Sinopsis
Esai ini bercerita tentang keseharian di kosan yang sederhana. Pagi dengan secangkir kopi, suara burung di atap, dan kesunyian kamar kecil. Namun, satu rasa yang tak pernah hilang, yaitu rindu rumah. Melalui narasi reflektif, penulis mengisahkan bagaimana kosan menjadi ruang belajar, sementara kerinduan pada rumah dan keluarga menjadi energi untuk bertahan. Pahit kopi dan sempitnya ruang justru menghadirkan renungan mendalam bahwa rindu adalah anugerah. Dan, ia menjadikan kepulangan lebih bermakna. Sebuah kisah ringan, hangat, dan menyentuh tentang rumah, jarak, dan kerinduan.
***
Rindu Rumah di Pagi Kosan. Pagi selalu datang dengan cara yang sederhana. Matahari tidak pernah mengetuk pintu, ia masuk begitu saja melalui celah jendela kosan yang sudah mulai buram kacanya. Sinar menerobos meja kecil tempat secangkir kopi mengepulkan asap, menyorot tumpukan buku-buku, dan memantul di dinding yang mulai memudar.
Aku menyeruput kopi itu pelan. Rasa pahitnya berpadu dengan suasana pagi yang hening. Hanya terdengar suara burung gereja di atap dan dengungan kipas angin yang sudah setia menemani bertahun-tahun. Dalam keheningan itu, ada satu rasa yang selalu hadir, rindu rumah.
Kosan, Ruang Singgah yang Jadi Dunia
Kosan adalah rumah kedua, meski tidak pernah benar-benar menjadi rumah. Kamar kecil dengan kasur tipis, lemari tua, dan jendela yang langsung menghadap jalan. Di sinilah aku menata hari-hari, menumpuk mimpi, dan menanggung sepi.
Setiap pagi rutinitasnya sama, bangun, merapikan tempat tidur seadanya, lalu menyeduh kopi sachet yang rasanya kadang terlalu manis, kadang pahit. Dari kursi plastik sederhana, aku memandang keluar jendela, memperhatikan lalu-lalang motor-motor, orang-orang gegas bekerja, mahasiswa berangkat kuliah.
Kosan mengajarkan satu hal, bagaimana hidup tetap berjalan dengan segala keterbatasan. Dari kamar sempit, aku belajar menghargai ruang. Mulai, dapur bersama yang sering antri, aku belajar menunggu. Dan, teman sekosan yang berganti-ganti, aku belajar menerima pertemuan dan perpisahan sebagai hal biasa.
Rindu Rumah yang Tidak Pernah Hilang
Meski kosan mengajarkan banyak hal, rasa rindu rumah selalu menjadi tamu setia di setiap pagi.
Aku merindukan aroma dapur rumah. Saat istri menyiapkan sarapan sederhana, nasi goreng dengan telur mata sapi, atau hanya tempe goreng yang masih hangat. Aku merindukan suara anak yang memanggil dari ruang tamu, menanyakan kabar sebelum aku berangkat. Aku merindukan suara riuh saudara, bercanda dan saling berebut remote televisi.
Di kosan, semuanya terasa berbeda. Sarapan hanya mie instan atau roti tawar. Berkelindan suara tetangga kos yang tidak begitu kukenal, serta ruang keluarga berganti dengan kamar sempit yang sunyi.
Rindu itu sering hadir tanpa undangan, kadang membuat dada sesak, kadang justru menjadi alasan untuk bertahan. Bukankah kita bekerja keras di rantau, menanggung rindu, justru demi rumah tempat kita ingin pulang?
Pagi Sebagai Jeda Renungan
Pagi di kosan memberiku ruang untuk merenung. Tentang perjalanan yang sudah kutempuh, mengenai alasan kenapa harus merantau, dan perihal mimpi yang ingin aku raih.
Kopi yang kusesap seolah bicara, hidup memang tidak selalu manis, tapi selalu punya rasa. Begitu juga dengan kosan, meski sering membuatku rindu, ia tetap bagian dari perjalanan. Tempat di mana aku belajar menata diri, mengatur keuangan, membangun kemandirian, dan menemukan arti sederhana dari kebersahajaan.
Rindu rumah bukanlah kelemahan. Ia justru pengingat bahwa aku punya tempat pulang, memiliki orang-orang yang menungguku, dan memegang alasan untuk terus melangkah.
Ritual Kecil yang Menyimpan Makna
Setiap orang punya cara masing-masing untuk mengatasi rindu. Ada yang menelpon keluarganya setiap pagi, hadir dengan mengisi kosan dengan tanaman kecil, atau dengan menempel foto keluarga di dinding.
Aku memilih kopi. Ritual menyeduh kopi di pagi hari di kosan menjadi penghubung tipis dengan rumah. Seakan-akan setiap kepulan asap itu adalah doa yang kukirimkan, setiap seruputan adalah cerita yang kubisikkan dari jauh.
Kadang, aku sengaja membiarkan diriku hanyut dalam rindu itu. Karena rindu juga bisa jadi energi, pengingat bahwa apa yang kulakukan di rantau ini bukanlah sia-sia.
Penutup: Rindu yang Membuat Pulang Bermakna
Ketika cangkir kopi pagi itu habis, aku menatap ampas di dasarnya. Hidup di kosan pun seperti itu. Meski sederhana, penuh keterbatasan, dan sering memunculkan rindu, selalu ada makna yang tersisa.
Rindu rumah memang tidak pernah hilang, tapi justru di situlah keindahannya. Rindu membuat pulang jadi lebih berarti. Tanpa rindu, mungkin rumah hanyalah bangunan biasa. Dengan rindu, rumah menjadi tempat hati kembali.
Aku menutup pagi dengan keyakinan baru. Hari-hari menjalani hidup di kosan, meski jarak memisahkan, rumah selalu ada dalam dada. Dan kelak, ketika semua perjalanan ini berakhir, aku memahami satu hal. Bahwa, tak ada kopi paling nikmat selain yang kuminum di meja makan rumah, bersama orang-orang yang kucintai.















Tinggalkan Balasan