Langit pagi masih redup ketika Kapten Bima menaiki kapal kargo MV Aurora Sea yang bersandar di dermaga Pelabuhan Tanjung Perak. Meskipun matahari belum sempurna terbit, koordinasi harus segera mengalir sejelas siang hari.
Kapten Bima, seorang Perwira Pandu berpengalaman, para juniornya mengenalnya sebagai pandu bergaya bicara singkat, meski tegas. Kalimat seperti “Kiri cikar… mesin stop… terus begitu…” mungkin terdengar seperti potongan perintah tak lengkap bagi pendengar kebanyakan. Namun bagi Nakhoda, Juru Mudi, dan Awak Tunda, kata-kata itu adalah panduan presisi, penentu lancar tidaknya olah gerak kapal.
Mengalun Bersama Irama Istilah
Dalam dunia pelayaran, tidak ada ruang untuk penjelasan panjang saat membutuhkan aksi cepat. Itulah sebabnya istilah seperti “Maju Pelan Sekali”, “Maju Penuh”, “Mundur Setengah”, atau “Kanan Cikar” menjadi bagian vital komunikasi. Bukan hanya kumpulan kata, melainkan arahan yang lahir dari pemahaman mendalam, refleks terlatih, dan intuisi yang tajam terhadap dinamika perairan.
Kapten Bima bukan hanya menguasai makna teknis, tetapi memahami konteks di balik setiap istilah. “Kanan Cikar” bisa menjadi upaya pembebasan ruang gerak kapal; “Mesin Stop” seringkali digunakan untuk mengevaluasi reaksi kapal sebelum manuver lanjutan. Saat ia menyatakan “Terus begitu”, itu artinya semua personel harus menyatukan pemahaman untuk mempertahankan arah dan kestabilan kapal.
Tali-Tali yang Penuh Makna
Tanggung jawab Pandu tidak selesai saat kapal bergerak. Pengetahuan tentang penalian kapal menjadi bagian tak terpisahkan dari perannya. Kapten Bima takkan meninggalkan dek sebelum memeriksa apakah “spring depan” sudah mengunci gerakan longitudinal kapal, atau “tros belakang” telah menahan gaya dorong dari arus pelabuhan.
Baginya, tali tambat bukan sekadar pengikat fisik, tapi simbol komitmen terhadap keselamatan. Saat memerintahkan “breast line kencang”, ia sedang menjaga keseimbangan antara kapal dan dermaga. Ini merupakan sebuah koordinasi diam, dan penuh tanggung jawab.
Bahasa yang Menghidupkan Kendali
Kapten Bima memahami bahwa dalam pemanduan, setiap istilah harus disampaikan dengan keyakinan. Tak ada ruang untuk kata-kata kosong atau ragu-ragu. Ia pernah menasihati Pandu muda:
“Memahami istilah belum cukup. Kita harus tahu waktu dan alasan untuk menggunakannya.”
Inilah seni sejati kepanduan. Perwira Pandu merangkai istilah teknis menjadi arahan yang hidup dan tepat guna dalam dunia yang bergerak cepat dan penuh risiko.
Akhir yang Tenang, Tapi Penuh Makna
Hari itu, MV Aurora Sea keluar dari pelabuhan dengan mulus. Tak ada sorak sorai. Hanya radio yang sunyi dan anggukan kecil dari Nakhoda sebagai bentuk penghormatan.
Kapten Bima tahu, keberhasilan bukan dari banyaknya kata yang ia ucapkan. Tapi, melalui akurasi setiap kalimat yang berlandaskan pengalaman, kehati-hatian, dan rasa tanggung jawab. Di dunia maritim, Perwira Pandu adalah pemimpin dalam diam. Ia bertugas mengatur simfoni kapal dengan istilah yang mungkin singkat, tapi bermakna dalam.
Dan, bila simfoni itu bermain dengan benar, pelayaran akan berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh hormat. Karena seni memandu kapal, pada dasarnya merupakan keahlian yang tak selalu tampak di permukaan.
Antara Instruksi dan Intuisi
Tak semua perintah singkat berarti mudah dilaksanakan. Ketika Kapten Bima mengatakan “Maju Setengah” di mulut sungai yang sempit, itu bukan sekadar perintah kecepatan. Di balik instruksi itu, tersimpan perhitungan terhadap pantulan gelombang dari dinding dermaga. Dan, hembusan angin yang memengaruhi haluan kapal hingga jeda antara gerak mesin dan respons lambung kapal.
Ia pernah berpesan kepada seorang Pandu muda:
“Satu kata yang keliru bisa membawa kapal terseret arus, bahkan menghantam sisi pelabuhan.”
Istilah seperti “Mundur Pelan Sekali” atau “Mesin Stop” biasanya muncul di detik-detik krusial. Saat semua orang cemas dan waktu terasa sempit, justru saat itu Pandu harus jadi yang paling tenang. Sebab ketepatan lebih penting daripada kecepatan.
Membaca Setiap Pergerakan
Kapten Bima tak pernah mengandalkan kebiasaan. Setiap kapal memiliki karakteristik unik. Masing-masing pelabuhan punya cerita tersendiri. Saban hari membawa tantangan berbeda. Ia menyimpan catatan kecil di sakunya. Catatan tangan yang sarat pengalaman. Di mulai dari skema alur pelabuhan, kekuatan arus, hingga gaya manuver kapal yang pernah ia pandu.
Baginya, menjadi Pandu bukan hanya soal menguasai teori, tapi terus belajar dari praktik. Ia tahu bahwa “Kiri Cikar” di kapal bermesin ganda tak sama maknanya dengan kapal bermesin tunggal. Ia hafal pola gerak kapal tunda yang setia menunggu instruksi. Melalui radio, ia berbicara dalam bahasa ringkas, dan hanya mereka yang menyatu dengan lautan, mampu menjabarkannya.
Pandu: Pengarah di Balik Layar
Banyak yang tak menyadari bahwa kapal yang bersandar rapi atau bergerak mulus keluar pelabuhan, adalah hasil dari kalimat tepat waktu. Dunia melihat kapal bergerak, tapi tidak selalu melihat siapa yang menjaga agar semuanya tetap terkendali.
Kapten Bima tidak butuh sorotan. Tapi setiap kata yang ia ucapkan, tali yang ia periksa, adalah bagian dari tanggung jawab yang tak terlihat mata publik.
“Bukan seberapa keras kita memberi perintah,” ujarnya pada satu malam kepada juniornya, “tapi seberapa tepat dan tanggung jawab kita mengucapkannya.”
Di antara gelombang dan waktu yang tak pernah berhenti, Perwira Pandu adalah penjaga keseimbangan, juru bahasa laut, dan pengendali. Ia membisikkan arah dengan keyakinan penuh, tanpa harus berteriak.















Tinggalkan Balasan