Waktu seperti berlari dalam diam. Rasanya baru kemarin aku memulai karier, berdiri canggung di depan meja kerja pertama. Kenakan kemeja yang sedikit kebesaran, meski dengan semangat yang nyaris tak tertampung. Sekarang, hanya tersisa sembilan bulan sebelum lembar baru bernama pensiun terbuka.
Bukan sebuah garis akhir, melainkan titik jeda yang mengajakku merenung. Kutengok ke belakang, bukan untuk menyesali, tapi untuk mengingat dari mana semuanya bermula. Akhir pekan itu, aku memutuskan untuk pulang ke tempat yang pernah membentukku, yaitu Pacitan. Kota kecil yang bagi anak kecil sepertiku dulu, terasa sangat luas dan penuh petualangan.
Tujuan pertama adalah Pantai Teleng Ria. Dulu, pantai ini adalah surga kecilku. Lautnya seperti tak berbatas, pasirnya menjadi karpet petualangan, dan anginnya seolah berbisik hanya pada anak-anak. Di sinilah aku berlari bersama teman-teman, bermain layang-layang, dan mencicipi rasa bahagia yang paling murni. Bermula dari pantai ini, aku belajar bahwa kebahagiaan bisa sesederhana kaki telanjang di atas pasir.

Langkahku kemudian membawa ke SD Arjosari, tempat aku pertama kali duduk di bangku kayu panjang. Mulai belajar mengeja namaku, hingga berdiri gemetar membaca puisi di depan kelas. Sekolah ini mengajarkanku dasar kehidupan, tentang keberanian, tentang tertib, dan tentang menghargai perbedaan.

Perjalanan berlanjut ke SMP PGRI, tempat masa remajaku mulai bersemi. Di sini, pelajaran hidup tak hanya datang dari buku, tapi dari interaksi. Tentang persahabatan, tentang rasa malu, bahkan tentang diam-diam menyukai teman sebangku. Saat itulah, benih mimpi mulai tumbuh: bahwa anak dari kota kecil pun boleh berharap besar.

Kemudian aku menyusuri lorong SMAN 1 Pacitan, tempat yang mulai mengasah ketegasan arah. Aku belajar tentang kompetisi, kerja keras, dan pentingnya fokus. Di sinilah aku mulai menata rencana, mengukur diri, dan memutuskan untuk tidak menyerah walau hidup tak selalu mudah.

Kini, ketika aku berdiri di ambang masa pensiun, aku tersadar. Bahwa, setiap fase hidupku adalah kelanjutan dari langkah kecil di Pacitan. Dari pasir pantai yang mendamaikan hati. Dan, bangku SD yang menumbuhkan dasar, lorong SMP yang penuh cerita, hingga kelas SMA yang memperjelas cita-cita.
Aku telah menjalani hidup sebagai pekerja, pasangan, dan menjadi orangtua. Kesemua peran itu tak mungkin aku lakoni dengan utuh, tanpa pijakan masa kecil yang kokoh.

Sembilan bulan lagi, aku akan menutup bab panjang sebagai pegawai aktif. Tapi hari ini, justru terasa seperti aku pulang. Bukan ke sebuah tempat, tapi ke versi paling jujur dari diriku sendiri. Terima kasih, Pacitan. Terima kasih untuk segala kenangan yang membuatku tetap utuh hingga hari ini.
Dalam perjalanan kembali dari Pantai Teleng Ria, aku menyusuri gang-gang kecil yang dulu akrab dengan ban sepeda tuaku. Beberapa bangunan masih tegak berdiri, walau tampilannya telah berubah dan penghuninya pun berbeda. Warung bu Soginem, tempatku dulu sering membeli es lilin sepulang sekolah, kini telah beralih fungsi menjadi rumah tinggal. Namun, wangi kenangan itu tetap terasa. Sesekali menyelinap lembut dari tiap sudut jalan dan menyapa ingatan masa kecilku.
Aku pun singgah sejenak di rumah lama. Meski sudah bukan milik keluarga, halaman dan suasananya masih akrab. Pohon mangga di sudut belakang tampak lebih besar, barangkali sudah puluhan kali berbuah. Aku tersenyum sendiri, mengingat betapa bangganya aku dulu saat berhasil memanjat hingga ke pucuk. Aku merasa seolah jadi penakluk dunia, meski hanya untuk beberapa menit.
Di bawah pohon itu, aku dulu sering duduk diam. Waktu itu aku belum tahu apa itu merenung. Mungkin hanya menatap langit, mendengar desir angin. Dan, atau membayangkan menjadi orang penting suatu hari nanti. Lucunya, hal-hal yang dulu tampak seperti khayalan anak kecil, kini pelan-pelan menjelma jadi kenyataan.
Kini aku hidup bersama keluargaku. Pendamping yang setia, anak-anak yang telah tumbuh, dan seorang cucu yang mulai ramai bertanya ini itu. Pola hidup seolah berulang, namun dalam pengulangan itulah terkandung makna. Hidup berjalan seperti lingkaran, dan keindahannya ada pada tiap titik yang membentuknya.
Dulu, aku sempat cemas memikirkan masa pensiun. Tapi kini, aku justru melihatnya sebagai anugerah. Waktu yang dulu selalu terasa terbatas, sebentar lagi akan terbuka lebar untuk kuisi sesuka hati. Mungkin aku akan lebih sering kembali ke Pacitan, menikmati angin pagi dari teras rumah. Waktu kan kuhabiskan untuk berjalan di pasir pantai bersama cucu. Atau, sekadar mengenang masa lalu dengan senyum tenang.
Aku tak ingin terjebak dalam nostalgia, tapi aku percaya bahwa mengenang adalah cara menghargai perjalanan. Semua yang kulalui, jerih payah, doa, kegagalan dan pencapaian, itulah yang membentukku. Sembilan bulan ke depan, sebuah babak akan tertutup, dan lembar baru siap menyambut.
Tapi hari ini, di Pacitan, aku merasa lengkap. Seolah lingkaran hidupku telah mencapai bentuknya yang utuh. Terima kasih masa kecil, masa muda, dan semua perjalanan. Kini aku siap menjalani masa tenang dengan hati yang penuh syukur.















1 Comment