Menakar Kembali Laut Sebagai Ruang Pikir
Laut tidak pernah menjanjikan kepastian, ia hanya membuka ruang kemungkinan. Sebagai pelaut dan pandu kapal, saya belajar bahwa laut tidak bisa tertaklukkan. Kita hanya bisa memahami dan menghargai, dengan mengikuti ritmenya. Dari sanalah saya belajar, jangan percaya buta pada satu arah. Justru pertanyakanlah yang menjadi kompas sejati, “Apakah ini jalur terbaik?” “Apakah kita benar-benar menuju utara?”
Laut melatih saya untuk tidak mengandalkan kompas semata, tetapi juga membaca tanda-tanda alam. Begitu juga dengan hidup. Termasuk bagaimana kita menyerap ilmu pengetahuan, memperlakukan dogma, dan memaknai realitas sosial. Di zaman serba cepat ini, saya resah melihat penerimaan pengetahuan secara mentah, hanya karena datang dari institusi atau tokoh besar. Padahal Pelaut paham, bahkan GPS-pun bisa menyesatkan ketika badai mengacaukan sinyal.
Laut adalah universitas paling jujur yang pernah saya kenal. Ia mengajarkan skeptisisme yang sehat. Ketika seseorang menyatakan bahwa bumi bulat, saya menerima, namun sekaligus mempertanyakan. Mengapa kapal bisa menghilang di cakrawala? Sebuah argumen yang mendukung teori bumi datar. Ketika arah utara sebagai acuan, saya bertanya, “Utara siapa?” Berdasarkan medan magnet? Atau berdasarkan peta warisan kolonial?
Pertanyaan seperti ini bukan untuk menolak sains, tapi untuk menjaga agar ia tidak menjelma menjadi dogma. Dalam pelayaran, justru mereka yang terlalu yakin pada satu arah tanpa keraguan, malah paling berisiko karam.
Dari Laut Menuju Lintasan Pikir
Sebagai bangsa maritim, kita sering menggaungkan jargon “kembali ke laut.” Namun, yang sering terlupakan adalah kembali pada cara berpikir laut. Kita sibuk membangun pelabuhan, menghidupkan tol laut, dan menjual wisata bahari. Tapi, kenyataannya justru luput merefleksikan bagaimana laut membentuk nalar kita sebagai manusia Indonesia.
Kita mengangkat “kearifan lokal” dengan bangga, tanpa pernah bertanya ulang. Apakah semua yang lokal itu bijak? Apakah semua warisan leluhur layak berlanjut, tanpa diuji dengan nalar? Di laut, saya belajar bahwa kearifan bukanlah sesuatu yang beku. Ia dinamis, lahir dari perjumpaan manusia dengan alam yang terus berubah.
Oleh karena itu, warisan maritim harus selalu terbuka untuk dibaca ulang, ditafsirkan kembali, dan bila perlu, diperbarui. Di atas kapal, setiap keputusan mempertimbangkan banyak variabel, arus, angin, cuaca, jenis muatan, kesiapan kru, bahkan intuisi. Itulah mengapa nalar maritim bersifat lentur, tidak biner, dan tidak kaku. Ia cair namun tetap terarah.
Multinaturalitas: Menyelami Keberagaman dari Laut
Kita sering bangga dengan keberagaman budaya, dan menyebut diri bangsa multikultural. Tapi laut mengajarkan bahwa keragaman bukan hanya soal manusia. Keragaman juga hadir dalam cara manusia memaknai alam. Inilah yang disebut multinaturalitas, gagasan bahwa bukan hanya budaya yang beragam, tetapi juga alam dan pemahaman terhadapnya.
Nelayan dari pesisir utara Jawa bisa punya tafsir musim yang berbeda dari pelaut di Sulawesi. Pengetahuan tentang bintang, gelombang, atau arah angin tidak satu versi. Itulah kekayaan nalar laut. Ia tidak menyamaratakan realitas, melainkan merayakan keunikan tiap komunitas dalam berinteraksi dengan alam.
Sebagai contoh, waktu di darat bersifat linier dan kaku, sedangkan waktu di laut berkontekstual dengan angin dan cuaca. Itulah sebabnya, birokrasi darat yang kaku sering kali gagal memahami dinamika di wilayah perairan. Maka, jika kita sungguh ingin menjadi bangsa maritim, seharusnya kita mulai membangun cara berpikir yang lebih adaptif dan kontekstual laut.
Melindungi Nalar dari Pembekuan
Keresahan ini tidak hanya milik saya. Banyak pelaut, nelayan, dan insan maritim lainnya merasa bahwa cara kita berpikir tentang laut, sains, dan kebenaran telah menjauh dari kenyataan. Kita terbiasa menerima satu versi kebenaran yang “dianggap” final. Kita jarang didorong untuk bertanya. Padahal, di laut, tidak ada satu kebenaran mutlak yang bisa bertahan lama tanpa diuji ulang oleh arus dan badai.
Esai ini adalah catatan awal dari serial Navigasi Nalar Maritim. Sebuah upaya kecil dari seorang pandu kapal yang ingin berbagi peta pemikiran. Alih-alih melalui ruang seminar, melainkan melalui dek kapal, dermaga, dan gelombang kehidupan. Saya tidak membawa kesimpulan mutlak, tetapi hanya menawarkan cara baru melihat.
Karena bagi saya, navigasi nalar adalah pelayaran yang terus berlanjut. Tak akan pernah benar-benar sampai, dan mungkin memang tidak perlu sampai.















4 Comments