“Menulis adalah berlayar dengan kata-kata, menavigasi lautan pikiran, dan menambatkan pengalaman hidup agar tak hanyut oleh waktu.” (W.A. Prihartanto)
Setiap orang punya pelabuhan untuk pulang. Ada yang menemukannya dalam doa, ada yang menambatkannya dalam keluarga, ada pula yang menjadikannya capaian karier. Bagi saya, pelabuhan itu bernama menulis. Ia bukan sekadar aktivitas menuangkan kata-kata di atas kertas. Tetapi, juga sebuah perjalanan jiwa, layaknya pelaut yang menakhodai kapal di tengah samudera luas.
Saya sering merumuskan menulis dengan satu kalimat sederhana namun sarat makna. “Menulis adalah berlayar dengan kata-kata, menavigasi lautan pikiran, dan menambatkan pengalaman hidup agar tak hanyut oleh waktu.” Definisi ini lahir bukan dari teori buku semata. Namun, berasal dari pengalaman panjang sebagai seorang praktisi kepelabuhan yang terbiasa hidup berdampingan dengan laut dan segala misterinya.
Menulis: Layarnya Pikiran
Ketika kapal hendak berangkat, ia membutuhkan layar. Tanpa layar, kapal hanya akan terombang-ambing, tanpa arah, tanpa tujuan. Layar itulah pikiran saya. Menulis adalah cara saya membuka layar, membiarkan angin pengalaman, pengetahuan, dan emosi mendorongnya.
Tentu, layar bisa robek, tali bisa kusut, bahkan arah angin tak selalu bersahabat. Begitu juga dengan menulis. Ada masa di mana saya merasa kata-kata enggan keluar, ide buntu, dan hati kehilangan semangat. Namun, justru di situlah letak seni menulis, menemukan cara agar kapal tetap melaju, meski angin tidak selalu berpihak.
Gelombang adalah Tantangan
Laut selalu menghadirkan gelombang, kadang kecil, kadang besar, bahkan badai. Bagi penulis, gelombang itu hadir dalam bentuk keraguan. “Apakah tulisanku bermakna? Apakah ada yang mau membaca?” Pertanyaan-pertanyaan itu sering menerpa, seperti hempasan ombak di buritan.
Namun, saya belajar bahwa kita tidak perlu menakuti gelombang, melainkan untuk dilalui. Menulis menjadi latihan keberanian menghadapi ketidakpastian. Sama seperti pelaut yang tidak bisa memilih laut yang selalu tenang, penulis pun tidak bisa menunggu keadaan sempurna. Menulis harus tetap berlangsung, meski kata-kata terseok-seok, meski hati masih bimbang.
Menulis sebagai Peta dan Kompas
Dalam pelayaran, peta dan kompas adalah penunjuk arah. Tanpanya, kapal bisa tersesat. Dalam menulis, saya menemukan bahwa nilai dan pengalaman hidup adalah peta, sedangkan refleksi adalah kompasnya.
Setiap pengalaman hidup, baik manis maupun pahit, bisa menjadi titik koordinat. Ada pengalaman tentang keluarga, pekerjaan, perjumpaan dengan orang-orang, hingga momen kecil yang kadang tampak sepele. Semua itu perlu pemetaan, untuk memberi arah tulisan. Lalu, refleksi membantu menentukan ke mana arah kapal tulisan ini hendak berlayar. Apakah menuju pulau inspirasi, dermaga pengetahuan, atau sekadar pantai ketenangan.
Menulis sebagai Warisan
Ada satu hal yang membuat menulis begitu penting bagi saya, ia adalah warisan. Laut mengajarkan bahwa jejak kapal di ombak hanya sesaat, hilang tertelan arus. Melalui menulis kata-kata, ia bisa menetap lebih lama. Anak, cucu, bahkan orang yang tidak pernah mengenal saya, tetap mampu membacanya.
Menulis membuat pengalaman saya tidak hanyut. Ia menjadi jangkar yang menahan kenangan agar tidak tenggelam. Setiap kata adalah titipan untuk generasi berikutnya. Mereka akan tahu pada saatnya, bahwa pernah ada seorang pelaut yang mencoba menafsirkan dunia lewat tulisan.
Menulis sebagai Cermin
Namun, menulis tidak selalu untuk orang lain. Kadang, menulis adalah cermin bagi diri sendiri. Dalam hening, saya menuliskan kegelisahan, rasa syukur, bahkan amarah yang tak terucapkan. Kata-kata menjadi pantulan, memperlihatkan siapa sebenarnya diri saya.
Banyak orang berkata, “Menulis itu untuk berbagi.” Saya setuju, tapi menulis juga adalah cara untuk mengenali diri sendiri. Seperti pelaut yang menatap laut dan bertanya dalam hati, “Ke mana sebenarnya aku berlayar?” Menulis memberi kesempatan untuk bertanya hal-hal yang paling dalam, dan kadang, menemukan jawabannya di antara baris-baris kalimat.
Menulis Sebagai Perlawanan Sunyi
Dunia kita penuh dengan kebisingan. Media sosial bagaikan teriakan pedagang yang memenuhi pelabuhan, suara mesin kapal, dan hiruk pikuk wisatawan. Di tengah keramaian itu, menulis bagi saya adalah bentuk perlawanan sunyi. Saya memilih duduk, menulis pelan, dan melawan arus cepat yang sering membuat orang kehilangan makna.
Tulisan mungkin tidak langsung mengubah dunia, tapi ia bisa mengubah satu hati. Dan perubahan selalu berawal dari satu. Sama seperti riak kecil yang lama-lama menjelma ombak besar. Tulisan sederhana mampu menyentuh lebih jauh dari yang pernah saya bayangkan.
Menulis: Perjalanan yang Tak Pernah Usai
Seperti laut yang tak bertepi, menulis pun tidak mengenal akhir. Setiap kali saya menutup satu tulisan, saya sadar masih banyak ruang untuk dijelajahi. Selalu ada ide baru, ada pertanyaan baru, ada cerita baru. Menulis membuat saya terus bergerak, tak pernah merasa cukup, tapi juga tak pernah ingin berhenti.
Saya teringat pepatah pelaut, “Pelabuhan tidak membuat kapal berdiam diri.” Begitu pula menulis, ia tidak tercipta untuk disimpan dalam folder pribadi. Ia harus berlayar, menemui pembaca, meski mungkin hanya satu atau dua. Yang penting, ia berlayar.
Penutup
Menulis, bagi saya, adalah berlayar dengan kata-kata. Ia bukan sekadar hobi, apalagi keterampilan. Menulis adalah perjalanan jiwa, sebuah cara untuk menavigasi lautan pikiran, menambatkan pengalaman, dan meninggalkan warisan.
Jika suatu hari kapal saya benar-benar berhenti berlayar di lautan nyata, saya berharap kata-kata ini akan tetap berlayar. Mereka akan menjadi kapal kecil yang menyeberangi generasi, membawa pesan sederhana. Bahwa, hidup adalah perjalanan, dan menulis adalah cara untuk merekamnya.















Tinggalkan Balasan