Kepribadian itu Bawaan
Sejak kecil, aku selalu mendengar kata-kata yang berulang dari orang-orang di sekitarku: “Kamu memang pemalu sejak lahir,” atau, “Sifat keras kepalamu itu sudah takdir.” Di masa itu, aku tidak berpikir untuk menentang apa yang mereka katakan. Aku merasa seperti terpetakan dalam sebuah peta kehidupan yang kaku, kepribadianku sudah ada sejak aku lahir.
Namun, saat aku memasuki usia remaja, ada peristiwa yang mulai mengguncang keyakinanku. Itu berawal saat aku pertama kali bertemu Dani, teman sekelas di SMA yang menjadi sosok paling berlawanan denganku. Aku adalah gadis yang pendiam, lebih suka duduk di pojok kelas dengan buku, sementara Dani adalah pusat dari setiap keramaian, sosok yang ceria dan penuh tawa. Setiap kali dia berbicara, semua orang mendengarkan. Ada kehangatan yang ia pancarkan, sebuah karisma yang membuat orang ingin mendekat.
Awalnya, aku berpikir bahwa Dani memang terlahir seperti itu. “Dia beruntung,” pikirku, “Dia terlahir dengan kepribadian yang menarik.” Tetapi suatu hari, saat kami berbincang di perpustakaan, dia bercerita tentang masa kecilnya. Dani mengungkapkan bahwa dia sebenarnya adalah anak yang pemalu, bahkan cenderung introvert saat SD. Ia sering kali merasa takut untuk berbicara di depan umum dan selalu menghindari perhatian. Aku terkejut. Bagaimana bisa orang seperti Dani, yang begitu percaya diri, dulunya pemalu?
“Perubahan itu mungkin,” katanya. “Aku tidak suka jadi anak yang takut bicara. Jadi, aku memutuskan untuk berubah. Aku mulai memaksa diriku untuk berani berbicara di depan umum, walaupun gemetaran. Aku ikuti kegiatan teater, ikut klub debat. Itu sulit di awal, tapi perlahan, aku merasa lebih nyaman dengan diriku sendiri.”
Ternyata …
Perkataan Dani menggema di pikiranku. Jika dia bisa berubah, apakah artinya aku juga bisa? Apakah mungkin kepribadian kita bukanlah sesuatu yang sepenuhnya tetap, bukan sesuatu yang segaris dengan takdir?
Setelah mendengar cerita Dani, aku memutuskan untuk mencoba. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku tidak harus selamanya menjadi si pemalu yang selalu menyendiri. Aku mulai dengan hal-hal kecil, seperti berbicara lebih sering dalam kelompok belajar. Awalnya canggung, tapi kemudian menjadi lebih mudah. Aku juga mencoba untuk mengambil peran kecil dalam drama sekolah. Meskipun gemetar di panggung, aku berhasil menyelesaikan peran pertamaku, dan saat tepuk tangan terdengar, ada sesuatu yang berubah di dalam diriku.
Semakin aku mencoba, semakin aku merasa kepribadianku tidak lagi terikat oleh label yang menempel sejak kecil. Aku sadar, kepribadian bukanlah takdir. Ini lebih seperti jalan setapak yang bisa kita pilih, ubah, dan kembangkan. Dani mengajarkan aku bahwa kita memiliki kekuatan untuk membentuk siapa kita dan bagaimana dunia ingin melihat kita.
Dalam hidup, kita mungkin terlahir dengan kecenderungan tertentu, namun siapa kita pada akhirnya adalah hasil dari pilihan yang kita buat, usaha yang kita lakukan, dan keberanian kita untuk berubah. Aku belajar bahwa setiap langkah kecil menuju perubahan, meskipun tampak tidak signifikan, bisa membawa dampak besar dalam perjalanan hidup kita.
Perjalanan ini membuatku berpikir lebih dalam tentang seberapa besar peran usaha dan lingkungan dalam membentuk kepribadian kita. Ternyata, bukan hanya bakat alami atau genetik yang mempengaruhi siapa kita, tetapi juga pengalaman hidup, pengaruh dari orang-orang di sekitar kita, serta tekad kita untuk menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Keberanian Dani untuk melawan rasa takutnya adalah contoh nyata bahwa perubahan selalu mungkin terjadi jika kita berani mengambil langkah pertama.
Akhirnya …
Sebuah buku yang pernah kubaca mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang terus berproses. Tidak ada yang benar-benar selesai, karena kita selalu bergerak, belajar, dan beradaptasi. Kepribadian kita bisa berkembang dan berubah seiring berjalannya waktu. Kita tidak harus selamanya terjebak dalam kerangka yang dipaksakan oleh masyarakat atau bahkan oleh diri kita sendiri.
Masa-masa sekolah menengah itu menjadi titik balik dalam hidupku. Aku tidak lagi merasa kepribadian yang kupunya adalah sesuatu yang pasti atau tak bisa diubah. Aku mulai percaya bahwa siapa aku, siapa kita, bisa dibentuk melalui pilihan-pilihan kecil yang kita ambil setiap hari. Pilihan untuk berani, untuk mencoba hal baru, atau sekadar untuk keluar dari zona nyaman bisa mengubah cara kita melihat diri sendiri dan dunia di sekitar kita.
Pada akhirnya, bukan takdir yang membentuk siapa kita. Kita sendirilah yang mengendalikan kepribadian kita, dan setiap langkah yang kita ambil adalah bagian dari proses untuk menjadi versi terbaik dari diri kita.















Tinggalkan Balasan