahai Ibu, dimana hatimu saat itu?Tubuhku hancur justru tidak dengan cara-cara tersebut. Ada tangan yang sengaja mencabik-cabik fisikku agar tak utuh lagi, agar aku tak bisa merasakan hangatnya mentari, apalagi merasakan hangatnya pelukan seseorang yang seharusnya menyayangi.

Jeritan kami mustahil terdengar. Namun, kami akan tetap menjerit-jerit mohon keadilan. Hak hidup yang terampas tak mungkin mengembalikan kami untuk menghirup udara seperti anak-anak yang lain di alam sana. Alam fana tempat Ibu berada bersama orang-orang terkasih dalam mengisi kehidupan yang sebenarnya sangat singkat.

Dari alam kami berada, kami berdoa semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosa yang telah Ibu dan ibu-ibu temanku lakukan. Biarkan kami tetap bisa bermain bersama meski dalam kondisi fisik yang tak beraturan. Di alam aborsi ini, kami saling mendoakan dan saling menguatkan. Kami bersaudara sampai kapanpun.

Ibu, masihkah kau mengingatku? Segumpal darah yang membuatmu malu dan terganggu. Segumpal daging yang terpaksa hancur tak mampu menahan tajamnya gunting. Dalam ketidakberdayaan, tak seorangpun hadir menolong dan menyelamatkanku. Ingin sekali aku tunjukkan kepadamu, Ibu. Meski tubuhku tinggal separuh, tak membuatku rendah diri.

Atas kemurahan-Nya kami menjadi bunga-bunga indah di taman surga. Bebas bermain dengan gembira ria bersama teman-teman dan adik-adik. Limpahan kasih dan sayang-Nya sungguh tak berbatas membuat kami semakin dekat tanpa jarak. Segala puji dan syukur hanya untuk-Nya yang telah memberiku hidup setelah tiada dan memberiku bahagia setelah menderita.

Ibu, aku hanya merasa sedih ketika tidak menemukanmu di antara orang-orang yang berbaris hendak memasuki surga-Nya. Sesungguhnya aku ingin memelukmu untuk sekadar melepas rindu, meraih lalu mencium tanganmu. Namun, Dia tak mengizinkanmu berada di tempat indah itu. Tempat orang-orang terpilih yang akan selalu bahagia dan kekal di dalamnya.

*

Burung hantu masih terdengar bersiul merdu ketika puncak kesunyian malam menghampiri. Di sebuah kamar mewah, seorang perempuan matang terjaga dengan keringat yang membanjiri tubuhnya nan langsing. Rambutnya yang terurai indah basah oleh peluh, nafasnya terengah-engah seolah usai berlari kencang beberapa kilometer, dan dadanya berguncang hebat seakan mau meledak. Dia menangis sejadi-jadinya.

Di titik karirnya yang tengah meroket, kehampaan hidup justru makin erat mendekapnya. Lima belas tahun yang terlewati telah menyiksa batinnya dalam sebuah penantian hadirnya buah hati. Semakin dinanti semakin jauh dari harapan. Kedua matanya menjadi sembab usai membaca surat panjang dari putrinya. Dalam mimpi.