Lanang masih tersedu di pojok sebuah ruangan. Pipinya selalu basah meski berkali-kali ia seka air matanya. Sorot matanya menyiratkan kesedihan yang tiada tara. Remaja tanggung itu tak henti-hentinya menangis. Dia duduk di lantai sambil memeluk “baju kerja” yang sudah terlipat dengan asal. Baju itu memudar warnanya karena sudah lama, terlalu sering dicuci dan termakan sengatan matahari. Baju yang terlihat kedodoran karena tak sesuai ukuran tubuhnya.
Seorang petugas tampak sibuk mencatat nama-nama dan alamat siapa saja yang ada di ruangan tersebut. Ada yang sudah renta, paruh baya, remaja dan juga anak-anak. Hampir semuanya menampakkan raut kesedihan. Semua diam membisu. Hanya beberapa patah kata terucap ketika ada pertanyaan dari petugas.
Pundak Lanang masih berguncang lantaran menahan tangis yang seolah mau meledak. Bersama orang-orang yang belum ia kenal, ia semakin bingung dan khawatir kira-kira apa yang akan petugas lakukan terhadap dirinya. Dia masih asing dengan dunia yang baru beberapa jam ia kenal. Dunia yang biasa ayahnya geluti setiap hari sebelum jatuh sakit.
Di kepalanya hanya ada bayangan ayah yang tergeletak lemas di dipan tua sambil terbatuk-batuk. Hari itu seharusnya hari tenang buatnya karena besok ada test semesteran di sekolahnya. Namun, karena ayahnya sakit, dia ingin menggantikan kerja ayah barang sehari.
“Nang, belajarlah yang rajin agar kelak menjadi orang yang berguna, pintar, dan jangan sampai seperti ayah,” pesan ayahnya suatu hari ketika ia hendak berangkat ke sekolah.
“Biarlah ayah yang mencari nafkah semampu ayah, kamu teruslah sekolah jangan membolos,” lanjut ayahnya.
Lanang hanya mengangguk setiap kali dinasihati ayahnya. Dia piatu sejak usia tujuh tahun. Ibunya telah tiada karena sakit kanker payudara dan tak terobati. Tumbuh bersama ayah tanpa ibu membuat dia menjadi anak pendiam. Meski kehidupannya jauh dari berkecukupan, dia tumbuh menjadi anak yang cerdas di sekolah dan penuh perhatian terhadap sang ayah.
“Lanang Setiawan,” jawab Lanang lirih ketika petugas menanyakan namanya. Dia sudah tidak menangis lagi, tetapi hatinya sangat sedih teringat ayahnya dalam keadaan sakit dan sendirian di rumah.
Lanang menyesal mengapa tidak terus terang pada ayah ketika usai subuh dia keluar rumah. Sudah sepekan ayahnya kurang sehat. Asma yang menggerogoti tubuhnya kambuh lagi. Udara yang dingin di bulan-bulan ini memperparah sakitnya. Semalam dia melihat uang di kaleng jatah beli beras menipis, sedangkan harga beras kini mahal. Ya, di hari libur sekolah dia ingin mencoba membantu ayah.
Dengan mengendap-endap dia ambil baju kerja ayah yang tergantung di belakang almari usang. Lanang masih memandangi terus baju itu di tangan dengan perasaan ragu. Bila ayahnya tahu sudah pasti tak mengizinkannya. Ayahnya tipe ayah yang disiplin. Sekali tidak boleh ya tidak boleh melibatkan anak dalam urusan mencari nafkah. Tetapi ayah dalam kondisi sakit, haruskah ia berdiam diri?
“Pak, bolehkah saya pulang, ayah saya sakit di rumah sendirian,” Lanang memberanikan diri memohon dengan memelas kepada petugas yang ada di ruangan Dinas Sosial sore itu.
Dia tak peduli ada beberapa pasang mata yang melihat adegan itu sambil mengangguk-angguk seolah mengerti situasi yang Lanang alami. Bahkan ada seorang bapak yang mendekat sembari mengelus kepalanya. Entah sebuah simpati atau hanya untuk menghibur Lanang.
Selain karena ayahnya sakit, Lanang juga kepikiran esok hari dia harus sekolah karena ada test. Dia sama sekali tak mengira ada penertiban di hari itu. Para pengamen, badut, dan yang biasa lap-lap mobil di lampu merah, terkena razia Petugas Dinas Sosial. Lanang termasuk di dalamnya. Dia mengamen dengan kostum baju badut ayahnya yang ternyata kebesaran buat tubuh kurusnya.
Permohonan Lanang belum ada jawaban dari petugas ketika tiba-tiba ada seorang tetangga Lanang, Lik Ali, datang dan menyelonong menemui petugas. Lik Ali biasa jualan kopi keliling dan kadang mangkal di dekat lampu merah. Dia tahu ada penertiban siang itu. Dia juga sempat melihat ada anak dengan baju badut yang biasa dipakai ayah Lanang ikut kena razia.
“Permisi, Pak,” salam hormat Lik Ali kepada petugas.
“Bolehkah saya menjemput ponakan saya yang bernama Lanang, ayahnya tengah kritis di rumah?” Lik Ali mengatakan itu dengan lirih dan hati-hati berharap tidak banyak orang di ruangan itu yang mendengar, termasuk Lanang sendiri.
Meski tak mendengar jelas apa yang disampaikan Lik Ali berikutnya kepada petugas, ada secercah harapan bagi Lanang untuk bisa pulang. Dia tersenyum dan benar, dia di izinkan pulang bersama Lik Ali yang tampak terburu-buru.
Tanpa banyak kata, Lik Ali berjalan cepat diikuti Lanang pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan yang mereka tempuh dengan jalan kaki, tidak ada obrolan selain mempercepat langkah kaki agar segera sampai. Tak henti-hentinya Lanang bersyukur dalam hati karena atas pertolongan Lik Ali berarti besok dia bisa ke sekolah.
Lik Ali masih membisu, tapi roman mukanya terlihat serius. Lanang tak berani bertanya apa pun hingga menjelang sampai rumah tampak banyak orang yang sudah berkumpul di rumah Lanang. Seketika Lanang berlari mendahului langkah Lik Ali yang sedari tadi makin cepat.
“Ayah…!” Lanang menerobos kerumunan orang-orang sambil berteriak. Baju badut yang dibawanya ia lempar di halaman. Tangisnya pecah. Dipeluknya tubuh sang ayah yang sudah pucat membisu tertutup selimut lawas. Saking sedihnya membuat tangisannya sampai tak bersuara. Hatinya perih dan pilu laksana teriris sembilu.
Penyesalan Lanang terlalu dalam. Mengapa ia nekat meninggalkan sang ayah. Penertiban pengemis dan anak jalanan dari Dinas Sosial hari itu, sedikitpun tak terlintas dalam benaknya. Untung dia hidup di lingkungan warga yang memiliki kepedulian tinggi hingga detik-detik sang ayah pergi, para tetangga berbaik hati mendampingi.















Tinggalkan Balasan