“Ketika janda kaya tergoda pesta, anak-anaklah yang menanggung lapar di meja”
(Sebuah Satir tentang Ibu Kaya, Anak-Anak Resah, dan Suami Bernama Dana)
Hiduplah seorang janda kaya bernama Pertiwi. Ia bukan janda sembarangan, melainkan perempuan yang memiliki warisan kekayaan luar biasa. Gunung menjulang, sungai berliku, laut berkilau, tanah subur, hingga kota-kota dengan gedung menjulang.
Orang-orang kampung sering berkata, “Seandainya Pertiwi ingin, tak perlu lagi ia bekerja. Warisannya cukup untuk tujuh turunan.”
Namun, hidup tak selalu sesuai dengan logika warisan. Kekayaan yang besar ternyata juga membawa beban. Apalagi Pertiwi memiliki banyak anak, puluhan jumlahnya, bahkan tak terhitung dari Sabang hingga Merauke. Nama mereka beragam, Krakatau yang berapi-api, Bahari yang setia menjaga dermaga, Mandiri yang gagah meski kadang rapuh. Dan, banyak lagi saudara lain yang lahir dari rahim sejarah.
Sejak kecil, masing-masing anak mendapat bekal. Ada yang mendapat sebidang tanah, warisan pelabuhan, hingga tabungan yang penuh angka nol. Tujuannya jelas, agar mereka bisa hidup mandiri. Namun Pertiwi menegaskan satu aturan yang anak-anaknya harus ikuti.
“Ingatlah, nak. Apa pun yang kalian hasilkan, sisihkan sebagian untuk Ibu. Dari itu Ibu bisa merawat rumah kita yang besar ini.”
Anak-anak menurut, meski kadang malas. Ada yang setor besar, kecil, bahkan tanpa setoran. Ada pula yang lihai berkelit, pura-pura bokek padahal kendaraannya berganti tiap tahun. Tapi begitulah kehidupan keluarga besar, tak ada yang benar-benar rata.
Sosialita dan Rasa Kurang yang Menggerogoti
Lambat laun, Pertiwi yang dulu cukup dengan kain batik dan nasi hangat mulai tergoda pergaulan baru. Ia masuk lingkaran sosialita, atau perempuan-perempuan bercahaya dengan tas berharga satu rumah. Lalu, sepatu jahitan tangan Italia, serta kebiasaan makan siang di hotel berkilau lampu kristal.
Di sana, Pertiwi merasa dirinya kecil. Ia kaya, iya, tetapi bukan kaya yang bisa bersaing dengan gelimang gaya sosialita. Maka, ia pun mulai mengubah selera. Mulai gaun pesta, parfum Prancis, hingga jam tangan yang tak bisa menyebut waktu dalam bahasa ibu.
Biaya hidupnya melambung tinggi. Setoran anak-anak yang dulu cukup, kini hanya sekadar receh untuk ongkos parkir valet.
Di tengah kegelisahan itu, muncullah seorang pria, bernama Dana. Ia berjas rapi, senyum penuh keyakinan, dan lidah manis yang mampu menjahit mimpi.
Pertemuan dengan Dana
“Bu Pertiwi,” kata Dana, sambil membuka presentasi penuh grafik menanjak, “mengapa Ibu repot mengandalkan setoran anak-anak? Kalau kita bergandengan, aset Ibu bisa tumbuh berlipat. Saya punya cara modern untuk mengelola semuanya. Ibu tetap bisa bergaul dengan sosialita, sementara saya urus agar rumah tangga ini tambah kaya.”
Pertiwi terpukau. Anak-anaknya rajin, benar, tapi tidak ada yang menyajikan janji seindah Dana. Apalagi, di telinga Pertiwi masih berdengung suara sosialita.
“Kalau mau sejajar dengan kami, kau harus berani melangkah lebih jauh.”
Maka terjadilah perkawinan itu, perpaduan Dana dan Pertiwi. Orang-orang menamainya dengan istilah megah, Danantara.
Rumah Tangga Baru Bernama Danantara
Awal pernikahan penuh janji. Dana menyusun rencana besar, menyatukan pengelolaan aset anak-anak ke dalam satu wadah. Katanya, “Ini efisiensi, ini modernisasi.”
Anak-anak pun menurut;
- Krakatau, berperan menyerahkan sebagian lahannya untuk proyek “kerja sama strategis.”
- Bahari, harus merelakan pengelolaan hasil pelabuhan bersama Dana.
- Mandiri, yang dulu bangga bisa berdiri sendiri, kini harus menyesuaikan diri dengan aturan baru.
Mula-mula mereka bangga, rasanya keren menjadi bagian dari “rumah tangga modern.” Namun, lambat laun muncul keluh kesah.
Krakatau merasa tanahnya makin sempit. Bahari pusing karena setoran yang dulu penuh, kini harus berbagi. Mandiri merasakan dirinya tak lagi benar-benar mandiri.
Di sisi lain, Pertiwi semakin asyik dengan pesta sosialita. Ia kerap berkata sambil tersenyum lebar, “Lihatlah, sekarang aku punya suami modern! Rumah tangga kami lebih efisien dari sebelumnya.”
Tapi di dapur, nasi kian tipis, dan anak-anak sering berhutang ke warung sebelah.
Retakan di Dinding Rumah
Tak butuh waktu lama, retakan muncul. Anak-anak merasa seperti tamu di rumah sendiri. Dana semakin dominan, sementara Pertiwi sibuk menjaga penampilan di mata sosialita.
Suatu hari, Bahari memberanikan diri bicara, “Bu, aset ini dulu warisan Ayah untuk kami. Mengapa sekarang semua harus lewat Dana?”
Pertiwi menjawab dengan kalimat hafalan Dana, “Nak, ini demi masa depan. Jangan sempit berpikir.”
Meskipun dari hari ke hari janji masa depan tak kunjung terlihat. Yang jelas terlihat hanyalah beban yang semakin berat. Dana semakin gemuk, sementara anak-anak semakin kurus.
Simpang Jalan
Dan, tibalah keluarga itu di persimpangan. Pertiwi berdiri di tengah jalan besar. Ke kiri jalan yang dulu ia tempuh, sederhana, mandiri, meski penuh tantangan. Lalu, ke kanan jalan yang baru, gemerlap, cepat, penuh janji Dana.
Anak-anak menatap ibunya dengan mata basah.
“Bu,” kata Mandiri, “kalau Ibu terus mengikuti jalan Dana, kami akan kehilangan bukan hanya harta, tapi juga martabat.”
“Bu,” seru Krakatau, “tanah ini bisa habis. Laut ini bisa kering. Gunung ini bisa bolong. Dan semua itu bukan lagi milik kita.”
Bahari menambahkan, “Kami bukan pekerja kontrak di tanah sendiri. Kami anak-anak Ibu. Jangan jadikan kami sekadar mesin setoran untuk pesta sosialita.”
Pertiwi terdiam, gaun mahal di tubuhnya terasa seperti kain gatal. Tas berlogo asing di tangannya mendadak berat. Senyum sosialita di kepalanya memudar, berganti suara tangis anak-anaknya.
Penutup: Sebuah Sindiran
Begitulah, kisah satir ini hendak berpesan.
Danantara bisa jadi jalan, tapi kalau arah jalannya salah, yang hilang bukan hanya harta, melainkan juga harga diri.
Pertiwi, kini di simpang jalan. Ia bisa memilih kembali ke kesederhanaan yang mandiri, atau terus melaju di jalan Dana yang penuh janji manis namun berakhir pahit.
Dan pertanyaan itu, sesungguhnya, bukan hanya untuk Pertiwi dalam cerita ini. Pertanyaan itu juga untuk kita semua yang hidup di rumah besar bernama negeri.
Danantara bisa saja tampak sebagai jalan menuju kemajuan. Tetapi jalan itu tidak selalu lurus, kadang berliku, bahkan menjerumuskan. Pertanyaan pentingnya bukan sekadar apakah rumah tangga ini bertambah kaya, melainkan apakah anak-anak tetap berdaulat atas warisannya sendiri.
Sebab kekayaan tanpa kemandirian hanyalah topeng, sementara janji-janji tanpa pemenuhan hanyalah candu. Pertiwi boleh saja silau oleh pesta sosialita, namun sejarah selalu mengingatkan. Bahwa, setiap pesta yang terlalu lama berlangsung, akan berakhir dengan meja kosong, dan tamu yang meninggalkan kursi-kursinya.
Refleksi ini bukan hanya untuk Pertiwi dalam cerita, melainkan juga untuk siapa saja yang pernah tergoda menjual masa depan demi gengsi. Karena sejatinya, warisan terbesar bukanlah menjualbelikan harta, melainkan kemandirian anak-anak yang bisa berdiri tegak di tanahnya sendiri.
Dan di simpang jalan itu, pilihan tetap ada pada Pertiwi, dan juga pada kita semua.
















1 Comment