Ketika Laut Menguji Nyali: Mengapa Basic Safety Training Jadi Bekal Utama Pelaut
Malam itu, di tengah latihan simulasi kebakaran di kapal latih, saya melihat wajah-wajah muda yang tegang memegang selang pemadam. Api buatan yang instruktur nyalakan tampak sepele ketimbang amukan api sungguhan. Tapi, meskipun begitu peluh di dahi mereka menunjukkan bahwa pengalaman ini tidak main-main. Seorang taruna berbisik kepada temannya. “Kalau begini saja gugup, bagaimana nanti kalau betul-betul terjadi di laut?” Saya tersenyum lirih, sebab pertanyaan itu pernah juga menghantui diri saya ketika pertama kali ikut Basic Safety Training atau BST.
Dari Teori ke Realitas
Banyak orang mungkin membayangkan BST sekadar formalitas, kursus singkat, sertifikat, lalu selesai. Tetapi begitu berada di lapangan, saya paham bahwa diklat ini adalah garis tipis antara hidup dan mati. Saat kapal terbakar, ketika seseorang tercebur ke laut, atau waktu badai memaksa awak meninggalkan kapal. Kesemuanya bergantung pada tempaan keterampilan di dalam ruang kelas, kolam renang, atau simulator kebakaran.
BST mengajarkan empat hal pokok. Pencegahan dan pemadaman kebakaran, keselamatan pribadi dan tanggung jawab sosial, pertolongan pertama pada kecelakaan, serta teknik bertahan hidup di laut. Keempatnya bukan teori kosong, tetapi pengetahuan praktis yang harus melekat dalam tubuh, seperti refleks. Dalam bahasa sederhana, BST adalah kompas keselamatan, bukan hanya bagi pelaut, tetapi bagi siapa pun yang bekerja di dunia maritim.
Cerita Nyata: Api di Tengah Malam
Saya teringat satu peristiwa nyata bertahun lalu. Api tiba-tiba menjalar dari dapur kapal, merambat ke kabel listrik. Alarm berbunyi, suasana panik. Namun, karena seluruh kru telah terlatih BST, kami bisa bergerak cepat. Seluruh kru seolah berbagi peran, ada yang menutup ventilasi, ada yang membawa APAR, dan lainnya mengevakuasi awak ke muster station. Api berhasil padam dalam sepuluh menit, sebelum berubah menjadi tragedi besar.
Andai tidak ada pelatihan BST, mungkin kapal itu hanya tinggal puing yang terapung. Dari sana saya belajar, BST bukan hanya tentang “siapa melakukan apa,” tetapi juga membangun mental tangguh. Tidak panik, tidak egois, dan semua sepakat keselamatan adalah tanggung jawab bersama.
Keselamatan: Bukan Urusan Individu
Di laut, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal bagi semua. Awak yang tidak bisa berenang dengan baik, dan panik saat alarm berbunyi, atau mengabaikan instruksi evakuasi dapat membahayakan seluruh kapal. BST menekankan solidaritas, setiap orang harus saling menjaga. Inilah nilai luhur yang sering kali terlupakan. Bahwa, laut bukan ruang untuk ego, melainkan tempat ujian gotong royong yang sesungguhnya.
“Keselamatan bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan menghidupkan budaya.”
Maka, seharusnya memandang BST bukan sebagai beban administratif, melainkan investasi budaya keselamatan yang terus bergaung sepanjang karier pelaut.
Relevansi Bagi Unsur Kemaritiman Lain
BST memang lahir dari kebutuhan pelaut, tetapi esensinya relevan bagi semua unsur kemaritiman. Sebutlah pekerja pelabuhan, petugas patroli, hingga pegawai yang sering turun ke lapangan. Ombak tidak membedakan siapa yang mengenakan seragam putih atau rompi oranye. Kebakaran di kapal tidak peduli apakah korbannya pelaut berpengalaman atau tamu yang baru naik.
Saya pernah menyaksikan seorang pejabat yang mengikuti tur inspeksi ke kapal. Ketika gelar simulasi darurat, ia kebingungan memakai life jacket. Saat itu saya berpikir, “Andai keadaan sungguhan, bagaimana nasibnya?” Dari situ jelas, pelatihan dasar keselamatan seharusnya untuk siapa saja yang berhubungan dengan laut, bukan hanya bagi awak kapal.
Antara Formalitas dan Kesadaran
Sayangnya di banyak tempat, menganggap BST hanya sekadar kewajiban administratif. Ada yang ikut hanya untuk mengejar sertifikat, bukan untuk menyerap ilmunya. Ada pula lembaga pelatihan yang melaksanakan seadanya, tanpa semangat membentuk budaya keselamatan. Padahal, laut tidak memberi ampun pada mereka yang meremehkan keselamatan. Ombak tidak akan menunggu kita membaca ulang buku panduan.
Sebagai bangsa maritim, kita seharusnya tidak terjebak dalam logika formalitas. Kita butuh kesadaran bahwa BST adalah pondasi moral dan teknis. Moral, karena ia menanamkan tanggung jawab sosial. Teknis, karena ia melatih keterampilan menghadapi situasi darurat. Dua hal tersebut tak terpisahkan.
Mengapa Harus Dikuatkan?
Di tengah meningkatnya lalu lintas laut Indonesia, dari kapal kontainer hingga kapal wisata, risiko kecelakaan pun semakin besar. Laut adalah ruang peluang sekaligus ruang bahaya. Sering kali, berita kecelakaan kapal membuat kita sedih, penumpang tercebur, kapal terbakar, evakuasi kacau. Dan acap pula, investigasi menunjukkan kurangnya latihan keselamatan sebagai salah satu penyebab.
Maka, memperkuat BST bukan pilihan, melainkan keutamaan. Pemerintah, lembaga pendidikan maritim, dan industri pelayaran harus menempatkannya di jantung kurikulum dan kebijakan. BST harus menjadi bagian dari identitas pelaut Indonesia, disiplin, terlatih, dan siap menghadapi keadaan darurat.
Refleksi: Laut sebagai Guru
Laut selalu mengajarkan dua hal, yaitu kebebasan dan kerentanan. Ia memberi ruang luas untuk berlayar, tetapi sekaligus bisa berubah menjadi kekuatan yang menakutkan. Dalam keseharian, kita sering lupa sisi kerentanannya, hingga akhirnya terlambat belajar saat bencana datang.
BST adalah cara kita mengingat bahwa kita tidak boleh meremehkan laut. Bahwa keberanian bukan berarti nekat, melainkan kesiapan. Bahwa hidup di laut bukan sekadar mengandalkan doa, tetapi juga keterampilan nyata untuk bertahan.
Penutup: Kompas Keselamatan
Kini, setiap kali saya melihat wajah-wajah muda yang baru mengikuti BST, saya selalu berkata: “Jangan anggap ini formalitas. Anggap ini bekal hidupmu.” Karena pada akhirnya, keselamatan bukan hanya soal diri sendiri, tetapi soal siapa pun yang berbagi geladak yang sama.
BST adalah kompas yang memastikan kita tidak tersesat di tengah badai darurat. Ia bukan sekadar sertifikat yang menggantung di dinding. Tetapi, pengetahuan melekat di tubuh, refleks yang menyelamatkan nyawa, dan budaya yang menegakkan martabat pelaut.
Jika kita ingin menjadi bangsa maritim terhormat, mulailah dengan hal paling mendasar, yaitu memastikan setiap insan laut terlatih untuk selamat. Sebab tanpa keselamatan, kita tidak mampu melanjutkan pelayaran.














Tinggalkan Balasan