Tiga Cucu, Lautan Syukur Mengalir

Tiga Cucu, Lautan Syukur Mengalir
Sumber Foto : AI

Tiga Cucu, Lautan Syukur Mengalir. Sore itu tak ada yang luar biasa di langit, matahari menggantung tenang, dan angin laut bertiup perlahan seperti biasa. Tapi di dalam diri saya, terasa ada sesuatu yang bergerak, semacam syukur mendalam yang perlahan naik ke permukaan. Saya merasakan, ibarat riak ombak yang menyentuh lambung kapal yang telah lama berlayar. Hari itu, dua cucu perempuan kami lahir. Kembar. Sehat. Cantik. Dan kebahagiaan kami pun mengalir seperti air pasang, penuh dan mengharukan.

Putri sulung kami kini telah menjadi ibu. Di sampingnya, menantu saya berdiri canggung tapi bahagia, memandang dua sosok mungil yang baru saja hadir di dunia. Di pojok ruangan, cucu laki-laki kami, anak pertama mereka, memegang boneka sambil memandangi adik-adiknya. Mendadak ia menjadi seorang kakak. Dalam sekejap, keluarga kecil mereka bertumbuh. Dan, saya pun sulit menjelaskan perasaan hati, antara haru, syukur, dan kebanggaan.

Lima bulan lagi, saya akan menyelesaikan pengabdian saya di Pelindo, tempat saya menambatkan hidup selama hampir 26 tahun. Setelah, sebelumnya saya habiskan waktu 10 tahun sebagai pelaut. Dalam karier saya sebagai pandu kapal, saya sudah membantu begitu banyak kapal besar berlabuh dengan aman. Namun hari ini saya menyadari, pelayaran terpenting dalam hidup saya adalah membawa keluarga ini mengarungi waktu dan tantangan. Untuk, menuju dermaga yang bernama kebahagiaan.

Kelahiran dua cucu sekaligus di saat menjelang pensiun, seperti isyarat yang lembut dari kehidupan. Bahwa, masa depan tetap menjanjikan, bahwa ada musim baru yang selalu menunggu. Bila sebelumnya saya terbiasa memberi dan bekerja, kini saya belajar menerima, berkelindan tulus dan syukur. Menerima cinta cucu, kedewasaan anak-anak, pengertian pasangan, dan kelegaan dari dalam diri sendiri.

Anak kami yang kedua kini duduk di bangku kelas tiga SMA. Ia tumbuh menjadi remaja yang bertanggung jawab dan semakin matang cara berpikirnya. Melihatnya, saya sering merenung, bahwa peran orang tua bukanlah mengarahkan segala jalan hidup anak. Tetapi, sebagai kompas agar mereka mampu menemukan arahnya sendiri.

Anak pertama kami telah menjadi orang tua, dan yang kedua bersiap menuju gerbang dewasa. Hati saya terasa penuh. Apa yang dulunya menjadi mimpi kini telah menjelma kenyataan. Hidup ini terasa lengkap, bukan karena harta yang saya kumpulkan, tetapi karena cinta yang tumbuh dan menyelimuti perjalanan kami.

Saya sadar, tak sedikit orang memandang pensiun dengan cemas. Mereka takut kehilangan peran, rutinitas, atau bahkan pengakuan. Tapi, hari ini saya paham, penghargaan sejati justru datang dari mereka. Yaitu pelukan cucu, senyum anak, pasangan yang setia, serta hati damai menerima perubahan.

Apa yang akan saya lakukan setelah pensiun? Entahlah. Mungkin saya akan lebih banyak menulis, seperti yang telah saya lakukan beberapa tahun lalu. Atau, saya akan mengajak cucu-cucu saya berjalan sore, lalu bercerita tentang laut dan kapal. Untuk sekedar mengenalkan, bahwa kakeknya sahabat angin dan gelombang. Mungkin juga, saya akan duduk tenang di beranda rumah seraya memandangi langit sore. Sembari saya panjatkan doa ke langit, agar anak cucu tumbuh dalam keberanian dan kelembutan.

Bagi saya, pensiun bukanlah akhir dari pelayaran. Ia hanya pergantian haluan, dari layar pekerjaan ke layar makna, serta rutinitas ke kebersamaan. Dan kini, dengan tiga cucu di sisi kami, arah kapal kehidupan ini tampaknya telah menuju dermaga yang bercahaya. Saya tak lagi takut. Sebab saya tahu, layar ini tak pernah saya bentangkan sendirian.

Tentu saja, perjalanan hidup tidak selalu sejuk dan tenang layaknya laut di pagi hari. Ada saat-saat di mana hati gelisah menyergap. Tentang, bagaimana masa depan anak-anak hendak berjalan. Perihal, kondisi kesehatan saat usia bertambah, atau bagaimana saya menyesuaikan diri ketika tak lagi berseragam. Tak lagi berdiri di atas anjungan, dan tanpa memegang radio pandu yang akrab tergenggam bertahun-tahun.

Pernah suatu waktu, dalam kesunyian malam, saya bertanya lirih dalam hati: “Siapakah saya tanpa pekerjaan ini?”
Namun perlahan, kehidupan menjawab lewat cara-cara sederhana. Mulai gelak tawa cucu yang memenuhi rumah, lantunan doa ke telinga dari istri setiap malam, hingga percakapan hangat di meja makan. Dari sanalah tumbuh kesadaran, bahwa jati diri tidak selalu oleh jabatan dan seragam. Melainkan oleh cinta yang hadir dari orang-orang terdekat.

Saya mulai menyadari, sebagaimana musim berganti, begitu pula fase kehidupan. Dan, di setiap transisinya, hadir peluang menumbuhkan nilai-nilai abadi. Yaitu, kehadiran yang utuh, hubungan yang erat, serta ketulusan tanpa pamrih.
Hari-hari ini, saya belajar menemukan bahagia dari hal-hal sederhana. Mengayun cucu hingga terlelap, menemani anak bungsu menyiapkan masa depannya, atau berbagi makna dengan istri sambil dalam keheningan.

Barangkali saya tak lagi memandu kapal-kapal besar menuju pelabuhan, tetapi saya tetap bisa menakhodai keluarga ini. Menjaga arah, membaca situasi, dan memastikan semua tiba di dermaga dengan selamat.

Karena kesejatian pelaut adalah, bahwa ia tidak pernah berhenti mengarungi samudra. Ia hanya berpindah dari samudra luas dunia, ke samudra paling dalam, yaitu samudra cinta di dalam rumah.