Merawat Percakapan Tanpa Menang

Merawat Percakapan Tanpa Menang
Debat Sengit (Ilustrasi by OpenAI)

Setiap hari kita menyaksikan orang saling berbicara, tetapi jarang benar-benar saling mendengar. Media sosial riuh oleh perdebatan, podcast berlomba melontarkan pernyataan paling tajam, dan debat televisi kerap berubah menjadi adu suara. Semua ingin tampil meyakinkan, sedikit yang bersedia memahami. Percakapan pun kehilangan maknanya, sejak ia lebih sering melahirkan luka daripada jembatan.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan etika berkomunikasi. Ia mencerminkan cara baru kita memandang kebenaran. Banyak orang tidak lagi mencarinya bersama, melainkan membawanya sebagai senjata. Yang cepat dianggap cerdas, yang keras dinilai berani, dan yang mampu menjatuhkan lawan mendapat panggung lebih luas. Dalam situasi semacam ini, percakapan berhenti menjadi ruang dialog dan berubah menjadi arena pembuktian diri.

Dunia digital ikut menyuburkan pola tersebut. Algoritma bekerja tanpa nurani. Emosi tinggi mendatangkan perhatian, konflik panjang menghasilkan keterlibatan, dan pernyataan ekstrem memancing respons cepat. Perlahan, kita terbiasa merespons sebelum memahami, menyanggah sebelum mendengar, dan menyimpulkan sebelum merenung. Kecepatan mengalahkan kebijaksanaan.

Kebiasaan itu tidak berhenti di layar gawai. Ia merembes ke ruang-ruang paling personal. Di meja makan, anggota keluarga berbicara sambil menatap ponsel. Di ruang kerja, diskusi berubah menjadi adu argumentasi. Bahkan dalam lingkar persahabatan, orang sering mendengar hanya untuk menunggu giliran bicara. Kita hadir secara fisik, tetapi absen secara batin.

Padahal, percakapan yang paling manusiawi justru tidak lahir dari keinginan untuk menang. Ia tumbuh dari kesediaan memberi ruang. Mendengar hingga tuntas, menahan diri untuk tidak memotong, dan menerima kemungkinan bahwa sudut pandang kita tidak selalu lengkap. Dan, kesemuanya menuntut kedewasaan batin. Mendengar bukan tindakan pasif, karena ia laku aktif yang memerlukan keberanian menurunkan ego.

Dalam banyak tradisi kebijaksanaan, penempatan kemampuan berbicara kerap melampaui kemampuan mendengar. Orang bijak memahami bahwa kata-kata mudah terucap, tetapi kehadiran sejati jarang nyata. Mendengar berarti hadir sepenuhnya. Ia menuntut kesabaran, empati, dan kerendahan hati. Dengan mendengar, kita mengakui keberadaan orang lain sebagai manusia utuh, bukan sekadar lawan wacana.

Ironisnya, ruang publik kita justru miskin kualitas semacam itu. Diskursus yang tenang dianggap membosankan. Percakapan yang saling memahami jarang mengundang sorotan. Padahal, membangun peradaban tidak berasal dari suara paling keras, melainkan kemampuan kolektif dalam mengelola perbedaan tanpa saling meniadakan.

Merawat percakapan tanpa menang, karena itu, bukan sikap menghindari kritik atau konflik. Ia merupakan bentuk perlawanan sunyi terhadap budaya kebisingan. Sebuah ikhtiar untuk mengembalikan dialog pada hakikatnya, yaitu sarana pencarian makna bersama. Kita bisa memulainya dari hal paling sederhana, memberi jeda sebelum merespons, bertanya sebelum menyanggah, dan mengakui keterbatasan diri.

Dalam fase hidup, ketika jabatan dan sorotan mulai mereda, kita menyadari satu hal penting, bahwa kemenangan debat jarang meninggalkan kehangatan. Yang bertahan justru percakapan yang tulus. Percakapan yang tidak berambisi menaklukkan, tetapi bersedia menemani. Tidak merasa paling benar, tetapi ingin saling mengerti.

Pada titik itulah percakapan kembali menjadi laku batin. Kita belajar menurunkan volume ego dan meninggikan suara nurani. Dalam kesediaan mendengar, kita menemukan bahwa kebenaran tidak selalu hadir lewat kata-kata paling lantang. Ia kerap menyapa lewat jeda, lewat diam, lewat kesanggupan untuk tidak segera menjawab.

Sebagaimana para pejalan sufistik yang memahami bahwa sunyi bukan kekosongan. Mereka mengajarkan untuk belajar satu hal sederhana dan mendalam. Yaitu, bahwa percakapan paling jujur justru lahir ketika kita berhenti ingin menang, dan mulai sungguh-sungguh ingin memahami. Di sanalah dialog menemukan cahaya, dan manusia menemukan kembali arah pulangnya.

Namun jalan pulang itu tidak selalu terang. Ia sering sunyi, sepi dari tepuk tangan, dan jauh dari sorotan. Merawat percakapan tanpa menang menuntut kita berjalan melawan arus zaman yang gemar merayakan kepastian instan. Ia meminta kesabaran di tengah dunia yang serba tergesa, serta keberanian untuk tidak selalu tampil dominan. Dalam sunyi itulah, ujian kita, apakah ia benar-benar ingin memahami, atau sekadar ingin diakui.

Di titik tertentu, mendengar bahkan terasa lebih berat daripada berbicara. Sebab mendengar memaksa kita berhadapan dengan kenyataan bahwa kebenaran tidak pernah sepenuhnya berada di satu sisi. Mendengar membuka kemungkinan bahwa pengalaman orang lain sah, meski tidak selalu sejalan dengan keyakinan kita. Dan di situlah ego sering terusik.

Para pejalan batin memahami ini sebagai proses penyucian. Mereka belajar bahwa diam bukan kekalahan, melainkan ruang pengendapan makna. Dalam diam, kata-kata tersaring. Ketika jeda, emosi melunak. Saat mendengar, hati bersih dari keinginan untuk selalu unggul. Percakapan pun naik derajat, dari sekadar pertukaran kata menjadi perjumpaan jiwa.

Jika ruang publik kita hari ini terasa panas dan saling meniadakan, barangkali yang kurang bukanlah kecerdasan, melainkan kelapangan. Kelapangan untuk menampung perbedaan tanpa tergesa menghakimi. Kelapangan untuk membiarkan percakapan berjalan tanpa harus segera berakhir dengan kesimpulan.

Merawat percakapan tanpa menang, pada akhirnya, adalah ikhtiar kecil yang berdampak panjang. Ia mungkin tidak mengubah algoritma, tidak pula menurunkan volume kebisingan dunia. Namun, ia menjaga sesuatu yang jauh lebih mendasar, artinya kemanusiaan kita sendiri. Dalam kesediaan mendengar, kita merawat nurani. Dalam keengganan untuk menang, kita belajar menjadi hamba, kapan waktu berbicara, dan kapan cukup diam dengan penuh makna.