LANGKAH PERTAMA RINO

Pagi itu, Rino berdiri di depan pintu kelas dengan kain yang selalu ia bawa, menutupi sebagian besar wajahnya. Tangannya menggenggam erat kain itu, seolah menjadi pelindung dari dunia yang terlalu ramai dan penuh kejutan. Di dalam kelas, teman-temannya mulai berbisik-bisik, beberapa tertawa kecil, sementara yang lain hanya menatapnya dengan bingung.

Bu Marta, wali kelas Rino, memperhatikan dari kejauhan. Ia tersenyum lembut, lalu perlahan berjalan mendekat.

“Rino, kamu sudah siap masuk kelas?” tanyanya lembut.

Rino menggigit bibirnya, lalu menggeleng pelan.

“Terlalu ramai, Bu. Terlalu banyak suara. Mereka melihat saya…” suaranya lirih dan hampir tak terdengar.

Bu Marta mendekat, “Bagaimana kalau kita masuk bersama? Ibu akan menemani kamu sampai kamu merasa nyaman.”

Rino tidak langsung menjawab. Ia menimbang-nimbang tawaran itu, lalu akhirnya mengangguk perlahan. Dengan kain masih menutupi sebagian wajahnya, ia berjalan masuk bersama Bu Marta.

Namun, tantangan belum selesai. Baru lima menit duduk di bangkunya, Rino mulai gelisah. Ia menggoyangkan kakinya dengan cepat, tangannya sibuk memainkan ujung kainnya. Tak lama kemudian, ia berdiri dan berjalan ke belakang kelas, lalu kembali ke bangkunya, tapi hanya untuk beberapa detik sebelum berdiri lagi.

Beberapa murid mulai memperhatikan. Ada yang berbisik, ada yang saling menyikut. “Kenapa dia begitu, Bu?” tanya seorang anak, Damar, yang duduk di barisan tengah. “Dia nggak bisa diam sebentar pun?”

Bu Marta menghela napas, lalu memutuskan untuk mengambil waktu sejenak untuk berbicara dengan seluruh kelas. Ia berjalan ke depan dan menatap murid-muridnya dengan senyum penuh ketenangan.

“Anak-anak, ada yang ingin Ibu jelaskan tentang teman baru kita, Rino.” Bu Marta melirik ke arah Rino yang kini berdiri di dekat jendela, memperhatikan langit. “Kalian mungkin menyadari bahwa Rino sedikit berbeda. Ia sering membawa kainnya, sulit duduk diam, dan mungkin sulit berinteraksi seperti kalian biasanya.”

Beberapa anak mengangguk, sementara yang lain masih terlihat ragu.

“Rino adalah anak yang spesial,” lanjut Bu Marta. “Ia memiliki cara berpikir yang luar biasa. Mungkin ia tidak selalu nyaman dengan suara yang terlalu ramai atau banyak tatapan langsung, tapi itu bukan berarti ia aneh. Itu hanya berarti ia memiliki cara sendiri untuk merasa nyaman di lingkungan baru.”

Seorang anak perempuan bernama Rani mengangkat tangan. “Jadi, Rino itu seperti punya dunia sendiri, ya, Bu?”

Bu Marta tersenyum. “Bisa dibilang begitu. Tapi itu bukan berarti kita tidak bisa menjadi temannya. Justru, kita bisa belajar banyak dari Rino, dan Rino juga bisa belajar banyak dari kita.”

Damar mengangkat tangan lagi. “Kalau dia nggak suka suara berisik, terus gimana kalau nanti di kelas ramai? Dia bakal keluar terus, dong?”

“Itulah yang Ibu dan kalian semua perlu cari solusinya,” kata Bu Marta. “Bagaimana kalau kita membuat beberapa aturan kecil agar Rino bisa belajar dengan nyaman di sini?”

Anak-anak mulai berpikir. Rani kembali mengangkat tangan. “Mungkin kita bisa lebih pelan kalau berbicara?”

“Itu ide bagus,” kata Bu Marta. “Bagaimana kalau kita juga memberi Rino ruang jika ia butuh waktu sendiri? Tidak perlu menatapnya terlalu lama atau bertanya terlalu banyak jika ia belum siap menjawab.”

Beberapa anak mulai mengangguk setuju. Damar pun ikut bersuara, “Aku bisa bantu Rino kalau dia bingung sama pelajaran, Bu. Soalnya tadi aku lihat dia kelihatan bingung pas Ibu Mila jelasin Matematika.”

Bu Marta tersenyum lebar. “Ibu senang sekali mendengar itu. Kalau kita semua bisa saling membantu, maka kelas ini akan menjadi tempat yang nyaman untuk semua orang, termasuk Rino.”

Sementara itu, di ruang guru, beberapa guru lain sedang membahas kondisi Rino.

“Kita perlu mempertimbangkan untuk meminta kepala sekolah menyediakan guru bayangan untuknya,” ujar Bu Mila, guru Matematika. “Rino jelas butuh pendamping khusus agar tidak mengganggu proses belajar-mengajar.”

Bu Marta menggeleng. “Saya yakin bisa membantu Rino beradaptasi tanpa perlu guru bayangan. Yang ia butuhkan bukan seseorang yang selalu mengawasi, tetapi lingkungan yang menerima dan memahami dirinya.”

“Tapi ini sulit, Marta,” sahut Bu Rina, guru IPA. “Bagaimana kalau dia terus gelisah seperti tadi? Bagaimana kalau anak-anak lain terganggu?”

“Kalau kita langsung memberikan guru bayangan, anak-anak akan semakin melihat Rino sebagai anak yang berbeda, yang butuh perlakuan khusus,” kata Bu Marta tegas. “Saya ingin teman-temannya yang membantunya beradaptasi, bukan hanya seorang pendamping. Jika kita semua di sekolah ini ikut mendukungnya, saya yakin Rino bisa berkembang seperti anak-anak lainnya.”

Bu Mila menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Baiklah, Marta. Kalau kamu percaya pada anak itu, kami juga akan mendukungmu.”

Hari itu, Rino belum sepenuhnya merasa nyaman. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ada tempat baginya di kelas itu. Bahwa mungkin, perlahan, ia bisa menemukan teman yang mau menerima dirinya apa adanya.