Sebuah Wawancara Imajiner dengan Ibu

Sebuah Wawancara Imajiner dengan Ibu
Wawancara Imajiner (Sumber Foto: Pixabay)

Guru Bukan Beban, tapi Cahaya Bangsa

Ada sebuah rumah tua di kota kecil Pacitan, Jawa Timur. Di dalamnya, waktu seolah berhenti. Di dindingnya tergantung foto lama ayah dan ibu saya, keduanya pensiunan guru SD. Foto lama sekaligus saksi bagaimana dedikasi tulus mereka menyalakan pelita pengetahuan bagi ratusan anak di kampung nelayan dan petani.

Beberapa tahun sudah keduanya berpulang, tetapi jejak mereka masih begitu kuat. Saya, anaknya, tak pernah bisa melepaskan identitas sebagai putra dari guru. Karena itu, ketika beberapa waktu lalu saya membaca pernyataan Ibu Sri Mulyani. Sang Menteri Keuangan Republik Indonesia menyebut guru sebagai “beban negara”, hati saya bergetar. Ada luka, ada kecewa, ada juga marah yang tertahan.

Saya membayangkan, seandainya ibu masih hidup, apa yang akan beliau katakan mendengar kalimat itu?

Sebuah Percakapan Imajiner

Dalam benak, saya mencoba menghidupkan kembali sosok Ibu. Duduk di kursi rotan, mengenakan kebaya sederhana, dan senyumnya teduh seperti biasa.

Saya: “Bu, dengar kabar ini? Menteri menyebut guru sebagai beban negara. Bagaimana perasaan Ibu?”
Ibu (dalam imajinasi): “Nak, jangan kecewa dulu. Guru bukanlah beban, guru adalah cahaya. Gaji kami memang dari uang negara, tapi jasa kami tak terhitung dalam rupiah. Coba lihat, siapa yang mengajari seorang menteri hingga bisa membaca dan berhitung? Bukankah itu guru?”

Saya: “Tapi, Bu, tidakkah ucapan itu merendahkan perjuangan Ibu dan Ayah?”
Ibu: “Nak, jabatan sering membuat orang hanya melihat angka di atas kertas. Sedang guru, hidupnya adalah tentang menanam. Kami menanam nilai, menanam sabar, menanam cinta. Yang tumbuh bukanlah uang, tapi manusia. Itu yang sering alpa. Menyebut guru sebagai beban, mungkin karena mereka lupa menghitung cahaya.”

Luka Guru dan Keluarga

Bayangan percakapan itu membuat saya sadar, ucapan seorang pejabat bisa menyayat hati jutaan keluarga guru di seluruh Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari kota besar hingga dusun terpencil, guru-guru telah berkorban banyak hal. Mulai waktu, tenaga, bahkan kesehatan, demi memastikan generasi bangsa tidak buta huruf, tidak buta peradaban.

Apakah mereka layak disebut “beban”?

Saya teringat masa kecil. Ibu saya berangkat mengajar dengan sepeda onthel, menyusuri jalan berbatu, bahkan ketika hujan deras mengguyur. Ia membawa kapur, buku catatan, dan semangat yang tak pernah padam. Di sekolah, ia bukan hanya mengajar membaca atau berhitung, tetapi juga mendidik kami untuk jujur, disiplin, dan berani bermimpi.

Apa yang ia tanam saat itu masih tumbuh hingga hari ini. Saya bisa menulis, berbicara, dan mengabdi sebagian karena bimbingan Ibu. Dan saya yakin, setiap dari kita punya kisah serupa, seorang guru yang pernah mengubah jalan hidup kita.

Melihat Guru sebagai Investasi

Seorang Menteri Keuangan tentu terbiasa dengan istilah investasi. Namun, mungkin beliau lupa bahwa guru adalah bentuk investasi terbesar sebuah bangsa. Mereka bukan beban, melainkan modal utama untuk melahirkan generasi unggul.

Negara-negara maju selalu menempatkan pendidikan dan guru sebagai prioritas. Finlandia, misalnya, memuliakan profesi guru hampir setara dengan dokter dan insinyur. Di Jepang, hanya kehormatan Kaisar yang lebih tinggi dari guru.

Indonesia seharusnya belajar dari itu. Jika kita menganggap guru sebagai beban, bagaimana mungkin generasi emas 2045 bisa terwujud? Bagaimana mungkin kita berharap pada bonus demografi jika menganggap fondasi pendidikan sebagai pengeluaran, bukan investasi?

Suara Ibu Guru yang Tak Pernah Padam

Seandainya Ibu masih ada, saya yakin beliau akan menutup percakapan imajiner kami dengan nasihat sederhana namun mendalam:

“Nak, jangan lelah membela kebenaran. Guru tidak pernah mati, karena mereka hidup di hati murid-muridnya. Gaji mungkin kecil, tetapi warisan ilmu jauh lebih besar nilainya daripada angka di APBN. Katakan pada siapa pun, guru adalah pelita, bukan beban.”

Dan benar, kata-kata itu terus bergema dalam diri saya.

Refleksi untuk Kita Semua

Hari ini, saya ingin mengajak siapa pun yang membaca tulisan ini untuk merenung, apakah kita sudah cukup menghargai guru? Bukan hanya dengan ucapan terima kasih, tetapi juga dengan kebijakan yang berpihak, penghormatan sosial, dan dukungan moral.

Jika seorang Menteri bisa keliru dalam ucapannya, maka kita sebagai masyarakat tidak boleh ikut-ikutan menganggap remeh. Sebaliknya, kita harus berdiri di sisi guru, membela martabat mereka, dan mengingatkan bahwa tanpa guru, tak ada bangsa.

Penutup

Ibu saya memang sudah tiada, tetapi semangatnya tetap ada. Semangat seorang guru yang percaya bahwa mendidik adalah tugas suci, bukan sekadar pekerjaan.

Maka biarlah tulisan ini menjadi suara kecil dari seorang anak guru, yang tidak ingin ibunya dan jutaan guru lain sebagai beban. Karena sejatinya, guru adalah cahaya yang menerangi jalan bangsa.

Dan bagi mereka yang masih menganggap guru sebagai beban, izinkan saya menutup dengan kalimat ini:

“Kalau guru adalah beban, maka seluruh bangsa ini berdiri di atas beban. Namun jika guru adalah cahaya, maka bangsa ini sedang berjalan menuju terang.”

Catatan Kaki

  1. OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), Education at a Glance 2023: OECD Indicators. Paris: OECD Publishing, 2023. → Menegaskan bahwa negara-negara dengan kualitas guru yang tinggi memiliki indeks pembangunan manusia lebih baik.
  2. UNESCO Global Education Monitoring Report (2022). Menyebutkan bahwa investasi pada guru adalah “the single most important factor” dalam peningkatan kualitas pendidikan di negara berkembang.
  3. Finnish National Agency for Education (2019). Menjelaskan bagaimana Finlandia menempatkan profesi guru setara dengan dokter dalam hal prestise dan seleksi ketat.
  4. Michael Fullan (2011), The Moral Imperative of School Leadership. New York: SAGE Publications. → Menekankan bahwa guru adalah “moral purpose carriers” dalam membentuk masa depan bangsa.
  5. UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Republik Indonesia), Pasal 8. → Menyatakan bahwa guru adalah tenaga profesional. Memiliki tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.