Kala Alam Menggugat Kuasa Manusia

Kala Alam Menggugat Kuasa Manusia
Sumber Foto : Pixabay

Kala Alam Menggugat Kuasa Manusia. Pulau Lalang merupakan sisa keajaiban terakhir dari negeri Lestara, sebuah negeri yang dulu tersohor dengan keselarasan rakyatnya dengan alam. Dari ketinggian, pulau ini tampak seperti permata hijau yang mengapung di tengah lautan, berhias hutan bakau yang teduh. Sekelilingnya, tampak pantai melengkung bak bulan sabit, dan laut sejernih kaca yang memperlihatkan karang berwarna-warni keluar dari dasarnya. Di pulau kecil itu, hidup komunitas nelayan, petani kelapa, dan peramu laut yang menjaga warisan leluhur dengan kesetiaan.

Sayangnya, “potensial” keindahannya menggelitik Raja Dirgantara, sang penguasa negeri yang terpikat oleh ambisi pribadi. Ketika tawaran datang dari luar negeri untuk membangun Ocean Glory Resort dan pelabuhan ekspor tambang, Raja langsung menyambutnya. Ia ingin dikenang sebagai tokoh besar pembawa kemajuan, tak peduli pada bisikan alam atau suara rakyat.

“Pulau Lalang akan menjadi permata negeri ini! Ikon pariwisata dan ekonomi!” serunya dalam pertemuan istana.

Tak seorang pun berani menyanggah. Tetapi, justru mengabaikan suara terpenting, yaitu suara warga Pulau Lalang.

Suara yang Terpinggirkan

Loru, remaja delapan belas tahun, cucu dari Nenek Lela sang penjaga adat. Ia telah belajar sejak kecil tentang bahasa angin, isyarat laut, dan cara menjaga harmoni antara manusia dan alam. Ia tumbuh besar dengan nilai bahwa tanah bukan milik, melainkan titipan.

Saat alat-alat berat dan pagar besi tiba di pulau, Loru berdiri bersama para tetua dan warga lain, menolak dengan sopan namun tegas. Mereka mengajukan protes, mempersembahkan lukisan anak-anak, dan mengirim doa kepada leluhur. Namun, tangisan mereka tak terdengar.

“Ini tanah milik negara,” ujar Pangeran Raditya dengan senyum meremehkan. “Kalian seharusnya bersyukur akan hidup dalam modernitas.”

Lalu perusakan pun tetap berlangsung. Penebangan bakau, penggalian pantai, dan penghancuran karang untuk dermaga. Nelayan kehilangan ikan, air tawar mulai tercemar, dan penyakit menyebar di antara anak-anak. Malam di pulau menjadi ganjil. Angin seakan mengeluh. Daun-daun berbisik lirih. Loru mendengar suara-suara saat memejamkan mata. Ia seolah mendengar ratapan leluhur dan nyanyian kuno sebagai pengingat.

“Alam tak menyimpan dendam, tapi ia punya cara mengajarkan luka.”

Teguran dari Langit

Pada malam tanpa bulan, badai dahsyat melanda, angin menderu, ombak mengamuk, dan langit terbelah oleh kilat. Proyek hancur. Dermaga patah. Bangunan megah runtuh sebelum usai. Petir menyambar menara kaca tempat Pangeran Raditya menginap. Ia selamat, tapi terbangun dalam kegelapan abadi, matanya tak lagi melihat. Sejak itu, hanya satu suara yang menghantuinya, deru ombak yang tak kunjung hening.

Sang Raja sendiri jatuh sakit. Tubuhnya melemah. Di malam hari, ia merasa seperti terapung di laut lepas, gelisah dan limbung. Ia memanggil tabib, tapi tak ada yang sanggup menyembuhkan kecemasan hatinya. Dalam mimpi, akar-akar bakau mengejarnya, dan terperosok ke dasar laut. Akhirnya, Raja memanggil Loru ke istana.

Menebus Dosa pada Alam

Loru datang dengan sederhana, mengenakan kain tua dan kalung kerang warisan neneknya. Di hadapan Raja yang dulu angkuh, ia berdiri tanpa gentar.

“Yang Mulia,” ujarnya pelan namun tegas, “ini bukan murka rakyat, bukan kutukan. Ini jeritan pulau yang terluka. Ketika keserakahan melukai alam, ia akan bicara dengan caranya sendiri.”

Kata-kata itu menghunjam. Untuk pertama kalinya, Raja Dirgantara merasa tak berdaya di hadapan kebenaran yang tak terbantahkan. Lalu, lahirlah keputusan besar:

  • Menghentikan seluruh proyek.
  • Mengembalikan hak atas tanah kepada masyarakat Pulau Lalang.
  • Keluarga kerajaan melepaskan hak istimewanya dan hidup setara dengan rakyat, di bawah adat lokal.
  • Dewan Rakyat menerima kepemimpinan negeri, mewakili suara yang dulu diredam.

Raja turun takhta. Ia memilih hidup sederhana di pinggir bukit Pulau Lalang. Mengisi hari-harinya dengan menanam pohon dan menulis puisi penyesalan.

Pulau yang Terlahir Kembali

Bertahun-tahun berlalu. Hutan bakau tumbuh lagi. Karang kembali hidup. Laut memancarkan cahaya. Tawa anak-anak terdengar lagi di pesisir, dan angin kini membawa kabar damai, bukan keluhan.

Loru bukan ratu, tapi penjaga. Ia tak menguasai, hanya memastikan bahwa tanah, laut, dan manusia tetap berjalan seiring.
Sementara itu, Raditya alias “Radit”, duduk saban sore di bibir pantai, mendengarkan suara laut. Meski ia tak bisa lagi melihat, ia belajar mendengar dengan hati. Dan dari situ, ia mulai memahami.

Pulau Lalang perlahan tak lagi menangis

Meski waktu terus melaju, tak semua luka pada alam bisa sembuh secepat manusia mengucap penyesalan. Di sejumlah penjuru Pulau Lalang, masih tampak bekas-bekas kerusakan. Dari pohon yang tak lagi tumbuh, mata air yang tak sejernih dahulu, hingga karang yang belum kembali bersinar penuh warna. Namun dari setiap jejak luka, muncul kisah baru. Itu adalah tentang ikhtiar memperbaiki, kesungguhan untuk belajar, dan keberanian untuk mengakui kekeliruan.

Kini, Loru kerap terlihat duduk sendirian di atas batu besar, menatap luasnya laut. Ia tak lagi menanti keajaiban, tak pula berharap mendengar bisikan arwah leluhur. Ia hanya diam, membuka diri untuk mendengar suara alam yang tak pernah memaksa. Mungkin, itulah yang dulu luput dari para pemimpin, kesabaran untuk mendengar sebelum bertindak.

Sesekali Radit, yang kini menanggalkan gelarnya, datang menyusul. Tak banyak kata yang mereka tukar, hanya keheningan yang terasa lebih tulus dari ribuan janji di ruang kekuasaan.

Pulau itu kini tak lagi bersedih, tapi juga tak bersorak. Ia diam, bernapas, dan terus ada, seolah ingin menyampaikan, “Aku tak meminta iba. Cukup perlakukan aku dengan hormat.”

Mungkin, di balik setiap kisah tentang kehancuran, ada babak yang belum rampung. Potongan sunyi yang menggantung di pikiran kita, menanti keputusan generasi berikutnya. Apakah mereka mengulang kerusakan yang sama, atau belajar mendengarkan diam yang pernah tersia-siakan.

Pulau Lalang tak menuntut banyak. Hanya agar setiap langkah yang menapaki tanah ini mengingat satu hal, bahwa di sini, pernah mengalir air mata. Dan setiap tunas yang tumbuh, tumbuh dari proses maaf yang tak pernah mudah.

Makna Cerita:

Alam adalah sahabat setia yang memberi tanpa pamrih. Tapi bila terus disakiti, ia akan bersuara. Dan dalam cerita ini, keadilan tak datang lewat senjata atau kemarahan, melainkan lewat keberanian seorang gadis yang bersedia menyuarakan kebenaran saat yang lain memilih diam.