Pensiun datang tanpa suara gaduh. Ia tidak mengetuk pintu dengan keras, tidak pula membawa seremoni panjang. Suatu hari, status itu resmi berlaku, dan sejak saat itu hidup terasa seperti bergeser satu langkah ke sisi yang berbeda. Tidak lebih rendah, namun lain arah.
Lebih dari dua dekade saya mengabdi di dunia birokrasi. Struktur mengatur hidup saya bertahun-tahun, rapat, target, dan tanggung jawab. Dalam waktu sepanjang itu, identitas saya tumbuh menyatu dengan pekerjaan. Jabatan bukan sekadar posisi, tetapi cara orang lain dan pribadi mengenal saya.
Ketika masa itu selesai, pertanyaan yang paling sering datang bukan dari orang lain, melainkan dari batin sendiri. Setelah ini, saya akan menjadi siapa?
Saya bersyukur tidak sepenuhnya terjatuh ke ruang kosong. Selepas pensiun, saya tetap berkegiatan di dunia pendidikan dan pelatihan profesional. Peran-peran itu saya jalani secara paruh waktu. Tidak menuntut seluruh energi, tetapi cukup memberi makna. Terpenting bagi saya, ia memberiku sesuatu yang selama bertahun-tahun terasa mahal, yaitu waktu bersama keluarga.
Di fase ini, saya mulai merasakan kemewahan yang dulu nyaris tak pernah saya sadari. Duduk lebih lama di rumah. Mendengar cerita tanpa tergesa. Hadir sepenuhnya tanpa pikiran terbelah oleh pekerjaan. Hidup terasa lebih pelan, tetapi justru lebih utuh.
Lalu, di suatu hari yang biasa, sebuah pesan datang. Seorang kawan lama—yang masih aktif bekerja—menyampaikan kabar tentang sebuah tawaran. Posisi puncak di sebuah perusahaan besar, di sektor strategis, di luar pulau tempat saya tinggal. Ia menyebut nama saya. Sang Teman menganggap rekam jejak saya masih relevan. Ia meminta saya menghubungi seorang mantan atasan yang saat itu berada di lingkaran pengambil keputusan.
Saya terdiam. Tawaran itu, harus saya akui, tidak kecil. Prestisenya nyata. Tantangannya menggoda. Adanya pengakuan, ada gema lama yang kembali bergetar, perasaan dibutuhkan, dipercaya, dan dihargai. Bagi banyak orang, inilah yang disebut kesempatan emas, terlebih datang setelah masa pensiun.
Namun bersamaan dengan itu, ada pertanyaan lain yang muncul, lebih pelan, tetapi lebih jujur. Apakah saya benar-benar ingin kembali ke ritme hidup seperti dulu?
Saya membayangkan kembali hari-hari yang padat, tekanan target, dan jarak fisik yang harus kutempuh. Saya membayangkan agenda dan tuntutan yang kembali mengatur hidupku. Bukan karena saya tidak mampu, saya tahu persis kapasitas saya. Tetapi, karena saya mulai menyadari bahwa kemampuan bukan lagi satu-satunya ukuran.
Pada usia tertentu, prestise tidak berdiri sendiri. Ia selalu datang bersama harga. Dan sering kali, saya harus membayar harga kehadiran kita di rumah, di meja makan, dan di momen-momen kecil yang sulit berulang.
Selama ini kita menganggap bahwa menolak tantangan adalah bentuk kemunduran. Bahwa berkata “tidak” berarti takut. Padahal, di fase hidup tertentu, keberanian justru terletak pada kemampuan untuk menimbang, bukan sekadar menerima.
Saya belum menghubungi siapa pun hingga kini. Bukan karena menutup pintu, tetapi karena ingin jujur sepenuhnya pada diri sendiri sebelum membuka percakapan apa pun. Saya belajar bahwa tidak perlu menjawab semua peluang, dan tidak harus mengambil semua tawaran agar kita tetap bernilai.
Pensiun, saya sadari, bukan akhir dari peran. Ia justru membuka ruang untuk peran yang selama ini sering terpinggirkan. Yaitu, sebagai pasangan, orang tua, dan anggota keluarga yang hadir secara utuh.
Jika dulu jabatan mengukur hidup saya, kini saya belajar mengukurnya dari kehadiran. Dari seberapa sering saya bisa pulang tanpa membawa beban pekerjaan, dan duduk tanpa rasa bersalah karena tidak sedang “mengejar sesuatu”.
Prestise bisa datang kapan saja. Tetapi waktu, terutama bersama orang-orang terkasih, tidak pernah mau menunggu. Pada akhirnya, hidup bukan sekadar tentang apa yang pernah kita raih, tetapi tentang apa yang kita wariskan. Bukan dalam bentuk jabatan, melainkan dalam cara memaknai pilihan.
Generasi setelah kita mungkin tidak akan mengingat nama perusahaan tempat kita bekerja. Bahkan titel apa yang pernah melekat di kartu nama. Tetapi, apakah kita hadir saat mereka membutuhkan, bilamana kita punya waktu untuk mendengar, dan bagaimana kita berani memilih dengan sadar, bukan sekadar mengikuti arus.
Ada masa dalam hidup ketika pencapaian tidak lagi diukur dari seberapa tinggi kita melangkah, melainkan seberapa dalam kita berakar. Dari sanalah ketenangan menurun, nilai menitip, dan kebijaksanaan mewaris. Thus, bukan lewat petuah keras, tetapi lewat teladan diam-diam.
Menolak sebuah prestise bukan berarti menolak tanggung jawab. Kadang justru sebaliknya, itu adalah cara paling jujur untuk bertanggung jawab atas hidup sendiri.
Jika tulisan ini kelak dibaca oleh mereka yang sedang mendekati persimpangan serupa, semoga ia tidak mendorong ke satu arah tertentu. Cukuplah ia menjadi penanda sunyi bahwa dalam hidup, selalu ada pilihan yang sah untuk berkata cukup, dan tetap merasa utuh.
Sebab pada akhirnya, prestise akan pudar oleh waktu. Namun keputusan yang diambil dengan kesadaran akan menjelma warisan yang mengalir pelan, dan tinggal lebih lama.















Tinggalkan Balasan